
(Masih di dalam Mall)
Baby Ayumi tidur dalam dekapan Aruna. Narayan menghentikan langkah Aruna yang terus saja berjalan tiada henti. Narayan sampai terheran-heran, kenapa wanita begitu kuat sekali tawaf di Mall tanpa rasa pegal kakinya.
"Berhenti Run, masuk ke dalam sana yuk," ajak Naraya menarik lengan baju Aruna. Aruna ngikut dong akhirnya.
"Ini kan toko jilbab, mau beliin jilbab buat siapa? perasaan cewe bos semua pakai baju tarzan." Narayan melirik Aruna, lalu menunjuk dengan jemarinya ke arah Aruna.
"Hah buat saya bos?" Narayan mengangguk.
"Jangan bos, jilbab saya sudah banyak kok." Aruna menolak dibelikan jilbab karena memang sudah banyak jilbab yang ia koleksi.
"Masa sih, perasaan kamu tiap hari jilbabnya itu terus, coklat terus." Narayan melihatnya memang demikian adanya.
"Enak aja, setiap hari saya ganti jilbab kok, sama seperti bos setiap hari ganti pacar," celetuk Aruna. Eh si bosnya hanya terkekeh.
"Ya sepenglihatan saya kamu jilbabnya coklat coklat terus, nanti kalau Abah Hilman tau, anaknya punya jilbab satu doang, dikira saya tidak bisa menggaji kamu dengan layak," ujar Narayan. Narayan cukup mengenal ayah Aruna karena sewaktu Narayan kecil mereka bertetangga.
"Hih, dibilangin yah, saya punya banyak jilbab, kebetulan saya suka banget warna coklat, tapi nggak cuma coklat yang saya pakai doang kok, nih ada coklat tua, coklat milo, Coklat Caramel Babylights Coklat Permen, Coklat Cool, Coklat Rosegold, Coklat Bronde, Coklat Agak Merah, Coklat Merah Pirang, Coklat Merah Maroon, dan masih banyak lagi coklat yang lainnya," ucap Aruna. Narayan mengusap tengkuknya, ia tidak faham dengan warna-warna yang Aruna sebutkan.
"Ah, nggak ngerti, udah jangan coklat semua, itu banyak warna lain Run, saya pilihkan yah." Tanpa menunggu jawaban Aruna, Narayan langsung saja memilih beberapa jilbab segi empat lalu langsung menuju kasir dan membayarnya.
Setelah membayar, Narayan memberikan paperbagnya pada Aruna.
__ADS_1
"Dipakai lhoo Run." Aruna mengangguk sambil mengucapkan terimakasih.
Selanjutnya mereka berkeliling mall lagi, membeli beberapa cemilan dan es cream. Narayan merasa sangat senang hari ini, tidak pernah sebelumnya ia bisa mengelilingi mall sambil bercanda dan makan es cream. Apalagi sambil membawa balita.
Narayan hanya sibuk mengurus kerjaan dan mengurus percintaannya, tidak pernah sesantai ini. Jalan berdua dengan Aruna mengingatkan masa kecilnya yang waktu itu masih sangat indah, sebelum datang badai dalam kehidupannya.
"Na, Abah sehat?"
Aruna mengangguk, "Alhamdulillah, setiap hari video call kalau saya pulang kerja."
"Ayah dan Ibu bos juga sehat kan?" tanya Aruna. Narayan terkejut dengan pertanyaan Aruna. Wajah Narayan berubah menjadi masam.
"Alhamdulillah sehat juga Run, eh kita kesana yuk, makan dulu sebentar sebelum balik lagi ke kantor," ajak Narayan. Aruna mengiyakan ajakan Narayan, mereka berdua menuju resto terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor.
***
"Habis dari mana saja kalian?" tanya mbak Hanin.
"Habis training jadi ibu dan ayah mbak," jawab Narayan terkekeh. Aruna langsung memukul lengan bosnya.
"Maaf mbak, tapi pak Nara yang ngajakin ke mall," jawab Aruna. Mbah Hanin tersenyum lalu berterima kasih pada Aruna karena telah menjaga Ayumi dengan baik.
Aruna lalu meletakannya baby Ayumi di sofa karena masih tertidur. Narayan mengambilkan bantal untuk Ayumi dan memastikan Aruna menidurkan Ayumi dengan benar.
__ADS_1
"Kalian nikah aja sih, serasi lhoo," celetuk Mbak Hanin sambil mesam-mesem. Sementara Aruna langsung terkejut dengan ucapan mbak Hanin.
"Aruna nya pilah pilih mba, katanya saya bukan typenya," ceplos Narayan.
"Ya iya lah harus pilih-pilih, mau beli baju aja pilih-pilih, mau makan saja pilih-pilih tempat yang bersih, nyaman, sehat, apalagi mau cari suami yang akan jadi teman hidup seumur hidup bapak," ucap Aruna. Mbak Hanin langsung mengacungkan jempol pada Aruna.
"Benar sekali Run, makanya sudahi petualangan gonta ganti wanitanya Nara, Aruna juga pasti eneg liat kamu begitu terus," ucap Mbak Hanin. Aruna tersenyum, mbak Hanin memang paling faham.
"Tapi kalau Nara mau berubah, kamu mau nerima dia nggak Run, dulu waktu kecil kalian kan suka banget main peran mamah papahan, sekarang sudah besar, wujudkan lah?" ledek mbak Hanin. Wajah Aruna langsung bersemu merah.
Aruna jadi teringat waktu kecil, ia begitu akrab dengan Narayan, bahkan kemanapun Narayan pergi bermain disitulah ada Aruna membuntuti.
"Pasti Aruna mau lah," ucap Narayan dengan penuh percaya diri.
Mbak Hanin melirik Narayan, "Memangnya punya apa kamu bisa meyakinkan Aruna dan Abahnya?"
"Hih, mbak mah remehin Nara terus, nih Nara sebutin yah, dengerin Run, Aruna, Aruna dengerin juga dong, nih kelebihan saya itu kalau habis mandi, handuknya langsung di jemur, kalau mau ambil baju juga, saya angkat dulu nggak langsung ditarik," jawab Narayan. Eh langsung dapat lemparan pulpen dan Mbak Hanin, Narayan malah tergelak.
"Mbak Hanin setiap pagi selalu marahin suaminya masalah handuk dan lemari berantakan, kalau saya jadi suami kamu Run, saya jamin pagimu akan selalu indah, nggak pake acara emosi," celetuk Narayan tergelak dan langsung mendapat pelototan dari kakaknya. Aruna hanya geleng-geleng kepala melihat bos dan kakaknya bertempur.🤣🤣🤣
☘️☘️ Bersambung ... lanjut nanti malam seperti biasa☘️☘️
Jangan lupa like, komen dan Vote. Author sudah semangat nih, jangan lupa juga share di sosmed kalian yah novel ini, terimakasih.
__ADS_1
Salam Sayang,
Santy Puji