Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Beratnya Rindu


__ADS_3

"Sstttt, ada bos tuh ke kantin sama cewe," bisik Lala pada Aruna. Lala yang sudah mendengar cerita tentang Aruna merasa prihatin dengan kisah keduanya. Tidak bisa membela ataupun menyalahkan siapapun.


Lala faham, Nara yang memindahkan Aruna pasti dengan alasan agar mudah move on. Aruna yang dipindahkan juga agar bisa fokus memikirkan calon suaminya saja.


Aruna menengok ke arah lirikan Lala. Benar saja, Narayan sedang berjalan ke arahnya. Ah bukan ke arah meja kantin yang masih kosong tentunya.


Saat melewati Aruna, tampak Nara melirik sekilas, namun selanjutnya ia fokus berjalan lagi. Aruna sengaja tidak ingin memandang Nara karena rasanya cukup perih melihat Nara berjalan di samping wanita sexy.


"Tadi pak Nara ngeliat kamu lhoo," ucap Lala. Aruna hanya mengendikkan bahunya.


"Semoga aja dia nggak salah jalan lagi cuma gara-gara cinta," gumam Aruna lirih.


"Apa Na?"


Aruna menggeleng, "Yuk ah balik, cepetan makannya."


"Iya Na, bentar lagi habis nih." Lala segera menyelesaikan makannya. Setelah itu keduanya beranjak dari tempat duduk lalu bergegas kembali ke ruang kerja.


Aruna tidak langsung ke meja kerjanya, melainkan ke pantri terlebih dahulu membuat kopi. Saat sedang mengaduk kopi yang ia seduh, terdengar suara langkah kaki seseorang menuju pantri.


"Sekalian buatkan buat saya."


"Buat aja sendiri." Tangan Aruna berhenti mengaduk, ia langsung menoleh ke belakang karena familiar dengan suaranya.


"Ah maaf pak, bapak mau kopi yang apa?"


Benar saja, ternyata Narayan yang datang ke pantri.


"Bukannya kamu sudah hafal kopi yang saya suka?" Aruna langsung mengangguk lalu menyeduh salah satu merek kopi yang bosnya suka. Aruna bergumam dalam hati, padahal tadi bosnya sedang di kantin, kenapa tiba-tiba ada di pantri.

__ADS_1


"Auh..." Tidak sengaja Aruna tersiram air panas karena melamun.


Nara langsung sigap memegang lengan Aruna lalu membuka kran wastafel dan meletakan telapak tangan Aruna di bawah kucuran air.


Aruna menatap Nara, begitu juga sebaliknya.


"Cukup hati saya saja yang sakit, tangan kamu jangan." Nara melepaskan tangannya dari lengan Aruna.


"Bapak kira hati saya tidak sakit? sakit pak, ditambah dengan perlakuan bapak ke saya seperti orang asing, itu lebih menyakitkan. Jika bapak bukan jodoh saya semoga kita tak saling menyakiti. Hubungan baik tetap perlu dijaga. Kalau memang jalan yang ditempuh berbeda, tetaplah untuk saling mendoakan kebahagiaan masing-masing." Aruna mengeringkan tangannya menggunakan washlap. Lalu meninggalkan Nara yang masih berdiri terdiam.


"Maaf..." Hanya satu kata itu yang mampu Nara katakan.


Aruna menghentikan langkahnya, "Jika takdir mengatakan kita berjodoh maka kelak kita akan di pertemukan dengan caraNya yang amat sangat rahasia hingga detik ini. Ada beberapa hal yang tidak bapak ketahui. Tapi yang saya harapkan saat ini, bapak tetep menjadi Narayan yang baik, yang fokus berhijrah dan tidak kembali ke dunia gelap lagi gara-gara cinta."


"Pertolongan dari Allah akan datang ketika hamba-nya yang sudah berusaha namun dirundung putus asa," sambung Aruna. Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju kerjanya sambil membawa kopi yang ia seduh.


Lala juga juga sempat bingung melihat bosnya yang tengah mengekori Aruna.


"Coba saya lihat tangan kamu yang terkena air panas tadi," pinta Narayan.


Aruna menggeleng, "Nggak apa-apa, nggak perlu khawatir."


"Lala tolong La, ambilkan salep untuk luka bakar." Nara langsung melihat ke arah Lala.


"Ah iya bos."


"Saya bisa sendiri." Aruna hendak beranjak dari tempat duduknya.


"Diam duduk disitu."

__ADS_1


Aruna kembali duduk, ia berdecak kesal, sebal dengan tingkah Nara yang memindahkannya tapi malah tetap saja memindahkannya. Jalur move on terhambat rasa rindu.


"Ini bos." Lala memberikan salep pada Nara.


"Oleskan pada Aruna, bilang sama teman kamu itu, jangan suka ngelamun kalau di pantri, banyak. syetan di sana," ucap Nara. Lala mengerutkan dahinya, ucapan bosnya begitu absurd.


Setelah yakin Aruna sudah diobati dengan baik, Nara pamit pada Aruna dan Lala untuk kembali bekerja. Aruna hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Seperginya Nara, Lala langsung berdehem, "Rindu itu ternyata berat yah. Buktinya, bos Nara nggak kuat." Aruna langsung memukul lengan Lala.


"Eh ini Nyai, bukannya terimakasih malah mukul."


"Eh, Na, kayanya bos bucin banget deh sama kamu, kasihan banget," sambung Lala sambil mencolek dagu Aruna.


"Hemm."


Ponsel Aruna berdering, ia langsung mengambilnya di kantong blazernya. Ajeng, panggilan tak terjawab.


Namun ada pesan masuk dari Ajeng juga. Aruna membukanya. Ajeng mengirimkan beberapa foto pada Aruna.


"Astagfirullah..."


"Kenapa?" Lala ikut melihat isi ponsel Aruna.


"Hah...gila sih, gila banget Aruna. Kamu harus cepat bertindak."


☘️Bersambung☘️


(Hola hola sayangku semua. Emak mau minta maaf sebelumnya karena karya Arshaka tidak bisa di teruskan dikarenakan harus revisi terus, cerita emak tidak sesuai dengan tema yang dilombakan, dan harus berkali-kali revisi sampai emak pusing🤣 sedangkan lombanya kurang 10 hari lagi🤦, jadi ceritanya sedang proses hapus. Tapi Alhamdulillah ada lomba dengan tema terbaru lagi, waktunya masih panjang, 90 hari lagi, insyaallah ikut nanti, setelah di acc noveltoon nanti emak kabari, jadi harus dikirim melalui email terlebih dahulu)

__ADS_1


__ADS_2