
"Astagfirullah..."
"Kenapa?" Lala ikut melihat isi ponsel Aruna.
"Hah...gila sih, gila banget Aruna. Kamu harus cepat bertindak."
"Iya La."
Aruna segera mengirimkan foto yang Ajeng kirimkan padanya ke abahnya. Masalah nanti abah bagaimana itu dipikirkan nanti saja.
"Fikri tuh belum move on deh kayanya. Pokoknya jangan sampai kamu berhubungan dengan laki-laki yang belum selesai masalalunya. Pasti setelah menikah akan terus saja mengejar masalalunya," ucap Lala. Ia begitu sebal melihat foto calon suami Aruna yang tengah tertidur di kamar hotel dengan Ajeng.
Lala tidak habis fikir, Ajeng padahal sepupu Aruna, tapi malah menggoda calon suami dari sepupunya sendiri.
"Aku juga mau mengirimkan surat yang Ajeng berikan padaku La, biar bukti semakin kuat."
Lala mengacungkan jempolnya, "Nah gitu harus berani. Tapi si bos tahu nggak kalau kamu berjuang demi dia."
Aruna menggeleng, "Biarkan saja, aku pengen tahu aja dia sebesar apa mencintaiku La."
"Ih nanti bos salah sangka lhoo, takutnya nyari yang lain malah."
"Jika dia memang jodohku, Allah pasti akan permudah segalanya untukku. Beginilah La, semua perkara yang berkaitan cinta, asmara, dan jodoh bisa jadi perkara yang begitu menguji hidup kita. Apalagi kalau sudah berurusan dengan memperjuangkan seseorang untuk jadi pendamping hidup kita. Memastikan dia memang yang terbaik untuk kita kadang membuat kita merasa menemui banyak jalan buntu. Rasanya luar biasa."
Lala tersenyum, "Aruna pasti bisa melewati, yakin saja." Aruna ikut tersenyum juga dan mengepalkan tangannya sebagai simbol sebuah semangat.
Aruna melirik ponselnya. Jam sudah menunjukan pukul 13.00 tanda istirahat telah usai. Aruna dan Lala mengakhiri obrolan mereka. Keduanya lalu bekerja kembali seperti biasanya.
☘️☘️☘️
Di ruangan kerjanya Nara tambak mondar mandir memikirkan Aruna, apakah tangannya sudah sembuh atau belum. Ingin ke ruang kerjanya, tapi tidak mungkin, karyawan lain pasti akan ribut bergosip.
Hanin masuk ke dalam ruangan Nara tanpa mengetuk pintu, hal itu membuat Nara terkejut, keduanya saling beradu tatapan.
"Ketuk pintu dong mbak."
"Ini kantor mbak." Nara mengusap wajahnya. Selalu saja perempuan memiliki jawaban-jawaban yang membuat para pria terdiam.
"Kamu sedang apa mondar mandir, kebelet?" tanya Hanin.
"Nggak mba, aku khawatir tadi Aruna jarinya terkena air panas." Nara segera menutup mulutnya, keceplosan di depan mbak Hanin. Mati.
__ADS_1
"Hah? Aruna?" Hanin tertawa, ternyata adiknya yang ribut tentang move on justru malah tidak bisa move on.
"Katanya mau move on?" ledek Hanin.
"Susah.",
"Jadi ceritanya susah move on atau gagal move on?"
"Ya itu sama saja mbak, jangan dijadikan pilihan, ngadi-ngadi."
Hanin tergelak lagi, adiknya lucu ketika sedang merajuk masalah cinta.
"Ya begitulah, berusaha melupakan seseorang itu ibarat menggaris menebalkan menggunakan stabilo, semakin memorable. Move itu melangkah maju, bukan melupakan."
"Aku juga sudah berusaha maju mbak."
"Tapi kamu lirik-lirik spion terus."
"Hemm."
"Caranya ya tutup skenario lama dan buat skenario baru."
"Jadi aku harus gimana mba?"
"Ah nggak mau ke bali mba, ke tempat lain aja, disitu banyak cewek-cewek yang belum move on dari aku, ribet nanti aku di kejar-kejar," ucap Nara jumawa.
"Dan sekarang kamu giliran kamu yang tidak bisa melupakan Aruna. Hemm, rasain, karma itu." Hanin terkekeh. Adiknya yang dulu begitu senang mempermainkan wanita, sekarang justru bertekuk lutut di hadapan wanita.
"Jangan gitu dong mba."
"Ya memang nyatanya begitu kan Narayan Nugraha."
"Ya ya ya." Nara berjalan menuju meja kerjanya. Sedangkan mbak Hanin duduk di sofa sambil mengeluarkan beberapa berkas.
"Mbak, telfonin Aruna dong mba, tanya kabar, kalau nggak ya mbak ke ruangannya saja," pinta Nara pada kakak satu-satunya itu.
"Tinggal telfon, Aruna dipanggil mbak Hanin di ruangan CEO, kan beres, kenapa mbak harus ribet-ribet kesana, mbak banyak pekerjaan Nara."
"Okeh okeh, tapi nanti mbak Hanin ikut bicara juga yah dengan Aruna?" Hanin mengangguk, ia tersenyum tipis. Lucu melihat tingkah adiknya yang sedang di landa asmara. Kemarin saja bergaya ganti sekretaris, nyatanya malah jadi repot sendiri kalau ingin bertemu.
Nara langsung menelpon bagian accounting, lalu memerintah Aruna agar ke ruangan CEO agar menemui Hanin.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Aruna datang. Aruna sempat bingung karena mbak Hanin diam saja begitu pula dengan Narayan.
"Mbak, maaf ada apa yah, tadi katanya saya disuruh ke sini? benarkan?"
"Iya benar, tapi dicariin Nara tuh." Hanin sengaja menjebak adiknya agar mengungkapkan sendiri kekhawatirannya pada Aruna.
Nara memicingkan matanya saat kakaknya berkata demikian.
Aruna menghadap ke Narayan, "Ada apa ya Pak?"
"Ah tidak, oh ya apa tangan kamu sudah sembuh?" sepertinya masih merah."
"Ehmm." Hanin sengaja berdehem meledek adiknya.
Aruna melirik ke arah Hanin, lalu kembali menghadap ke Narayan.
"Alhamdulillah sudah adem Pak, terimakasih sudah menolong."
"Aruna, besok minggu kamu ada acara tidak? mbak mau ajak kamu ke rumah, kan sudah lama tidak main dengan Ayumi," ucap Hanin.
"Ah iya mba, Insyaallah."
Nara tersenyum puas, kakaknya memang paling pengertian.
"Iya, mumpung kamu belum menikah, kalau sudah menikah kan nanti di kampung yah?" pertanyaan Hanin membuat Nara sebal. Baru saja dibuat senyum sekarang malah dibuat ngenes.
Aruna tidak menjawab apapun lagi, ia hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Ya sudah Aruna, kamu boleh kembali lagi ke ruang kerjamu yah," perintah Nara. Aruna langsung pamit keluar ruangan.
"Manfaatkan waktu sebulan ini, sebelum Aruna menjadi milik orang lain," ledek Hanin, ia melirik adiknya, muka Nara sudah merah padam. Hanin tergelak, baru kali ini ia melihat adiknya patah hati. Biasanya Nara yang selalu mematahkan hati para perempuan di luar sana.
"Jahara, sudah sana mba, ngerjainnya di ruang rapat saja, jangan di sini."
"Ehmmm, suami mama selingkuh Nara, mama semalam nelfon sambil menangis." Nara langsung memandang ke arah mbak Hanin.
☘️Bersambung...☘️
Thor nggantung....
Iya ah, kaya nggak tahu aja kesukaan mak san🤣 yang gantung2 itu lhoo, gamis, jilbab dan teman2nya hey...🤭
__ADS_1
Maaf yah jarang up, sekarang sekolah sudah mulai normal say. Jadi emak sibuk ngajar, ngeles, terus anak emak juga sudah mulai sekolah, emak sibuk antar jemput juga, LEHLAH. Emak kan awal nulis memang karena pandemi, mengisi waktu luang, sekarang jadwal sudah sangat padat, jadi begini nih bela2in begadang.🤭
Oh ya soal novel Arshaka itu kan novel perlombaan, emak baru liat pas waktu sisa lomba tinggal 20 hari lg, sedangkan cerita emak d suruh revisi terus. Editor nggak mau yg versi religi yg kya biasanya, jd author rombak, setelah di rombak, author buat anak geniusnya usia 10 thn, tapi editor nggak mau, maunya yg 5thn tapi sudah jadi hacker, mohon maaf, halunya author nggak sampai kalau bocah 5thn jdi hacker, otaknya ngelag✌️🙏🙏 akhirnya waktu habis, perlombaan sudah ditutup🙏