Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Menikah itu tak seindah cerita novel


__ADS_3

Aruna kini sedang rebahan di kasur kamar kos nya. Aruna dan Narayan pulang siang tadi, karena sudah tidak ada lagi yang perlu di kerjakan.


Lala tiba-tiba langsung menclok sebelah Aruna. Aruna langsung melirik teman satu kosnya itu.


"Lemes banget, habis ngapain sih di Bali?" Ledek Lala sambil colak colek lengan Aruna.


"Jadi suster," ceplos Aruna. Lala mengerutkan dahinya.


"Maksudnye gimane jamileh? segala jadi suster?" Lala jadi kebingungan mendengar jawaban dari Aruna.


Aruna menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia lalu menceritakan tentang pekerjaannya di Bali dan pengalamannya merawat bos sengklek.


"Awww aku mau banget kalau jadi susternya bos ganteng," jerit Lala histeris sambil memegang kedua pipinya. Kini Aruna yang keheranan dengan sikap Lala.


"Hih, belum ngrasain aja, dia tuh, haduh kalau sakit, rewel kaya orang nyidam," ucap Aruna.

__ADS_1


"Ih nggak apa-apa, yang penting bisa berduaan di kamar sama bos ganteng Run, eh tapi kalian di kamar nggak ngapa-ngapain kan?" ledek Lala sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Aruna langsung mendelik lalu menyomot mulut Lala.


"Hih piktor yah, dia lagi sakit La, lagi sakit." Lala malah tergelak.


"Iya iya, sorry say sorry, tapi reaksi bos gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana, biasa lah, masih sakit juga masih aja ngegombal lah, bilang pengen di rawat aku selamanya lah, untung hati aku sekuat baja, jadi aman lah. Coba kalau hati aku kaya kantong kresek yang goceng dapet 50 lembar, langsung ambyar La, remuk dimainin tuh sama playboy cap kuda terbang," ujar Aruna.


"Ih Run, aku kalau jadi kamu udah langsung mau, nggak bakalan aku tolak, dapet suami CEO ganteng, kaya raya, perhatian, pastinya juga romantis banget, haduh udah kaya di novel-novel Run, ah kan aku juga pengen. Kenapa sih mesti di tolak, aneh ih," cerocos Lala.


Aruna menghela nafasnya, "Hemm, rubah deh ekspektasi kamu tentang pernikahan yang bakal kaya di novel-novel, diromantisin, dibelai-belai kaya kucing, dimanja-manja. Kata mama pernikahan itu nggak seperti itu, pernikahan tidak seindah yang ada di novel-novel. Kata mama, suami itu ibarat bayi besar, kita harus menurutinya, kita yang harus elus-elus suami, kita sebagai istri yang nanti harus manja-manjain suami, jadi kita harus persiapkan itu semua. Jangan bermimpi jadi Cinderella deh. Tapi kita jangan sampai takut menikah, justru kita harus siap menikah, siapin mental gitu. Kata mama jangan bayangin yang indah-indah nya saja, nanti salah kaprah, tidak terpenuhi justru malah menjadi beban dihati. Pak Nara sudah terlihat jelas bibit-bibit bayi besarnya."


"Iya sih Run, tapi coba bayangin kalau nikah sama pak Nara, badannya besar, kalau dipeluk pasti hangat banget, ah kotor banget ini otak." Lala menjitak kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Yee, sudah dibilang tadi, menikah itu nggak cuma enak-enaknya doang Lala, apalagi masalah ranjang, banyak kasusnya kok perceraian karena sudah tidak mau melayani sang suami, atau karena suami lebih senang tongkrongan di luar dari pada melayani istri. Giliran belum nikah, ngebet tuh pengen cepat weka weka, giliran sudah menikah setahun dua tahun, eh justru sering nolak🤭. Kalau sudah menikah macem-macem ujiannya, syetannya banyak," ucap Aruna. Aruna sering mendapat wejangan dari orangtuanya karena Aruna sudah dewasa, orangtuanya ingin Aruna menjadi istri yang baik suatu saat nanti dan mendapatkan laki-laki yang baik pula.


"Iya sih, temen kantor juga ada yang suka galau gitu Run, sudah menikah."


"He,em ... Rumah tangga kan ibadah seumur hidup, tau sendiri kan, ibadah itu bukan sesuatu yang gampang, banyak ujiannya. Kalau banyak rendang, kikil, bawal itu namanya rumah makan Padang," ucap Aruna sambil terkekeh.


"Tadi kan kata kamu pak Nara playboy nih, kalau pak Nara sudah pensiun dini dari dunia indehoy nya, kamu mau nerima nggak kalau dia ngajak nikah lagi?" tanya Lala.


Aruna terdiam sejenak, kemudian tersenyum, "Ya kalau datang ke rumah, meminta langsung pada Abah, dan Abah mau, ya insyaallah mau menerima."


"Cie...kamu juga sebenarnya demen juga," ledek Lala sambil mencolek dagu Aruna.


"Ih nggak gitu,"


"Cie cie, iya juga nggak apa-apa aku dukung." Lala tak hentinya meledek Aruna.

__ADS_1


☘️☘️☘️Bersambung...☘️☘️☘️


__ADS_2