
Jamaah mushola kantor terlihat terkejut ketika imam mengucapkan salam lalu melanjutkan dengan berdzikir karena ternyata yang menjadi imam tadi adalah bos Nara.
Aruna juga ikut terkejut ketika mengetahui hal tersebut. Sudah 2 bulan ini si bos tidak pernah lembur seperti biasanya. Eh sekarang sudah begitu percaya diri menjadi imam untuk karyawannya.
Selesai salat, Aruna kembali ke ruangan kerjanya, si bos ternyata mengikutinya dari belakang. Aruna menyadari hal tersebut.
"Kenapa bos? mau saya pesankan makanan?" Si bos menggeleng.
"Apa mau makan ini, bareng saya?" si bos melihat kotak bekal yang dibawa Aruna. Narayan mengangguk.
"Ih nggak modal dasar." Narayan tergelak mendengar celetukan Aruna. Narayan penasaran Aruna masak apa, masakan di luar terkadang membuatnya bosan.
Aruna membuka kotak bekalnya, lalu memberikan sendok yang ia bawa untuk bosnya, ia beranjak dari tempat duduknya hendak mengambil sendok lagi.
"Mau kemana?" tanya Narayan.
__ADS_1
"Mau ambil sendok?"
"Udah sih ini aja satu buat berdua, tenang, saya nggak TBC Run." Narayan langsung menyendokkan makanan untuk Aruna.
"Aaaa... buka mulutnya Run." Aruna menatap Narayan, bosnya ini terkadang suka melakukan hal yang tidak terduga. Aruna membuka mulutnya, Narayan langsung menyuapinya. Hati wanita mana yang tidak luluh jika diperlakukan seperti ini.
Setelah menyuapi Aruna, kini giliran Narayan yang makan. Narayan mengangguk-angguk seolah-olah cocok dengan masakan Aruna.
"Enak, sudah cocok jadi istri saya ini," ucap Narayan sambil terkekeh. Aruna terdiam, ia mengambil sendok di tangan Narayan, Aruna tidak ingin disuapi.
"Run, sudah 2 bulan ini kan kamu nggak pernah melihat lagi wanita wara wiri di kantor ini, sudah 2 bulan ini saya mencoba terus memperbaiki diri. Memperbaiki hubungan saya dengan ibu saya juga, walaupun sedikit demi sedikit. Saya mulai merasakan ketenangan Aruna, ketenangan yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan, terimakasih ya, ini semua berkat dukungan dari kamu, pastinya doa dari kamu juga." Narayan melepaskan genggaman pada sendok nya.
Aruna tersenyum, "Terkadang hidup kita butuh digelapkan dulu oleh Allah bos, agar kita mampu melihat cahayaNya dengan jelas. Terkadang kita butuh dicuekin dulu oleh manusia agar kita sadar bahwa Allah lah satu-satunya tempat kita menaruh harap. Terkadang kita butuh dijatuhkan sejatuh-jatuhnya agar kita tahu di mana tempat bersandar kita yang sesungguhnya. Semangat bos." Aruna mengepalkan telapak tangannya, berusaha terus menyemangati bosnya.
"Tapi luka di sini masih terasa Run," Narayan memegangi dadanya. Luka masalalu yang disebabkan oleh ibunya membuat Narayan kesulitan untuk bangkit dan move on. Namun Narayan tetap akan berusaha sebisa mungkin agar bisa memaafkan ibunya.
__ADS_1
"Saya faham, pasti itu tidak mudah. Tapi saya sarankan jika terluka jangan katakan semoga Allah membalasnya tapi katakan ini balasan atas segala kesalahan yang saya lakukan, jangan merasa paling tersakiti, kadang kita juga bisa menjadi luka Bagi orang lain. Saya menerapkan prinsip itu bos, biar saya nggak memiliki penyakit hati." Aruna juga jelas pernah merasakan kecewa karena orang lain.
"Intinya Jangan mencintai makhluk terlalu dalam kecuali kita yakin orang tersebut mencintai sama dalamnya, karena kedalaman cinta kita hari ini adalah kedalaman luka kita nanti. Seseorang yang berpeluang menyakiti justru orang yang kita cintai malah," sambung Aruna. Narayan membenarkan apa yang diucapkan Aruna. Ketika Narayan mulai fokus mencintai Tuhan-nya justru dari situ Narayan mendapatkan ketenangan, Tuhan tidak mungkin mengecewakannya.
"Run..."
"Hemmm"
"Run, boleh nggak saya lamar kamu." Ucapan Narayan membuat Aruna terdiam. Bingung mau menjawab apa, apakah ini sudah saatnya untuk serius menanggapi ucapan bosnya.
"Main-main lah ke abah, biar abah yang menyeleksi." Aruna memberikan jawaban itu karena yang terpenting dalam suatu hubungan adalah restu orang tua.
"Berarti boleh dong?" Aruna mengangguk. Narayan langsung senang bukan main.
Ponsel Aruna yang tergeletak di mejanya berdering, terdapat kontak nama Abah memanggilnya melalui panggilan vidio call. Aruna begitu senang, ia langsung menerima panggilan dari Abah. Tapi saat sudah tersambung yang terlihat bukanlah wajah abah, melainkan wajah lelaki yang Aruna tidak mengenalinya sama sekali.
__ADS_1