
"Kamu kok cuma sehari ke Semarang? nyasar? apa gimana?" tanya Hanin pada adiknya. Padahal kemarin Nara sudah meminta izin padanya akan ke Semarang selama beberapa hari.
Nara menggeleng, "Belum sempat kesana, kapan-kapan sajalah mbak."
"Kamu jangan bohong Nara, dari kecil kamu sama mbak, mbak tahu kalau ada sesuatu yang kamu tutup-tutupi. Kamu kenapa? jangan suka menyimpan masalah sendirian." Hanin terus mendesak adiknya karena prasangka nya memang Nara seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku nggak apa-apa mbak."
"Nara..." Hanin mendelik.
"Aruna dilamar sama tetangganya."
Hanin begitu terkejut mendengarnya. Ia menghela nafasnya saat melihat wajah adiknya yang begitu sendu saat mengatakan tentang Aruna.
"Kok bisa? bukannya kalian saling sayang?"
Nara mengendikan bahunya, "Aku juga kurang faham detailnya, tapi yang jelas, orangtua mereka memang sepakat sebelumnya. Aku telat beberapa menit saja waktu itu mbak, tapi..."
Suara Nara mulai parau. Hanin beranjak dari kursi kerjanya. Menghampiri adiknya yang sudah duduk di sofa.
"Sabar yah, mungkin ini yang terbaik. Allah lagi pengen kamu fokus mencintai Nya Nara, kamu harus faham kode dari Allah." Hanya itu yang bisa Hanin katakan pada adiknya, memberikan semangat karena memang Narayan sudah berniat ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Ujian hijrah seorang Narayan, ketika Aruna yang dia cintai memutuskan pinangan lelaki lain, itu adalah bagian dari takdir dan kehendak Allah. Bukankah Allah yang mempertemukan dan memisahkan? Semua sudah terskenario dengan sangat baik dari Allah. Narayan sedang belajar kepasrahan dan menggantungkan harapan hanya pada Allah saja. Narayan berharap Semoga Allah memberikan pengganti yang lebih baik.
Selain merasa menyedihkan, Nara juga merasa Sungguh amat beruntung, karena menurut Kang Agus orang-orang yang ketika ditimpa kegagalan, kesedihan, kekecewaan, ditinggalkan dan kejadian yang menyakitkan lainnya, dia menjadikannya sebagai jembatan untuk hijrah menjadi lebih baik dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Itu adalah termasuk orang yang beruntung.
"Sudah sana, jangan menambah kesedihan aku lagi, sana pulang jagain Ayumi saja," celetuk Narayan. Hanin langsung berdecak, memang sangat menyebalkan adik lelaki satu-satunya ini. Hanin beranjak dari tempat duduknya, ia lalu pergi meninggalkan kantor Narayan.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Aruna merapikan baju-baju yang akan ia bawa kembali ke Jakarta. Ada beberapa yang harus ia tinggal karena memang dirinya akan kembali hanya untuk 1 bulan saja, setelahnya Aruna akan mengundurkan diri karena ia harus tinggal di kampung dengan Fikri nanti setelah menikah.
"Nduk..." Aruna melihat ke arah pintu. Suara lembut ibu memecah keheningan kamarnya.
"Iya bu..."
Ibu menghampiri Aruna lalu duduk disampingnya sambil mengelus pundak Aruna.
"Hati-hati nanti kalau sudah sampai Jakarta, ingat kamu sudah dilamar, harus lebih dijaga lagi marwahmu sebagai calon istri, intinya jaga diri baik-baik, ujian mendekati hari pernikahan itu banyak."
Aruna mengangguk, ia mengerti, nasihat ibunya insyaallah akan ia jalankan. Ibu mengatakan demikian karena beliau begitu menyayanginya. Sebaik-baik bentuk kasih sayang adalah sebuah nasihat.
"Ibu juga di sini jaga kesehatan yah, ibu mau lihat aku bersanding di pelaminan kan, jadi ibu, abah harus sehat." Ibu tersenyum, Aruna melihat kebahagiaan yang begitu terpancar dari mata ibunya. Sebahagia itu ternyata.
Aruna menggeleng, "Diantar Abah saja bu, jangan merepotkan mas Fikri."
"Dia tidak merasa direpotkan, dia sudah bilang sama abah katanya mau ikut antar kamu ke terminal nanti."
Mau tidak mau Aruna mengangguk, mas Fikri memang sangat tahu kelemahannya, yaitu orangtua.
☘️☘️☘️
Sore harinya sebelum berangkat ke terminal, Ajeng datang menemui Aruna.
"Mau ikut juga kamu Jeng?"
__ADS_1
Ajeng mengangguk, "Iya dong, boleh kan?"
Aruna jelas mengangguk, tidak ada alasan baginya untuk menolak sepupunya untuk mengantarkannya, hanya saja nantikan bukannya mas Fikri juga ikut mengantarkannya, apa mereka berdua sudah saling bertukar janji untuk bertemu. Entahlah. Aruna pasrahkan semua pada Allah.
Aruna sudah berada di titik pasrah. Apapun yang Allah kehendaki, akan coba untuk menjalani. Hanya sebuah kepercayaan yang sangat amat besar pada Allah bahwa jalan hidupnya pastilah itu yang terbaik yang harus dijalani.
"Jadi LDR dong sama tunanganmu?"
"Hanya sebulan, setelah itu aku mengundurkan diri."
"Apa?" terlihat begitu jelas ketika Ajeng terkejut, wajahnya langsung muram ketika mengetahui jika pernikahan Aruna dan fikri akan dilangsungkan sebulan lagi.
"Iya, jadi aku cuma kerja satu bulan lagi, setelah itu akan menetap di sini."
"Apa nggak sayang, kamu kan sudah jadi sekretaris bos, mas Fikri juga pasti ngerti kalau kalian LDR."
"Tapi, itu justru keinginan mas Fikri."
"Owh." Wajah Ajeng kembali muram karena ternyata justru mantan kekasihnya yang tidak mau jauh-jauh dari Aruna.
"Na, tas yang mau kamu bawa yang mana? biar aku bawakan."
"Nggak usah repot-repot Jeng."
"Ish, nggak apa-apa, nggak tiap hari kok," ucap Ajeng sambil terkekeh. Aruna menunjukkan tas ranselnya. Ajeng langsung menggendongnya di punggungnya.
"Nanti dulu, aku tas kecilku dulu, masih di kamar." Ajeng mengangguk, ia kembali menurunkan tas ransel milik Aruna lalu mengambil amplop yang ada di saku celananya. Setelah itu memasukan amplop tersebut kedalam tas Ransel Aruna.
__ADS_1
Kamu harus tahu semua masalalu tentang aku dan mas Fikri, Na. Aku tidak mau kamu menjadi korban dari perjodohan ini.