
Baru dua hari di rumah sakit rasanya seperti 2 windu bagi Nara. Ada sesuatu yang ingin segera ia lakukan setelah sembuh, yaitu menikah dengan Aruna. Nara tidak ingin gagal lagi mendapatkan Aruna, rasa kecewa yang sempat ia rasakan menjadi pemicu dirinya ingin segera mengikat Aruna dalam ikatan suci pernikahan.
"Mbak, pulang Semarang aja ya mbak, kan belum pernah pulang kampung kita. Mbak datang sebagai keluarga aku, mungkin dengan begitu Allah lebih ridho," rengek Nara pada Hanin. Hanin berdecak, adiknya begitu tidak sabaran, padahal tangannya masih menggunakan gendongan.
"Sembuh dulu Nara." Yang dikhawatirkan Hanin jelas kesembuhan Nara, terkena peluru bukanlah ringan seperti tertancap duri. Hanin ingin Nara benar-benar pulih, barulah melamar Aruna.
"Raga mudah disembuhkan Mbak, Nara nggak mau sampai keduluan orang sampai dua kali."
"Apa yang menjadi takdirmu tidak akan melewatkanmu Nara, tenang saja." Nara manyun mendengar jawaban kakaknya. Hanin justru tersenyum melihat tingkah adiknya.
"Nanti sore kita berangkat dari bandara, jaga kondisi tubuh kamu agar dokter memperbolehkan kamu pulang." Nara mengangguk lemas, namun dalam hatinya menggerutu, kenapa mbak Hanin tidak peka dengan perasaannya.
"Mana ponselku mbak? sudah di ambilkan?" Nara ingin segera menghubungi Aruna. Ingin mendengar suara Aruna.
"Sudah, tapi di koper." Nara kembali merenggut.
"Jangan main ponsel dulu, istirahat saja." Hanin lalu meninggalkan ruangan rawat inap.
☘️☘️☘️
"Bangun Nara." Hanin membangunkan adiknya yang masih tertidur pulas. Nara mengusap matanya, lalu melihat jam tangannya di pergelangan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih menggunakan gendongan.
"Ayo turun."
Hanin dan Nara turun dari pesawat. Nara tersenyum puas, dirinya sudah sampai Semarang. Sewaktu chek in di Bali, Nara mendapatkan kejutan, ternyata dirinya dan kakaknya akan pulang ke Semarang bukan ke Jakarta.
Hanin langsung menaiki taxi online yang sudah ia pesan bersama Nara menuju hotel terdekat dengan rumah Abah Harun.
Keduanya istirahat terlebih dahulu, besok baru akan mengunjungi rumah Aruna untuk meminta Aruna menjadi bagian dari keluarga.
☘️☘️☘️
Pagi Harinya, Hanin sudah mempersiapkan semuanya. Nara geleng kepala, hebat bukan main kakak perempuannya itu, bisa menyiapkan apa saja dalam waktu sekejap.
"Ini perhiasan beli kapan? ini gamis juga?" tanya Narayan.
__ADS_1
"Mbak mah garcep, memangnya kamu, ngomong mau lamar-lamar tapi tidak bergerak, melamar gadis orang itu tidak gratisan Nara, apalagi ke rumahnya tanpa membawa apa-apa."
Nara terkekeh, "Kan aku belum berpengalaman mba, mana tahu yang begituan.
"Ya sudah, cepat siap-siap, mbak sudah pesan taxi online nih." Nara langsung bersiap-siap menuju rumah Abah Harun.
Sesampainya di rumah Abah Harun, terlihat Abah dan Ibu Aruna nampak terkejut melihat kedatangan Nara dan Hanin tentunya. Mereka sampai terharu karena Hanin dan Nara masih mengingatnya.
Nara dan Hanin dipersilahkan masuk. Abah semakin terkejut ketika Hanin dan Nara membawa begitu banyak barang yang diletakan di meja ruang tamu. Abah juga menanyakan tentang tangan Nara, namun Nara menjawab karena kecelakaan kecil.
"Ini apa Nduk Hanin? kok repot-repot segala bawa macam-macam oleh-oleh?" tanya Abah Harun.
"Kami kesini berniat mau melamar Aruna, Bah." Ibu dan Abah Aruna terdiam.
"Kenapa Bah?"tanya Hanin.
Abah mengungkapkan jika dirinya tidak ingin gegabah lagi, atau terburu-buru mencari calon untuk Aruna. Dua kali gagal menikah rasanya abah merasa bersalah pada Aruna.
Nara tiba-tiba mendekati Abah, lalu memegang lengan Abah. "Bah, saya anak muda dan harus belajar banyak tentang kehidupan, apalagi saya belum memiliki pegangan hidup yang sama sekali hambar jika berhadapan dengan Abah dan ibu, maksud saya datang kemari saya sangat kagum pada anak ibu-Abah, saya sendiri minder berhadapan dengan orang tuanya yakni Abah-ibu yang penuh kearifan ini.
Tidak mungkin ada wanita yang penuh dengan kepribadian elok seperti putri Abah dan Ibu jika tidak ada kalian yang melahirkan dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang, untuk itu saya kemari dengan banyak rasa bangga dan penuh kehormatan bahwa saya telah jatuh pada anak ibu dan Abah."
"Oke baik Bah." Nara lalu meminta tolong mbak Hanin untuk menelfon Aruna yang pastinya sudah berada di kantor pagi ini.
Untung saja panggilan Vidio Call tersambung. Aruna langsung mengenali dimana keberadaan Hanin.
Mbak, kok kaya di rumahku itu ya.
Hani tersenyum.
Iya memang di rumahmu.
Hanin lalu mengatakan bahwa dirinya saat ini tengah berkunjung ke rumah orangtua Aruna dengan niat ingin melamar Aruna untuk Narayan. Hanin lalu memperlihatkan kamera ponselnya ke arah Nara dan Abah Harun. Keduanya melambaikan tangan.
Abah...
__ADS_1
Hanin memberikan ponselnya pada Abah Harun.
Nduk, ada pemuda ganteng mau melamar kamu, bagaimana? kali ini Abah serahkan keputusannya padamu. Lihat, Nara di sini.
Abah memberikan ponselnya pada Nara, Nara tersenyum.
Bos, bagaimana keadaanmu?
Nara melihat wajah Aruna berubah sendu.
Sehat, lihat, Na, maaf sebelumnya tidak membicarakan ini dulu sama kamu, aku trauma kalau sampai kamu nanti dilamar orang lain lagi. Jadi setelah sehat, aku langsung kemari. Na, tahukah kamu? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu. karena, syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Will you marry me?
Nara melihat mata Aruna berkaca-kaca. Namun beberapa detik kemudian, air mata Aruna luruh juga.
Beri kesempatan sekali lagi, Na.
Nara lalu memberikan ponselnya pada Abah Harun.
Bagaimana Aruna?
Pertanyaan dari Abahnya langsung mendapat respon anggukan dari Aruna.
Aruna bersedia, Abah.
Bukan main senangnya hati Nara. Ia reflek memeluk Abah. Hanin juga sampai meneteskan air mata. Adiknya berhak bahagia.
Semua perkara yang berkaitan cinta, asmara, dan jodoh bisa jadi perkara yang begitu menguji hidup. Apalagi kalau sudah berurusan dengan memperjuangkan seseorang untuk jadi pendamping hidup. Memastikan dia memang yang terbaik, kadang malah menemui banyak jalan buntu.
Jika memang jodoh, Allah pasti akan permudah segalanya. Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri.
☘️Bersambung☘️
Sepertinya kisah Nara sebentar lagi akan tamat. Tenang akan ada novel baru selanjutnya, tunggu saja yah, masih revisi-revisi sama editor.
Oh ya, untuk aplikasi si ijo, karena novel berjudul Mas Renal sudah tamat, sekarang sedang digarap Novel judul Lulus jomblo, kisah tentang Asyifa, anak papah Birru. Tentunya nanti ada papah Birru juga di sana.
__ADS_1
Thor kenapa ga d NT saja. Ya nanti di NT juga ada judul baru, author ya begini, maunya berkarya di beberapa platform sayangku. Dukung terus yah. Semoga kalian sehat selalu