Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Bianca


__ADS_3

(Pulau Dewata, Bali...)


"Ada apa?" Angin semilir meniup-niup rambut hitam Narayan. Udara malam ini sangat dingin. Namun suasana di sekeliling Nara begitu romantis.


"Duduk dulu, kenapa sih terburu-buru. Memangnya kamu nggak kangen sama aku?" Bianca menyeringai. Senyuman mengembang dari bibirnya yang merah merona.


Penampilan Bianca malam ini begitu memukau. Sama seperti warna lipstiknya, gaun yang Bianca pakai malam ini juga berwarna merah, dengan belahan sampai paha mulusnya terpampang nyata.


"Sudah malam Bi."


Bianca tergelak, "Masa sih jam 9 sudah malam untuk seorang Narayan. Biasanya juga dugem sampai pagi."


"Itu hanya masalalu, sekarang aku sudah menerapkan hidup sehat, jiwa yang sehat juga."


Bianca kembali tergelak, "Ada apa dengan Narayan, sudah tobat nih ceritanya."


Narayan tidak memperdulikan ucapan Bianca, ia duduk sambil melihat Bainca yang tengah menatapnya begitu garang.


Nara melihat jam tangannya, "Masih ada waktu 10 menit, setelah ini aku langsung pulang."


"Makan dulu."


"Maaf aku sudah makan."


Bianca berdecak, "Sejak kapan kamu berubah?"


"Sejak aku ingin berubah."


" Siapa yang membuatmu berubah seperti ini?"


"Aku sendiri."


"Bohong."

__ADS_1


"Cukup Bianca, sepertinya waktunya sudah habis untuk kita bicara. Aku masih banyak pekerjaan." Narayan yang hendak beranjak dari tempat duduknya langsung di cegah Bianca.


"Nanti dulu, Nara." Narayan kembali duduk.


"Nara, kamu tahu kan perasaanku, aku tidak bisa melupakan kamu," ucap Bianca memasang mimik wajah nelangsa.


Kali ini Narayan yang berdecak, "Kamu juga tahu kan perasaanku."


"Kamu sudah memberikan harapan palsu, Nara. Aku benci itu."


"Kamu yang terlalu berharap, aku tidak pernh memberikan harapan apapun. Kamu tahu sendirilah dulu aku seperti apa." Nara terus saja menyanggah.


"Ya sudah, bukannya sekarang kamu sudah tidak seperti dulu, kamu sudah berubah kan, ayo kita jalan berdampingan, aku siap pindah ke Jakarta." Bianca begitu serius ingin pindah ke Jakarta dan meninggalkan tempat kerjanya di Bali jika memang Narayan mau menerimanya.


Nara mengambil mangkuk yang berisi sup, ia lalu mengaduknya dengan garpu.


"Kamu lihat, garpu ini mampu tidak untuk mengambil kuah sop ini?"


"Kamu jangan bercanda Nara, sampai kiamat pun tidak akan pernah bisa sekalipun kamu berusaha sekuat tenaga."


Bianca mendelik, ia tidak menyangka jawaban Narayan membuatnya sakit hati.


"Apa kamu sudah memiliki wanita lain Nara?"


Nara langsung menatap ke sembarang arah. Ia sedang tidak ingin mengingat wanitanya yang sudah bersanding dengan laki-laki lain.


Nara menggeleng, "Jangan bahas lebih dari ini."


"Hemm, aku yakin kamu berbohong."


"Silahkan cari tahu saja, ada tidak wanita yang dekat denganku."


Bianca mengambil tas kecilnya, lalu mengambil foto Aruna dan menunjukannya di depan Narayan.

__ADS_1


"Ini kan wanita yang kamu sukai saat ini, sekertaris ganjen itu. Dia sudah memberikan apa ke kamu sampai kamu bisa menyukainya, apa dia sudah tidur dengan kamu berkali-kali?"


Ucapan Bianca membuat emosi Nara mendidih.


"Cukup Bianca, jangan bicara sembarangan, dia wanita baik-baik, bahkan sangat baik. Dia bahkan tidak pantas mendapatkan laki-laki seperti aku."


Bianca terkekeh, "Woo, ternyata, kamu begitu tergila-gila padanya."


"Kamu tidak perlu memata-matai dia dan aku, sekarang dia sudah bahagia dan menikah dengan laki-laki yang pantas untuknya." Nara menunduk ke bawah. Rasanya sesak sekali mengatakan hal demikian.


"Baguslah kalau dia sudah menikah."


"Tapi bukan berarti aku mau menerima kamu juga." Pupus sudah harapan Bianca. Nara benar-benar tidak ingin menjadikannya bagian dari hidupnya.


"Kenapa sih kamu sebegitu tidak suka dengan aku?" Bianca begitu penasaran kenapa Nara begitu tidak berminat dengannya. Padahal Bianca merasa ia cantik dan sexy, ia juga berpendidikan tinggi. Bisa mengimbangi Narayan. Bianca juga wanita mandiri.


"Bianca, tidak ada seorangpun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan jatuh cinta. Banyak hal yang bisa diprediksi di dunia ini, tapi hal ini tidak berlaku dengan urusan jatuh cinta. Seseorang sepertiku yang terobsesi dengan perencanaan, aku suka bahwa cinta adalah satu-satunya pengecualian, yang tidak bisa direncanakan. Cinta adalah wild card." Nara menjelaskan menurut logikanya, bahwa memang walaupun Bianca sempurna apapun jika dirinya tidak bisa jatuh cinta dengan wanita sexy yang ada di depannya, bisa apa.


"Aku benci kamu Nara."


"Tolong mengertilah, kan aku sudah bilang, terkadang di dunia ini ada sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, termasuk cinta. Jika kamu memaksa, yang ada malah akan tambah tersiksa Bi. Percayalah kamu cantik, pintar, kamu pasti mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu."


Bianca menggeleng, "Tidak Nara, jika memang kamu tidak mau denganku, berarti kamu juga tidak bisa bersama dengan siapapun, lebih baik kita mati bersama."


Bianca mengambil sesuatu dalam tasnya. Ia lalu menodongkan pistol ke arah Narayan. Sungguh Nara sangat terkejut ketika melihat Bianca yang menodongkan pistol ke arahnya. Namun Nara berusaha tenang.


"Jangan gunakan pistol mainan itu untuk menakuti aku Bi. Aku bukan anak kecil."


"Ini pistol asli, lebih baik kita mati bersama. Kita bisa bersama-sama ke akhirat." Bianca tergelak seolah-olah kematian adalah sebuah hal untuk dijadikan bahan candaan.


"Aku ingin mati bersamamu Nara." Bianca mengarahkan pistol ke arah Nara lalu melepaskan pelatuk pistolnya.


Dooooor...

__ADS_1


Suara tembakan terdengar menggema.


__ADS_2