Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Baik-Baik Saja


__ADS_3

"Aw..." Aruna meniup jemarinya karena tidak sengaja terciprat air panas saat membuat kopi pagi ini di pantri kantor. Ia jadi teringat Narayan yang pernah membuatnya terciprat air panas juga. Aruna terdiam sesaat, ia tiba-tiba memikirkan bos sengkleknya.


"Na, aku juga mau buat kopi." Lala menghampiri Aruna yang tengah merenung.


"Woy, kok ngelamun sih." Lala berusaha membangunkan lamunan Aruna dengan menyenggol lengan Aruna.


"Ah iya, aduh ini aku tadi kecipratan air panas sedikit, tapi lumayan perih sih." Aruna meletakan tangannya dibawah kucuran air.


"Ih Na, hati-hati, sini aku aja yang buat. Makanya kalau buat kopi jangan sambil melamun, ngelamun si bos lagi. Si bos lagi bersenang-senang di Bali Na."


Ucapan Lala menyadarkan Aruna. Benar, Narayan pasti sedang bersenang-senang di Bali, jadi untuk apa mengkhawatirkannya.


Lala membuatkan kopi untuk Aruna. Selesai membuat kopi keduanya langsung kembali ke meja kerja masing-masing.


"Eh ada berita kalau si bos tertembak," ucap karyawan lain yang bekerja di staff accounting. Aruna dan Lala yang mendengar langsung menghampiri segerombolan karyawan yang sedang bergosip.


"Eh eh siapa siapa kenapa?" Lala jadi penasaran dengan obrolan mereka.


"Itu si Bos, semalam katanya tertembak," celetuk salah satu karyawan.


Lala terkekeh, "Bos Nara maksudnya? tertembak gimana ih, memangnya si bos buronan apa?"


"Ditembak cewek, katanya sakit hati sama si bos."


Mendengar jawaban itu, Aruna langsung berlari ke ruangan Narayan. Siapa tahu di sana ada mbak Hanin. Namun sayangnya, sesampainya di sana hanya ada sekretaris barunya saja.


Aruna kembali ke meja kerjanya, ia mengambil ponsel dalam tasnya, segera melakukan panggilan pada Nara dan mbak Hanin, tapi keduanya tidak aktif. Aruna semakin tidak karuan.

__ADS_1


Aruna meminta izin pada Lala ke mushola sebentar untuk menenangkan hatinya. Aruna jadi berfikir andai dirinya memberi tahu gagalnya pernikahan pada Nara mungkin Nara tidak akan ke Bali. Tapi nyatanya, semuanya memang harus terjadi.


Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang.


Aruna mendoakan Narayan agar bosnya itu baik-baik saja. Terkadang ia tidak sadar kalau ternyata dirinya seseorang yang begitu menyayangi Nara dengan sebegitunya.


☘️☘️☘️


"Kurang ajar kamu yah, bikin mbak khawatir setengah mati." Hanin memukul lengan adiknya. Subuh tadi ia langsung mencari tiket pesawat ke Bali karena mendapat kabar bahwa Nara tertembak.


Nara terkekeh, "Cuma luka kecil mba, pegawai resort nya saja yang berlebihan."


"Kamu sedang apa sih main-main sama cewek gila itu, cari penyakit, sekalian saja masuk ke kandang macan kalau sudah bosan hidup." Hanin meluapkan kekhawatirannya dengan memaki adiknya. Dalam hatinya ia sungguh takut jika adiknya sampai tiada.


"Ya mana tahu kalau dia bawa pistol. Nara kira pistol mainan ternyata beneran Mbak. Canggih juga itu Bianca."


"Maksud Mbak? aku disuruh jadi pebinor gitu? Dih mbak Hanin ini, sekalipun di dunia ini tinggal sisa Aruna dan suaminya. Aku memilih tidak akan menikah dari pada harus merebut kebahagiaan orang lain Mbak."


"Aruna nggak jadi nikah," celetuk Hanin. Nara terdiam, ia kembali mencerna perkataan mbak Hanin. Setelah tertembak lengannya, kenapa mendadak jadi otaknya yang lemot.


"Serius Mbak? Aduh, Aw..." Saking bersemangatnya Nara tidak sadar kalau lengan kirinya tidak boleh bergerak terlalu aktif.


"Kamu nih benar-benar suka cari penyakit yah."


Nara terkekeh, "Maaf Mba, saking antusiasnya. Tapi serius kan Mbak? bukan cuma lagi nyenengin aku kan biar sembuh?"


"Serius."

__ADS_1


"Mbak tolong ambilkan ponselku Mbak, di dalam, eh di dalam mana, ponselku mana yah." Narayan mencoba mengingat-ingat dimana ponselnya berada.


"Di kamar hotel. Kamu kan sengaja menonaktifkannya bukan? sampai-sampai pegawai hotel harus masuk ke kamar kamu untuk mencari kontak nomer keluarga. Lain kali jangan ceroboh Nara." Hanin menjewer telinga adiknya yang masih saja bandel sekalipun sudah tua.


"Ah iya lupa. Ya kan aku nggak mau scroll sosmed nanti ketemu deh foto nikahan Aruna. Hancur Mbak hati aku." Saat di Bali Nara memang memutuskan untuk tidak sering bermain ponsel. Hanya untuk pekerjaan tertentu saja, setelah itu ia nonaktifkan.


"Menyusahkan jadinya."


"Iya maaf, oh ya Bianca bagaimana Mbak?"


Hanin mengerutkan dahinya, "Malah menanyakan wanita gila itu. Dia di kantor polisi lah."


"Kirain sudah di alam kubur Mba, soalnya dia bilang mau mati bersama. Kirain setelah menembak aku, dia menembak dirinya sendiri."


"Memangnya kamu tidak ingat setelah kamu tertembak dia bagaimana?"


Nara menggeleng, ia takut dengan jarum, juga takut dengan obat dan darah. Saat melihat lengannya mengeluarkan darah. Nara langsung tak sadarkan diri.


"Ya lah, kamu langsung K.O." Hanin tertawa terbahak-bahak.


"Menurut pegawai restoran, mereka langsung mengamankan Bianca. Dia juga sepertinya menyesal menembak mu. Jadi setelah itu senjatanya langsung terjatuh, dia juga sempat menolong kamu. Tapi setelahnya polisi menanganinya," sambung Hanin.


Nara menghela nafasnya, malam kemarin sangatlah apes. Hampir saja mati. Tapi untung saja Allah maha baik. Ditambah lagi dengan kabar baik jika Aruna tidak jadi menikah.


"Mbak, besok aku mau pulang ke Jakarta."


"Enak saja, pulang kalau sudah sembuh," ucap Hanin sambil mendelik. Nyali Nara langsung menciut. Sepertinya ia harus sabar sampai sembuh terlebih dulu, agat bisa bertemu Aruna lagi.

__ADS_1


__ADS_2