
Jam 11 siang, Narayan keluar dari ruangannya, menghampiri meja kerja Aruna.
"Run, berangkat sekarang saja yah, kamu kan mesti beli sepatu dulu," ucap Narayan sambil berdiri di depan Aruna. Aruna mendongakkan kepalanya.
"Ah iya pak, sebentar." Aruna mengambil bedak di dalam tasnya, memakainya sebentar sambil bercermin. Narayan mengernyitkan dahinya melihat sekretarisnya itu memakai bedak.
"Maaf ya pak, tadi itu saya habis cuci muka lupa pakai bedak lagi, takut kumel," ucap Aruna sambil terkekeh. Narayan mengangguk, Narayan tahu betul lah kebutuhan perempuan.
Narayan dan Aruna menuju parkiran, mereka lalu masuk ke dalam mobil. Saat Narayan menyalakan mesin mobilnya, Aruna mengambil cermin kecil dari tasnya, lalu meletakkan nya di atas dasboard, membetulkan jilbabnya. Narayan geleng-geleng lagi melihat tingkah sekretarisnya itu.
Mereka lalu bergegas menuju Mega Mall tempat meeting nanti.
☘️☘️☘️
Sesampainya di Mall, Aruna dan Narayan turun dari mobil, Aruna kembali bercermin pada spion mobil bosnya. Setelah merasa sudah rapi, Aruna menghampiri bosnya, mereka berdua lalu masuk ke dalam mall.
"Saya perhatikan ya Run, kenapa wanita itu senang sekali bercermin, sebentar-sebentar merapikan jilbabnya yang miring, yang penyok yang terkena angin, sebentar-sebentar bercermin melihat kondisi bibir, apakah lipstiknya masih nempel atau tidak, pokoknya demen banget deh bercermin. Untung zaman sekarang ada cermin kecil, praktis bisa dibawa kemana-mana," ungkap bosnya sambil sesekali melirik Aruna karena keduanya sedang berjalan beriringan.
Aruna tertawa, tidak menyangka jika bosnya ternyata sedetail itu memperhatikan kebiasaan wanita.
Aruna menghela nafasnya, "Ya begitulah wanita, wajar kok, sifat cermin itu mempunyai nilai sensitifitas persis seperti hati wanita sensitifnya. Seandainya bapak melempar batu pada cermin apakah bisa di susun lagi?"
__ADS_1
"Bisa, banyak kok sekarang yang bisa benerin benda pecah atau rusak," jawab Narayan.
"Ya memang bisa, hanya saja cermin itu nanti sudah tidak bisa memantulkan bayangan yang sempurna, begitu juga dengan wanita kalau dilukai hatinya bisa memaafkan tapi sulit melupakan," celetuk Aruna sambil melirik bosnya. (nyindir)🤣
"Hemm, nanya apa, dijawabnya malah lengkap," ucap Narayan. Nara juga sangat faham, ungkapan Aruna itu untuk dirinya.
"Hehe, sekalian pak." Aruna terkekeh, Aruna bergumam dalam hati, sekalian nyenggol pikiran bapak.
"Kenapa gitu Run, seolah-olah selalu laki-laki yang menyakiti wanita, banyak kok wanita yang menyakiti laki-laki." Narayan berusaha mengelak.
"Iya sih, tapi sayangnya saat ini saya sedang berbicara dengan bapak, jadi menyesuaikan lah." Eh Narayan malah tergelak, Nara paling suka dengan Aruna yang hidup tanpa basa basi.
"Meskipun ada seorang wanita yang pernah menyakiti hati saya begitu dalam, kamu tetap membela wanita itu?" tanya Narayan. Aruna tersenyum sambil mengangguk. Yang Aruna tahu ya Narayan yang suka mempermainkan wanita, kenapa malah jadi dia yang merasa tersakiti.
"Walaupun wanita itu menyalakan lampu sen kanan tapi beloknya ke kiri?" tanya Narayan.
Aruna tergelak, lalu mengangguk, "Ya udah biarin pokoknya."
"Aruna..."
"Pak Nara..." Mereka berdua malah tertawa.
__ADS_1
"Tuh lihat..." Narayan menunjuk sepasang suami istri yang tengah berdebat sambil membawa banyak belanjaan. Aruna melihat sekilas.
"Belanja banyak banget tuh, tapi masih marah-marah, apa itu berarti salah laki-laki juga?" celetuk Narayan.
"Ya iyalah salah dong, salah karena ngasih duitnya kurang." Aruna senyum-senyum membalas ucapan bosnya. Narayan akhirnya menyerah, wanita memang selalu benar, ya sudah lah.
"Oke, oke, yuk kesana, itu ada toko sepatu." Narayan dan Aruna bergegas menuju toko sepatu yang ditunjuk oleh Narayan.
Aruna di dalam memilah milih sepatu yang di rasa harganya cocok, anak kos-kosan harus ngirit gaes.
"Sepatu kamu nomor berapa Na?"
"39 pak." Narayan mengangguk sambil ikut memilihkan juga. Narayan melihat ada sepatu model flatshoes berwarna putih, setelah dilihat nomornya juga pas sekali 39. Narayan mengambilnya lalu memanggil Aruna.
Aruna menghampiri bosnya, Narayan lalu menyuruh Aruna duduk, Nara berlutut di bawah Aruna, membuka sendal Aruna dan memasangkan sepatu dikaki Aruna yang terbalut kaos kaki.
Aruna terkejut, melongo, ia segera sadar dari dunia Cinderellanya.
"Eh, pak, jangan, ini..." Sepatu sudah terpasang, beberapa karyawan melihat interaksi Nara dan Aruna sambil senyum-senyum. Playboy cap kuda terbang memang paling bisa membuat hati targetnya luluh lantah.🤣
"Bagus kan Run?" tanya Narayan sambil tersenyum, mendongak ke arah Aruna. Aruna mengangguk, Aruna mendadak tersipu, bagaimana mungkin hatinya tidak goyah jika perlakuan pak Narayan saja begitu manis.
__ADS_1
☘️☘️ Bersambung ☘️☘️
(Ditunggu 100 komentar, nanti up lagi)