
"Mba"
Aruna menengok ke arah pintu kamarnya, ternyata ada Ajeng, saudara sepupunya yang rumahnya hanya bersebelahan dengannya. Aruna dan Ajeng hanya berbeda umur 1 tahun. Ajeng juga merantau, tapi bukan di Jakarta, melainkan di Bandung.
"Eh Ajeng, baru datang yah?" Aruna menghampiri Ajeng lalu menyuruh Ajeng masuk. Aruna saat itu sedang menyisir rambutnya yang baru saja ia keramas.
Ajeng masuk ke dalam kamar Aruna, ia lalu duduk di tepi ranjang Aruna.
"Eh kemarin acara mas Abidzar meriah banget, kamu baru datang semalam yah?" tanya Aruna. Tidak ada jawaban dari Ajeng. Aruna membalikan kursinya, melihat ekspresi Ajeng yang terlihat datar. Aruna memakluminya, mungkin Ajeng lelah dari perjalanan.
"Ajeng, kamu kalau cape mbok yo istirahat." Ajeng menatap Aruna lekat-lekat, Aruna menjadi bingung kenapa Ajeng seperti itu.
"Mbak, apa benar semalam mbak dilamar mas Fikri?" Ajeng menggenggam kedua tangan Aruna dengan erat. Aruna jadi semakin bingung dengan sikap Ajeng.
Aruna mengangguk, "Kamu tahu dari siapa, padahal baru semalam lhoo."
Ajeng tiba-tiba menghempaskan tangan Aruna, hal itu membuat Aruna terkejut.
"Dan mbak menerimanya?" Lagi-lagi Aruna mengangguk, tapi Aruna semakin bingung kenapa nada bicara sepupunya itu seperti sedang jengkel padanya.
"Kenapa menerimanya mba?" Nah kah, Aruna mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa juga menolak?" Aruna malah balik bertanya pada Ajeng tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ajeng.
"Ya karena mas Fikri mencintai aku mba, hanya aku, dan kami saling mencintai." Aruna melongo, ucapan Ajeng bagai petir di siang bolong.
"Maksud kamu apa Jeng? datang-datang malah marah dengan mba, kita bisa selesaikan baik-baik, bicara baik-baik jangan mengeraskan suara seperti itu." Aruna beranjak dari tempat duduknya, ia memegangi dadanya yang bergetar karena terngiang-ngiang ucapan Ajeng.
"Mbak, aku mohon, batalkan lamaran kalian?" Aruna berbalik melihat Ajeng dengan wajah melasnya.
"Maksud kamu apa sih? lamaran ini bukan main-main, mbak harus memberi alasan apa? sementara orangtua mas Fikri dan orangtua mbak sudah menyetujui lamaran tadi malam." Aruna *******-***** jemarinya. Ia mempunyai firasat tidak enak.
"Mbak nggak tahu kisah kami." Ajeng menunduk, tidak berani menatap Aruna.
"Memangnya ada kisah apa di antara kalian?" Aruna jadi penasaran, pengetahuannya yang begitu minim dengan gosip-gosip yang beredar di kampungnya membuatnya sama sekali tidak tahu menahu perihal Ajeng dan mas Fikri.
Ajeng akhirnya bercerita bahwa sebelum mas Fikri melamar Aruna, mas Fikri pernah berpacaran dengan Ajeng selama setahun ini. Mas Fikri juga berniat baik untuk menikahi Ajeng, namun sayangnya keduanya terhalang oleh weton. Ibunda mas Fikri melarang keras terjadinya pernikahan antara Mas Fikri dengan Ajeng.
Orangtua mas Fikri lalu menjodohkan wanita yang menurut mereka hitungan tanggal lahirnya pas. Ajeng tidak menyangka jika ternyata yang dijodohkan adalah Aruna, hal itu membuat Ajeng begitu terluka.
__ADS_1
"Mbak, cintaku terhalang gara-gara weton." Tangis Ajeng pecah. Aruna langsung menghampirinya dan duduk di sebelahnya, mengusap bahunya dengan lembut.
"Mbak, kami saling mencintai, tolong mbak batalkan." Aruna menjadi bingung dengan permintaan Ajeng yang menurutnya tidak mudah, karena orangtuanya pun menyukai mas Fikri.
"Ajeng, kamu percaya kan takdir jodoh? doakan yang terbaik untuk aku dan mas Fikri, dan tak lupa berdoalah pula untuk pertemuan yang indah untukmu.
Kamu harus mengerti, bahwa jodoh memang punya jalan ceritanya masing-masing dan Allah SWT telah merencanakan pertemuan yang indah untukmu pula suatu hari nanti. Sehingga jangan khawatir pada jodohmu." Ajeng malah semakin menangis sesenggukan.
"Ajeng, maafin mbak, mbak bingung harus mengatakan apalagi sama kamu selain memintamu untuk menerima semua ini." Aruna tidak mungkin membatalkan semuanya begitu saja ketika kedua belah pihak keluarga sudah menyetujuinya. Aruna tidak ingin mempermalukan kedua orangtuanya.
"Kamu bisa mendapatkan yang terbaik, yang lebih-lebih dari mas Fikri." Aruna semakin berusaha untuk menenangkan Ajeng.
Ajeng menggeleng, "Aku tidak mau dengan yang lain mbak, aku dan mas Fikri..."
"Eh ada Ajeng..." Abah masuk begitu saja ke dalam kamar Aruna ketika mendengar suara Ajeng dari luar. Ajeng langsung buru-buru menyeka air matanya.
"Eh Abah." Ajeng berdiri lalu menghampiri Abah, Ajeng mencium tangan abah.
"Pakde sehat?"
"Alhamdulillah, baru sampai yah dari Bandung?" Ajeng mengangguk.
"Ya sudah lanjutkan lagi mengobrol nya."
"Ngobrol di teras saja yuk Jeng." Aruna sengaja mengajak Ajeng ke teras, ia ingin Ajeng lebih tenang, dari pada di kamar terus menangis. Ajeng dan Aruna duduk di teras. Eh ternyata, di teras ada mas Fikri.
"Ajeng..." Mas Fikri beranjak dari tempat duduknya. Aruna melihat manik mata keduanya, sepertinya benar, pernah ada cinta diantara keduanya. Yang disapa saja Ajeng, bukan Aruna.
"Lhoo mas Fikri kapan kesini?" tanya Aruna basa basi. Anggap saja tidak tahu menahu perihal masalalu dua sejoli yang ada di depannya ini.
"Baru saja, tadi sama Abah di sini ngobrol, eh Abah masuk ke dalam sebentar." Aruna mengangguk. Aruna mengajak Ajeng duduk bersama.
Aruna melihat keduanya saling lirik seperti canggung. Tapi Aruna bisa melihat dari keduanya yang masih terlihat begitu jelas masih saling mencintai.
Entahlah, tapi hati Aruna baik-baik saja tanpa ada rasa cemburu sedikitpun. Ya tentu saja karena ada pria lain di hati Aruna.
"Mas fikri pasti kenal Ajeng kan?" tanyaku ingin tahu jawaban mas Fikri.
"Kenal, kan tetangga." Aruna mengangguk.
__ADS_1
"Oh ya, aku buatin minum dulu yah, Ajeng temani mas Fikri dulu yah." Aruna beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke dapur. Sengaja Aruna melakukan hal demikian agar Ajeng dan mas Fikri ada kesempatan bicara.
Aruna sudah pasrah dengan perasaannya. Apapun yang terjadi nanti, biarlah Allah saja yang menentukan jalannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Maaf seribu maaf baru bisa up lagi, emak rasanya lagi puyeng sekali, masalah datang bertubi-tubi, silih berganti, tak mau berhenti, sehingga emak belum bisa up lagi🤭 Kalian semua mudah2an maafin emak)
Oh ya emak ada kabar terbaru, akan ada 2 novel yang akan emak cetak jadi buku, tapi ada cuplikan dari episode 1-15 di noveltoon ini. Silahkan dibaca, siapa tahu minat🤭
Salam sayang,
SantyPuji
__ADS_1