Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Hanya Air Mata


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Narayan melihat keluarga Fikri keluar dari rumah Aruna, sepertinya acara lamaran Aruna sudah selesai. Bu Salamah menghampiri Narayan, menawarkan menginap di rumahnya bersama Fikri, namun Narayan tolak karena Nara memberi alasan bahwa dirinya sudah menyewa hotel.


Tidak bisa dibayangkan jika dirinya harus tidur dengan saingannya, seseorang yang Nara tidak kenal menikungnya, menikung pujaan hatinya.


Keluarga Fikri pulang, Abah dan Ibu Aruna menghampiri Narayan, menyuruh Narayan masuk, tapi Narayan beralasan hanya sebentar saja karena sudah malam, dirinya sudah menyewa hotel, walaupun sebenarnya belum menyewa hotel, tapi itu urusan nanti.


Aruna keluar dengan wajah sayu, Aruna meminta izin pada Abah dan Ibunya untuk mengobrol sebentar dengan bosnya. Abah yang hanya mengetahui jika Nara dan Aruna hanya sebatas bos dan karyawan mengizinkannya. Terlebih ada Kang Agus juga bersama Nara.


Abah dan Ibu pamit ke dalam, mereka sangat lelah seharian ini ikut 'rewang' diacara nikahan Abidzar.


Aruna menghampiri Nara, mereka duduk berdampingan.


"Saya ke warung sebelah dulu yah," ucap Kang Agus. Ia ingin memberikan kesempatan pada Aruna dan Nara membicarakan tentang permasalahan mereka berdua.


"Jangan lama-lama ya Kang," jawab Narayan. Kang Agus mengangguk lalu bergegas menuju warung sebelah.


Kini hanya ada Aruna dan Narayan di teras depan. Untuk beberapa saat mereka saling diam. Hingga akhirnya Narayan memulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Kamu bahagia kan Na?" tanya Narayan lirih.


Aruna menunduk, air matanya mengalir begitu saja dari sudut matanya hingga membasahi pipinya. Tangisnya tak bersuara namun pilu. Narayan sadar bahwa Aruna menangis.


"Kenapa nangis?"


Aruna menggeleng, "Maafin saya pak Nara, saya tidak menepati janji, saya juga tidak tahu, kenapa malam ini secepat kilat terjadi seperti ini." Aruna menyeka air matanya, ia tidak ingin orangtuanya mengetahui tangisannya.


Narayan menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit teras rumah Aruna, "Kamu datang dengan sebongkah harapan dan menabur rasa di dalam lubuk hati hingga menjadi satu gumpalan menyatu dalam aliran darah, bersenandung seiring detak jantung. Saat cinta menyentuh, hidup seolah semakin berwarna, hari-hari bahagia selalu menghampiri. Senyum merekah menghiasi wajah ini, mata tampak berbinar-binar, langkah kaki terasa penuh arti, dan di hati hanya ada kamu. Tapi mungkin mulai saat ini rasa itu terasa lebur begitu saja Na." Tanpa terasa mata Narayan nampak berkaca-kaca.


"Maafin Aruna, mungkin ini sudah suratan takdirnya seperti ini, bukan kah Allah punya banyak cara untuk menyatukan dan memisahkan yang bukan jodoh." Aruna menunduk lesu, hatinya juga ikut sakit, namun ia tidak mampu untuk mengelak sebuah keadaan saat ini.


Aruna menyadarinya, ia memperbolehkan Narayan menemui Abah dan memperbolehkan Narayan melamarnya, berarti Aruna sudah memberikan sinyal hijau pada Narayan, tapi saat ini entahlah apa yang merasuki fikirannya, dirinya sama sekali tidak bisa menolak keinginan kedua orangtuanya dan keinginan ibunda Fikri.


"Maafkan saya, maafkan saya." Hanya kalimat itu yang bisa Aruna utarakan.


"Astagfirullah." Narayan menutup wajahnya, ia menangis, dadanya sesak. Rasanya seperti baru kemarin saja, ketika dirinya masih begitu dekat dengan Aruna, ketika Aruna masih diharapkan untuk menjadi jodohnya. Tapi hari ini rasanya begitu mengejutkan. Serasa tak ada angin dan tak ada petir, namun tiba-tiba turun hujan yang begitu deras. 

__ADS_1


Sakit sekali rasanya, saat dirinya tak bisa merelakan apa yang telah digariskan oleh Allah SWT.


Aruna menyentuh lengan Narayan, "Maafin saya, saya juga nggak berdaya, jangan sedih, itu akan membuat hati saya semakin sedih." Narayan tetap saja menangis dalam hening, ia masih menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


Perih, patah hati untuk kedua kalinya oleh kedua wanita yang ia cinta, Ibu dan Aruna. Lantas wanita yang seperti apa yang harus Narayan percayai.


"Pak maafin saya." Tangis Aruna akhirnya pecah juga, ia sudah tidak perduli jika kedua orangtuanya mendengarnya. Mendengar Aruna menangis, Narayan langsung mengusap air matanya.


"Sudah jangan menangis, air mata kamu membuat saya semakin terluka. Saya sadar Na, bukan kamu yang menyakiti saya, mungkin ini balasan untuk saya karena banyak menyakiti hati wanita dulunya, ini karma untuk saya."


Aruna menggeleng, "Nggak pak, bapak sudah menjadi manusia yang lebih baik, saya yang salah, saya tidak bisa memenuhi janji saya, maafkan saya."


Keduanya kembali menunduk, merenung, rasanya hanya air mata yang mampu menenangkan hati keduanya saat ini.


Hidup kadang penuh misteri dan kejutannya sendiri. Begitu pula dengan urusan jodoh. Adakalanya sudah merasa menemukan orang yang klik tapi ternyata bukan that right person for you. Atau pernah sama-sama memiliki rasa yang sejalan tapi kemudian harus berpisah karena takdir tak berpihak. Kalau sudah begini, rasanya tak ada jalan lain yang bisa diambil selain berusaha ikhlas dan sabar menerima keadaan dan kenyataan tersebut.


💔Bersambung...💔

__ADS_1


(Yok nangis berjamaah? pernah merasakan seperti Aruna dan Narayan? saling cinta tapi terpisah oleh takdir? gimana rasanya wa... nylekit pastinya🤭)


__ADS_2