
"Saling mengingatkan dalam hal kebaikan ya La." Lala mengangguk penuh semangat.
"Eh tapi aku penasaran deh, kriteria cowok idaman kamu yang kaya apa Run?" tanya Lala. Aruna menggeleng, "Suami, bukan cowok, haduh umurku sudah tidak pantas main pacar-pacaran Run, lagian tidak cari pacar juga."
"Iya iya deh."
Aruna menatap langit-langit kamar kosnya, berfikir sejenak, "Emm, apa ya, yang jelas harus seiman, ganteng, tanggung jawab, banyak duitnya juga boleh lah dalam artian mapan, ilmunya luas."
Lala mengerutkan dahinya, "Matre, segala harus yang ganteng dan kaya."
"Ih La, ganteng, kaya kalau nyakitin masih mending, kita pernah ngrasain ganteng dan uangnya, kalau udah jelek, boke, nyakitin lagi, rugi La, realistis aja deh." Eh si Lala malah tergelak, membenarkan apa yang dikatakan Aruna.
"Kalau wanita cari yang mapan, itu bukan matre La, tapi realistis. Contoh dong laki-laki zaman dulu, Roro Jonggrang minta dibuatin candi dalam satu malam langsung garap, Dayang sumbi minta dibuatkan danau dan perahu langsung garap, lah laki-laki zaman sekarang, cuma mendengar wanitanya memiliki kriteria ingin mencari calon suami yang mapan saja langsung dikatain matre." Aruna menepuk dahinya sambil geleng-geleng. Lagi-lagi Lala tergelak.
"Ih malah ketawa mulu, udah sana mandi, terus salat, salat cantik, malaikat Ridwan tidak akan baper cuma dengan melihat keglowingan wajahmu La, cepetan, waktu magrib sebentar lagi habis." Aruna mendorong Lala menuju kamar mandi. Sementara sahabatnya itu masih saja terkikik.
Selesai mandi dan salat, tiba-tiba Lala menghampiri Aruna lagi.
__ADS_1
"Run, kamu pernah patah hati nggak?" Aruna mengernyitkan dahinya, setelah salat yang ditanyakan malah patah hati, si Lala ini yah.
Aruna mengangguk, "Pernah."
"Masa sih? rasanya gimana Run?"
Aruna lalu mencubit lengan Lala hingga lala memekik kesakitan.
"Itu masih belum apa-apanya La."
"Ya tadi nanya kan, bagaimana rasanya." Lala mengelus lengan bekas cubitan Aruna.
Aruna lalu menghela nafasnya, "Dulu ada yg memintaku pada Abah, aku juga mencoba menerima, eh setelah diterima, orangnya malah ngilang entah kemana." Aruna terkekeh, padahal dalam hatinya perih.
"Jadi TKI kali Run di Arab," ceplos Lala dengan polosnya hingga membuat Aruna tergelak.
"Enggak ih, bulan lalu aku dapat kabar kalau dia sudah menikah." Aruna tersenyum kecut.
__ADS_1
Lala memegang bahu Aruna, "Kamu kecewa?"
Aruna menggeleng, "Semua sudah jalan takdirnya seperti ini, jangan kebanyakan sedih, karena nanti jadi banyak mengeluh juga, kalau banyak mengeluh nanti jadi kufur nikmat, jangan sampai ah."
"Eh, Run, boleh nggak sih, kalau kita suka sama seseorang terus kita maunya orang itu jadi jodoh kita? kita doain terus tuh setiap salat, boleh nggak sih," tanya Lala. Aruna tersenyum melihat tingkah Lala yang sepertinya tengah dimabuk asmara. Lala usianya masih sangat muda, 5 tahun dibawah Aruna. Masih sedang bucin-bucinnya ketika menyukai seseorang.
"Kamu kalau aku minta uang kamu secara paksa, kamu mau nggak ngasih?" tanya Aruna pada Lala.
"Enggak lah, udah minta, maksa lagi," jawab Lala.
"Ya begitu juga dengan jodoh, nggak boleh maksa Lala, minta si Rudi ya Allah. Nggak boleh kita maksa Allah, Rosulullah mengajarkan amalan pada kita apa itu salat istikharah, salah satu doa istikharah itu kan ya Allah aku meminta pilihan-pilihan dengan Ilmu MU bukan dengan ilmu ku. Allah itu sudah menciptakan takdir yang begitu luar biasa untuk hamba-nya La. Apapun yang Allah tetapkan pada kita pasti itu yang terbaik untuk kita, jadi mintalah yang terbaik yah."
"Emmm, makasih." Lala mencubit kedua pipi Aruna dengan gemas. Aruna sudah menganggap Lala sebagai adiknya, Aruna juga ingin kelak Lala mendapatkan jodoh yang terbaik.
Aruna dan Lala lalu bersiap-siap untuk keluar kos membeli makan untuk makan malam.
☘️☘️ Bersambung dulu yah,. Author masih belum pulih sayangku semua, belum bisa mikir banyak ini🤭☘️☘️
__ADS_1