
Aruna melirik bosnya, "Cinta, cinta, ngaji dulu, ibadah dulu, perbaiki diri dulu, pengen dapet istri solehah kan? persoleh diri dulu." Narayan terkekeh, Nara kini merasa, dinasehati Aruna itu sudah seperti makanan sehari-hari, aneh rasanya jika sehari saja tidak mendengarkan ceramah Aruna.
Pegawai hotel mengetuk pintu kamar Narayan. Aruna segera membukanya, pasti pegawai hotel mengantarkan bubur yang telah di pesan Aruna. Dan benar saja, Aruna mengambil bubur yang di pesan, lalu kembali menghampiri Narayan.
"Bos, sebelum makan obat, makan bubur dulu." Aruna menyodorkan mangkuk buburnya pada Narayan. Eh si bos malah geleng-geleng.
" Tangan saya lemes Aruna." Aruna mencebikan bibirnya, ini pasti hanya akal-akalan bos saja nih.
Aruna akhirnya duduk kembali di tepi ranjang, mengaduk buburnya agar cepat dingin. Niat hati ingin berlibur mumpung waktu di Bali masih banyak, ini malah harus mengurus bayi kingkong. Aruna terus saja nyrocos dalam hati.
Aruna menyesal, kenapa bisa sampai lupa dengan pesan mbak Hanin. Pak Narayan ini kalau sudah sakit bisa membuat gaduh seluruh isi rumah. Aruna mengira sehatnya saja yang begitu, sakitnya pun ternyata sama saja.
Aruna menyuapi bosnya dengan telaten. Si bos malah cengar cengir. Nara teringat waktu kecil dulu, saat Aruna datang ke rumahnya mengajak bermain dan posisi Narayan sedang makan, pasti Narayan menyuapi Aruna makan. Sekarang sudah dewasa, gantian boleh dong.
"Bos, jadi sakit nggak sih?", tanya Aruna kesal melihat bosnya senyum-senyum saat sedang disuapi olehnya.
"Kalau bisa juga sudah dari tadi saya cancel biar nggak jadi sakit, terus bisa jalan-jalan sama kamu." Jawaban Narayan tak kalah menggelikan dengan pertanyaan Aruna.
__ADS_1
Aruna kembali menyuapi Narayan, sudah lumayan beberapa suap. Narayan menghentikan tangan Aruna agar berhenti menyuapinya, Narayan berkata jika buburnya tidak enak. Tapi Aruna memaksa agar Narayan makan sampai habis.
"Cukup Na, nggak enak." Narayan merapatkan bibirnya sambil menggeleng. Aruna akhirnya meletakan mangkok buburnya di atas nakas.
"Namanya juga lagi sakit, jadi lidahnya sedang Allah cabut nikmatnya. Menurut ilmu tasawuf, kesehatan adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini. Jadi jangan sombong, walaupun bapak selalu membanggakan kekayaan bapak, jika sedang sakit seperti ini, makan daging steak wagyu yang harganya jutaan juga tetap rasanya tidak akan enak," ucap Aruna.
"Bener yah Run, mau punya uang berapapun kalau tidak sehat seperti ini, makan apapun juga nggak enak." Aruna mengangguk lalu memberikan minum untuk bosnya. Narayan tersenyum.
Narayan semakin membayangkan hal yang tidak-tidak melihat sekretaris solehahnya itu mengurusnya begitu baik. Walaupun harus dengan drama-drama perdebatan terlebih dahulu.
"Kenapa senyum-senyum?"
Aruna melotot lalu mencubit lengan Bosnya, "Nggak usah ngawur bos."
"Saya cinta kamu, serius." Eh si bos sepertinya serius ini, manik matanya menatap tajam Aruna.
"Jangan bercanda ih, nggak lucu, lagi sakit jadi ngigo aneh-aneh deh."
__ADS_1
"Saya nggak ngigo, saya beneran Run."
Aruna terdiam, bingung harus ngomong apalagi.
"Kalau kamu mau terima saya dengan syarat saya harus berubah, saya berjanji akan berubah Run." Aruna berdecak, sibos makin tidak karuan ucapannya.
"Tapi saya tidak mau seseorang berubah karena saya. Ingat pak, jatuh cinta itu boleh, tapi jangan lupa banyak cinta yang membuat seseorang menjadi jatuh kapan dan dimana saja. Saya tidak mau bapak seperti itu."
"Tapi saya akan tetap buktikan." Aruna memutar kedua bola matanya. Aruna merasa saat ini bosnya yang sakit bukan tubuhnya tapi pikirannya.
"Saya akan tunggu kamu sampai kamu mau sama saya Run." Aruna menghela nafasnya, masih sepagi ini, tapi rasanya mendadak suasana menjadi gerah. Obrolannya yang membuat gerah.
"Saran saya, lebih baik bapak jangan menunggu saya, saya yakin bapak pasti akan mendapatkan wanita yang baik dikemudian hari. Saya akan berdoa sama Allah semoga bapak mendapatkan jodoh yang terbaik," ucap Aruna.
"Baiklah, saya juga akan berdoa pada Allah jika jodoh yang terbaik itu adalah kamu." Aruna berdecak Si bos ngeyelan sekali.
"Jangan halangin doa saya bos."
__ADS_1
Narayan terkekeh, "Biarkan doa saya dan doa kamu bertarung di langit." Aruna beranjak dari tepi ranjang, ia lalu berjalan keluar dari kamar bosnya. Meladeni bosnya hanya akan membuatnya semakin pusing.
☘️Bersambung...☘️