Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Siapa? siapa yang akan menerima wanita tidak suci lagi seperti aku mas? siapa? wanita dinilai dari masalalu nya mas, kamu tidak berbekas, sedangkan aku?"


Aruna terbangun dari lamunannya ketika mendengar ucapan Ajeng. Ia benar-benar terkejut. Apa yang Ajeng maksud? Aruna mulai menerka-nerka apakah Ajeng dan Fikri melakukan hal sampai sejauh itu. Aruna menggeleng, ia berusaha menetralkan fikirannya. Ia tidak boleh arogan di depan Ajeng dan Fikri.


"Jangan pesimis seperti itu Jeng, kamu pasti bisa mendapatkan yang terbaik. Aku sudah berusaha memperbaiki diri selama ini, mau bagaimana lagi, aku juga ingin bersama, tapi... orang tua kita sampai saat ini tidak bisa menerima kita. Aku harus apa?"


"Memperbaiki diri apa melarikan diri, aku nggak nyangka kamu sepengecut ini, aku kira setelah setahun kita nggak ketemu, kamu diam-diam memperjuangkanku, tapi ternyata kamu malah memilih sepupu aku sendiri, dimana hati kamu mas." Air mata Ajeng sudah tak terbendung lagi. Air matanya keluar dengan derasnya.


"Ajeng, jangan menangis, kita sedang di rumah Aruna, jangan sampai membuat Aruna dan keluarga Aruna curiga."


"Biarkan saja, biar semua orang tahu."


"Ajeng kita bisa bicarakan baik-baik tapi jangan di sini, besok kita bertemu yah di cafe biasanya yah. Tolong saat ini mengerti, jangan buat keributan dulu, kasihan mas Abidzar juga."


Ajeng mengusap air matanya, ia langsung beranjak dari tempat duduknya, tapi sebelum itu Fikri menahannya, ia ingin tahu berapa nomer ponsel Ajeng agar besok lebih mudah menghubunginya.


Ajeng langsung memberikan nomornya, setelah itu ia bergegas meninggalkan rumah Aruna tanpa pamit. Rasanya sudah tidak kuat lagi jika membicarakan percintaan dengan Fikri hanya akan membuatnya semakin kecewa.


Seperginya Ajeng, Aruna langsung muncul. Ia tersenyum pada Fikri dan meminta maaf karena minumannya baru saja selesai dibuat. Aruna beralasan jika tadi ibunya meminta bantuannya menunggui masakan di dapur.


Fikri mengangguk mengerti, Aruna kini duduk berhadapan dengan Fikri. Ia berpura-pura menanyakan keberadaan Ajeng. Fikri menjawabnya dengan dusta pula, jika Ajeng pulang terlebih dahulu karena ada urusan penting.


Aruna mengangguk, pura-pura percaya. Aruna belum bisa menyimpulkan sepenuhnya tentang Ajeng dan mas Fikri, tentang bagaimana perasaan mereka saat ini, dan tentang hal apa yang akan mereka lakukan.


"Na, bisa tidak kita percepat pernikahan kita jadi 2 minggu lagi saja, rasanya sebulan itu terlalu lama." Permintaan mas Fikri membuat Aruna terkejut. Dilamar mendadak saja sudah membuatnya kaget, apalagi ini, meminta menikah secepatnya.


"Aku sih nggak bisa ngomong apa-apa mas, terserah orang tua saja. Kalau semalam kan sepakatnya satu bulan. Aku juga nanti harus mengurus surat pengunduran diri di kantor Jakarta dulu, dan semua itu ada prosesnya."

__ADS_1


"Nikah secara agama dulu juga nggak apa-apa kok Na, nanti setelah sebulan baru kita nikah secara negara."


"Maaf mas, kenapa terburu-buru seperti itu, mas ada masalah?"


Fikri menggeleng, "Nggak ada, mas hanya takut, mas khawatir kalau kamu kembali lagi ke Jakarta," ucap Fikri dusta. Padahal dirinya tidak ingin sampai pernikahannya dengan Aruna gagal, ia tidak ingin sampai Aruna tahu kalau dirinya pernah memiliki hubungan spesial dengan sepupunya."


"Nggak lah mas, percaya saja sama Aruna." Aruna juga khawatir dengan dirinya sendiri, apakah nanti saat berhadapan dengan bosnya dirinya mampu mengendalikan diri. Aruna sudah mengecewakan Narayan.


"Sarapan di sini yah Fikri." Suara Ibu Aruna mengalihkan pandangan keduanya. Ibu membawa nasi dan lauk pauk yang ia bawa menggunakan nampan besar.


"Maaf bu, fikri jadi merepotkan."


"Weh, ngomong apa kamu, kan nanti bakal jadi mantu ibu, nggak ada kata merepotkan." Aruna melihat raut wajah ibu sangat berseri-seri saat mengucapkan kata mantu.


"Alhamdulillah, seneng banget punya mertua kaya ibu," puji Fikri. Ibu tersenyum, hatinya semakin melambung tinggi dipuji demikian.


☘️☘️☘️


"Tolong pindahkan Aruna ke bagian sebelumnya!" perintah Narayan pada Ardi selaku HRD di perusahaannya. Ardi yang di datangi bos besar pagi ini sangat terkejut, karena tidak biasanya bos besar langsung memutasi seorang karyawan.


"Baik pak."


"Gantikan saya dengan sekretaris pribadi yang lain. Saya mau laki-laki, terutama yang cekatan, dan bisa mengimbangi kinerja saya."


"Siap pak."


"Bagus."

__ADS_1


Narayan lalu bergegas kembali ke kantornya. Sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya, ia menatap meja Aruna terlebih dahulu. Ada rasa sendu tapi lebih besar rasa rindu. Tapi sekuatnya Narayan mencoba menepisnya.


Maafkan aku Na.


Hanya bisa berucap dari hati. Nara ingin membatasi jarak dan interaksi dengan Aruna. Meja yang ia tatap, penuh kenangan dengan Aruna. Tapi ia tidak ingin terlalu menggebu-gebu melupakan Aruna. Makin kuat dirinya mencoba melupakan, justru makin kuat pula mengenangnya dalam ingatan.


Narayan segera masuk ke dalam ruangannya. Ia merebahkan diri di sofa. Badannya masih sangat lelah karena perjalanan semalam. Nara meminta kang Agus untuk menyetir dan membawanya ke Jakarta. Di hotel hanya melaksanakan salat dan berdoa. Nara tidak bisa tidur, ia malah meminta langsung pulang ke Jakarta saja.


Baru saja memejamkan mata sebentar, ia langsung memimpikan Aruna tengah melangsungkan ijab kabul. Hal ini langsung membuatnya terbangun, dadanya terasa sesak, Nara memegangi dadanya, kepalanya menggeleng-geleng.


"Kenapa?" Ia tambah terkejut ketika kakaknya ternyata sudah berasa di meja kerjanya. Nara menggeleng. Ia langsung beranjak dari sofa untuk mengambil minum.


Mimpi tadi benar-benar membuatnya terasa panas. Panas hati tentunya sehingga Nara sampai meneguk air putih beberapa gelas, hal ini membuat kakaknya sampai mengernyitkan dahi melihat adiknya bertingkah seperti itu.


(Emak kembali lagi, setelah sekian lama baru keluar lagi dari goa🤣 maaf yah jadi jarang update, emak lagi sibuk di Real life🙏 eh eh eh, ada kabar baik lhoo, kemarin emak dapat WhatsApp dari Noveltoon, insyaallah novel Batista cafe jomblo akan dirilis menjadi webseries. Semoga saja ada kabar baik selanjutnya yah. Oh ya, emak sekalian ngiklan yah. Punten🙏)


Yang mau order monggo WhatsApp emak yah.


Salam sayang, semoga sehat selalu.


Santy puji




__ADS_1


__ADS_2