
Masuk kantor, Aruna sudah dipanggil HRD, dirinya terkejut ketika pihak HRD memberi tahu bahwa Aruna sudah dipindah tugaskan ke bagian accounting kembali seperti sebelumnya.
Aruna faham, ini pasti keinginan bosnya. Ia hanya tidak menyangka jika laki-laki yang masih singgah dihatinya itu benar-benar ingin jauh darinya.
Ah rasanya ujian demi ujian datang silih berganti. Setibanya di Jakarta semalam, sudah lelah, tapi harus membaca surat yang ia temukan di tasnya yang ternyata dari Ajeng.
Surat beserta foto-foto mesranya dengan calon suaminya. Aruna ingin sejenak melupakan perihal perjodohan itu, ia ingin mencoba menata kembali hubungan baiknya dengan Narayan, tapi nyatanya, belum apa-apa sudah disingkirkan.
Aruna tetap menuju meja sekretaris, tempat biasa ia bekerja. Tempat dimana timbul benih cinta antara dirinya dan bos Nara. Tapi sekarang semuanya itu hanya akan menjadi kenangan.
Aruna merapikan barang-barang yang akan ia bawa menuju tempat kerjanya yang baru. Bukan baru sih, justru tempat kerja yang dulu membuat ia betah berada di kantor Nara.
Selesai merapikannya, Aruna menatap pintu ruangan Narayan. Ada perasaan sedih begitu mendalam karena harus berpisah dengan cara yang tidak biasa. Seperti asing karena takdir yang kurang berpihak pada keduanya.
Aruna ingin sekali bertemu dengan bosnya, untuk meminta maaf kembali, dan berterimakasih karena tidak memecatnya, melainkan memindahkan dirinya di tempat yang membuatnya nyaman.
"Maafkan aku karena hanya menorehkan luka dihatimu Pak," ucap Aruna lirih. Lirih sekali, ia kembali menatap pintu ruangan Nara, karena setelah ini, mungkin akan sulit untuk sekedar menatap ruangannya saja. Hanya orang-orang yang berkepentingan yang bisa memasuki ruang CEO.
__ADS_1
Baru saja Aruna ingin melangkahkan kakinya, suara pintu terbuka terdengar dari ruang kerja Narayan. Aruna melirik kembali ke arah ruang kerja Narayan.
Tepat sekali dua manik mata keduanya saling bertemu. Narayan keluar dari ruang tepat saat Aruna ingin melangkahkan kaki dari tempat kerjanya waktu menjadi sekertaris.
Aruna tersenyum, mencoba menenangkan diri, "Pagi Pak," sapa Aruna seperti biasanya.
"Pa ... gi." Narayan terbata-bata menjawab salam dari Aruna. Jika biasanya sepagi ini dia akan menggoda Aruna, tapi tidak untuk pagi ini dan pagi seterusnya.
"Saya duluan ya Pak." Aruna melangkahkan kakinya, menurutnya menyapa saja sudah sangat cukup.
"Aruna..."
"Maaf..."
Aruna berbalik badan, "Tidak perlu, Pak Nara berhak melakukan apapun di perusahaan bapak. Justru saya sangat berterima kasih pada Bapak, Menjauh adalah pilihan yang tepat saat kita tidak dibutuhkan lagi."
Nara menunduk, "Karena sejauh apapun kamu menjauh, bila hatiku ingin kamu. Aku bisa apa?" Terkadang seseorang menjauh bukan karena ia tak ingin memperjuangkan, tapi ia takut cintanya bertepuk sebelah tangan. Ah masih ringan kalau hanya cinta bertepuk sebelah tangan, kalau takdir jodoh yang bertepuk sebelah tangan, aku hanya bisa menangisi kamu dari sini."
__ADS_1
Mendengar ucapan Narayan membuat hati Aruna pilu. Jujur, Aruna juga merasakan kehilangan yang mendalam, kehilangan kesempatan untuk merajut asa bersama. Saat ini kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku menjauh bukan berarti pergi, aku hanya ingin mengamati, apa yang tak terlihat saat aku tak di sisi kamu. Setiap orang punya waktu untuk menyendiri, bukan karena ingin pergi menjauh, tetapi untuk merenungkan segala hal yang pernah terjadi. Mungkin sebagian kita memang perlu menyudahi untuk 'menjadi diri sendiri', karena mimpi yang kita kejar berulangkali sirna, harapan yang kita ingin gapai malah makin menjauh." Nara mengungkapkan seluruh isi hatinya, padahal dirinya sudah sekuat mungkin untuk tabah menerima situasi yang ada, tapi nyatanya, setelah melihat raga Aruna. Nara tak sekuat yang ia angankan.
Aruna terdiam, ia tidak bisa berkata apapun. Rasanya banyak orang yang berpikir kalau cinta itu selalu berhubungan dengan hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan. Namun tak selamanya hal itu benar. Karena tetap saja cinta bukanlah hal mutlak yang selalu membuat orang senyum ceria. Rasanya tak pernah terbayangkan karena semua harapan yang ia dan Nara bangun runtuh seketika
"Maaf..." Aruna hanya bisa mengatakan itu. Ia lalu pergi ke tempat kerja bagian Accounting. Nara mengusap wajahnya dengan kasar, meremas kepalanya begitu gemas. Kepergian memang selalu memicu rasa sedih ataupun rasa sakit. Sebab segala bentuk perpisahan akan selalu menorehkan luka.
☘️☘️☘️
Adzan Dzuhur berkumandang, sudah saatnya istirahat jam makan siang. Aruna tidak langsung ke kantin melainkan ke mushola dulu untuk melaksanakan salat Dzuhur. Rasanya makan pun tenang jika sudah melaksanakan kewajiban salat.
Sesampainya di mushola, Aruna dikejutkan dengan sosok Nara yang sedang mengimami salat. Aruna sangat bangga dengan perubahan Nara.
Tidak ada yang bisa menghalangi siapapun untuk bertaubat. Siapapun orangnya, sebesar apapun dosanya, dia berhak mendapatkan ampunan Allah dan kasih sayang-Nya, selama dia bersedia untuk bertaubat.
Bahkan Allah sendiri telah menawarkan kepada seluruh hamba-Nya, terutama mereka yang telah hanyut dalam berbagai macam dosa dan maksiat, agar mereka tidak berputus asa untuk mengharapkan rahmat Allah.
__ADS_1
"Semoga kamu selalu Istiqomah pak," gumam Aruna Lirih. Aruna hanya bisa mendoakan, karena mulai detik ini hingga kedepannya, Aruna akan sulit untuk tahu bagaimana perkembangan hijrah bos tampannya itu.
"Aku akan berusaha perjuangkan cinta kita, walaupun tanpa sepengetahuanmu Pak."