
Pesanan makanan sudah dihidangkan oleh pramusaji. Aruna tidak heran melihat makanan mewah yang di pesan bosnya. Selesai pramusaji menyajikan, Aruna mengucapkan terimakasih sebelum pramusaji pergi meninggalkan mereka berdua.
"Saya siapin ya Run," ucap Narayan sambil terkekeh, ia membayangkan ekspresi Aruna yang pastinya akan ngedumel saat di suruh menyiapkan makanan untuknya.
Aruna mencebikan bibirnya, "Kan sudah ada di depannya, kenapa mesti disiapin segala, tinggal diambil juga." Walaupun ngedumel tapi Aruna ya tetap mengerjakan, mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk bosnya.
"Latihan jadi Nyonya Nara, kan istri solehah yang mau masuk surga itu harus melayani suami dengan baik, begitu kan?" Aruna mengendikan bahunya. Siapa juga yang mau jadi istrimu bos. Ngeyelan, maksa.🤣
"Makasih," ucap Nara setelah Aruna memberikan piring padanya yang sudah dilengkapi nasi dengan lauk pauk.
Narayan langsung memakannya, hal itu seketika membuat Aruna melotot.
"Jangankan membawa saya ke janah, mengucap bismillah saat makan pun mulut bos tak mampu, lantas apa yang menjadi landasan hidup bos nanti? menikah bukan hanya tentang bertemu lalu bermesraan, tapi menikah adalah tentang mencari ilmu berbalut ibadah, dan rumusnya akan tetap sama salah guru salah ilmu, saya cari yg beriman dan berilmu, yang mampu mempertanggung jawabkan dirinya juga diriku di dunia dan akhirat," cerocos Aruna. Narayan mendadak rasanya susah sekali menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
__ADS_1
"Lupa Run,"celetuk Narayan menutup mulutnya.
"Ulangi dong, yang sudah di telan ya sudah, sedekah itu buat syetan, selanjutnya bismillah biar syetan kecewa. Mbok yo, yang diseringin itu bikin syetan kecewa, jangan wanita terus yang dikecewakan," ucap Aruna. Narayan mengangguk-angguk sambil tersenyum. Mau jawab apa, kata-kata Aruna selalu benar.
Narayan dan Aruna kini tengah menikmati makanannya sambil sesekali melihat pemandangan sekitar yang begitu romantis.
"Aruna Azzalea, jangan lelah ya selalu mengingatkan saya dalam kebaikan, menegur saya ketika saya khilaf," ucap Narayan.
Narayan mengernyitkan dahinya, "Kok makan apa?"
"Ya iya lah makan apa, kalau yang di makan itu dari hasil yang berkah dan halal, itu akan menjadi berkah juga untuk badan kita, lah bapak, makan apa sampai fikirannya tersumbat begitu." Eh Narayan malah terkekeh, membenarkan juga apa yang Aruna katakan, ia sering sekali berkutat dengan uang-uang haram walaupun dari pekerjaan yang halal.
"Iya Run, saya akan belajar menyaring uang-uang yang saya dapatkan nantinya, biar yang dimakan saya bukan dari uang-uang panas seperti sebelumnya." Aruna mengacungkan jempolnya sebagai tanda menyemangati bosnya itu.
__ADS_1
"Run, kalau saya sudah baik, kamu mau kan sama saya? mau menikah dengan saya maksudnya?" Aruna melirik bosnya. Si bos memang pantang menyerah yah.
"Kenapa saya terus sih bos, kan pacar bos banyak," jawab Aruna sekenanya.
"Ya kalau untuk urusan ibu dari anak-anak saya ya harus yang solehah dong Run, jangan sembarangan." Aruna mengarahkan pandangannya ke tempat lain, ia merasa bosnya begitu curang, mempermainkan wanita setiap harinya tapi giliran untuk menikah, cari yang solehah, ngimpi di siang bolong itu mah.
"Kenapa begitu? kenapa mencari istri harus yang solehah?" Aruna sengaja memancing pertanyaan seperti itu, ingin tahu alasan lelaki nakal tentang masa depan sebuah pernikahan.
"Ya saya mau anak-anak saya menjadi anak yang cerdas, yang baik juga jangan kaya bapanya.🤣 Dan untuk menghasilkan anak yang seperti itu, ya harus dicari wanita yang solehah dong, jika ingin memiliki anak yang baik harus di mulai dari memilih istri yang tepat," ungkapnya. Aruna melongo gaes. Ternyata jawaban laki-laki nakal yang ada di depannya itu sangat masuk akal.
"Jika tujuan hidup bapak ingin mencari istri yang cantik, setidaknya bapak harus menjadi orang kaya terlebih dahulu, tapi jika tujuan bapak ingin mencari istri yang SOLEHOT, setidaknya bapak wajib menjadi pria yang bertaqwa. Bapak tahu kan ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya tapi perlu bapak tahu juga, bapak yang akan menjadi penyusun kurikulumnya," ucap Aruna dengan tegas, agar bosnya tidak hanya berkeinginan ini itu tapi tidak seimbang dengan perbuatannya.
☘️☘️ bersambung...☘️☘️☘️
__ADS_1