
1 bulan kemudian ...
Aruna berjalan keluar melewati lobby kantor bersama Lala. Melihat Aruna yang tengah berjalan dan masuk kantor seperti biasanya, Hanin langsung berlari menghampiri Aruna.
"Aruna... Na..." Mendengar ada yang memanggilnya. Aruna menghentikan langkahnya. Ia menengok ke belakang. Ada mbak Hanin yang tengah berlari ke arahnya.
"Mbak..." Aruna tersenyum menyapa kembali mbak Hanin.
Sesampainya di depan Aruna, Hanin mengerutkan dahinya, lalu memegang lengan Aruna.
"Kok masih di sini? bukannya seharusnya di kampung?" tanya Hanin.
Aruna terkekeh, "Iya seharusnya, tapi malah diluar dugaan. Semuanya batal mba."
Reaksi Hanin sangat terkejut, bagaimana bisa sudah lamaran malah gagal menikah.
"Kenapa? bukan karena Nara kan?" Hanin takut jika adiknya menjadi penyebab gagalnya pernikahan. Padahal sudah seminggu ini Nara sengaja pergi ke pulau dewata hanya untuk menjauh dari Aruna. Namun ada pekerjaan juga di sana. Jadi bisa sekalian berlibur. Menghibur diri ditinggal nikah gebetan.
"Jangan di sini, ke cafe depan saja yah mbak," ajak Aruna pada Hanin. Hanin mengangguk, sementara Lala izin pamit pulang terlebih dahulu.
Hanin dan Aruna menyebrang ke cafe depan. Keduanya memesan kopi dan cemilan untuk mengganjal perut yang kebetulan saat itu baru saja pulang kerja.
"Na, mbak penasaran nih, takut Nara bikin ulah, mbak tahu betul perangai Nara. Apapun dia lakukan untuk mendapatkan sesuatu." Hanin kembali memulai pembicaraan yang sempat terputus.
Aruna tersenyum, "Bos Nara sudah berubah Mbak, sekarang tidak seegois itu."
__ADS_1
"Iya sih, sampai dia harus meredakan rasa egoisnya dengan pergi ke Bali. Seharusnya Mbak yang ditugaskan ke sana, tapi Nara ngotot yang ingin kesana untuk menyibukkan diri, padahal dia sudah sangat sibuk, tapi demi mengabaikan pernikahan kamu, dia sampai meminta memadatkan jadwalnya pada Mbak."
Aruna terdiam mendengarkan mbak Hanin. Pantas saja sudah beberapa hari ini dirinya tidak melihat bos Nara, ternyata melarikan diri di Bali.
"Dari kecil Nara sudah ditinggal ibunya. Sekecil itu sudah harus memahami kondisi kedua orangtua kami. Sejak kejadian ibu yang berpisah dengan ayah, Nara menjadi pribadi yang arogan. Pecinta uang, pekerja keras demi uang, karena menurutnya wanita hanya butuh uang, walaupun ia memang benar, tapi bukan berarti Nara harus memperlakukan wanitanya sesuka hati. Itu yang mbak tidak suka. Tapi semenjak ada kamu, Nara berubah drastis, ia bahkan sangat berniat untuk menikahi kamu, Na. Padahal sebelumnya ia tidak ingin menikah karena menurutnya pernikahan hanya akan membuat masalah. Tapi semua pemikirannya berubah sejak kamu hadir dalam hatinya. Mbak sangat senang, Nara sampai mengundang guru ngaji ke rumah, untuk belajar lebih fasih mengaji karena selama ini sudah lama sekali tidak membaca Alquran. Salat sudah mulai dilaksanakan. Dia sangat berbeda dari sebelumnya semenjak mengenalmu."
Aruna melihat ada raut kesedihan di wajah mbak Hanin. Mata Hanin mulai berkaca-kaca mengingat kembali perjuangannya dengan adiknya di tengah-tengah keluarganya yang terpecah belah.
Aruna ikut sedih mendengarnya, dibalik gaya hidup Nara yang terkesan foya-foya, ternyata ada luka dihatinya. Ada banyak pengorbanan yang sudah ia lalui dengan tegar.
Ternyata bos Nara selama ini tidak hanya melewati kerikil kecil, tapi ia justru terpaksa melawan arus lautan.
Apa yang Aruna lihat selama ini ternyata jauh dari kehidupan Nara yang sebenarnya. Hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat, jadi jangan hanya melihat dari apa yang terlihat. Jadi, jangan mudah menyimpulkan dari apa yang terlihat. Itulah hikmah yang ia petik dari kehidupan Nara.
"Bukan karena kalian bertengkar karena Nara kan?"
Aruna menggeleng, "Bukan Mbak, tapi memang ada hal yang tidak menakdirkan aku dan Mas Fikri berjodoh."
"Alhamdulillah." Hanin tampak begitu girangnya. Baru kali ini ia merasa bersyukur dengan kegagalan sebuah pernikahan orang. Entahlah, ia. berfikir berarti Narayan masih memiliki peluang untuk mendapatkan Aruna kembali.
Aruna mengernyitkan dahinya, "Kok Alhamdulillah Mbak?"
Hanin menutup mulutnya, "Maafkan Mbak Na, haduh keceplosan."
Aruna tersenyum, ia sebenarnya sudah bisa menebak kenapa Mbak Hanin berkata demikian.
__ADS_1
Aruna hanya bisa menceritakan pembatalan pernikahan secara singkat, karena ia tidak ingin mengumbar aib Fikri.
Seminggu yang lalu saat Aruna hendak mengemasi barang-barangnya untuk pulang kampung tiba-tiba Abah menelfon. Abah langsung saja bercerita jika pihak Mas Fikri membatalkan rencana pernikahan.
Namun selang 2 hari kemudian, ternyata mas Fikri malah menikah dengan Ajeng. Desas desus di kampung, di duga Ajeng sudah hamil.
Aruna tidak merasa sedih waktu itu karena memang Ajeng juga sudah mengirimkan foto dirinya dan mas Fikri berada di kamar hotel.
Saat itu mungkin Ajeng sengaja agar kejadian hari itu bisa mengikat mas Fikri. Abah begitu khawatir pada Aruna, padahal Aruna justru tetap berfikir positif, ia yakin ini sudah jalan takdir Allah untuknya.
Aruna ingin menelfon Ajeng, memastikan apakah desas desus itu benar atau tidak, tapi ternyata nomer ponsel Aruna sepertinya sudah diblokir Ajeng.
Abah menyarankan agar Aruna tetap di Jakarta saja, melanjutkan bekerja, tidak perlu pulang, apalagi bertemu dengan lelaki macam mas Fikri. Nada bicara Abah saat itu begitu kentara menunjukkan bahwa Abah sangat marah dengan mas Fikri.
Aruna akhirnya mengikuti nasihat Abah untuk melanjutkan bekerja dan tidak perlu pulang. Sebenarnya Aruna ingin sekali memberi tahu Nara, tapi nyatanya sampai saat ini, Nara nomornya tidak aktif. Bertemu pun tidak, ternyata malah kabur ke Bali.
"Kita sekalian makan saja yah, Na. Kamu kamu makan apa, mbak traktir pokoknya." Hanin begitu senang dengan kabar baik ini. Ia ingin sekali adiknya kali ini peka dan tidak mengulur waktu lagi untuk melamar Aruna.
"Bener nih Mbak?"
Hanin mengangguk, Aruna dan Hanin memesan kembali makanan tambahan. Sambil menunggu pesanan, Hanin mencoba menelfon Nara untuk memberi tahu kabar baik.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
__ADS_1