Tobatnya Sang CEO

Tobatnya Sang CEO
Minta Maaf


__ADS_3

1 jam berlalu, Narayan kembali ke ruangannya, tapi sebelum itu ia menuju meja kerja Aruna terlebih dahulu. Aruna yang menyadari kedatangan bosnya langsung menunduk, siap-siap meluncurkan kalimat permintaan maafnya.


"Nih, sarapan dulu Run." Narayan memberikan kotak makan untuk Aruna yang ia letakan di atas meja Aruna. Aruna jadi bingung kan, marah tapi perhatian.


"Pak maaf ya tadi saya..."


"Saya minta maaf ya Aruna, saya salah, seharusnya tadi saya tidak bentak kamu, maaf yah." Aruna langsung saja mengangguk, Aruna justru merasa aneh, tadi saja garang menakutkan, sekarang merayu penuh kelembutan. Baru beberapa menit saja sudah berubah suasana.


"Ya sudah, setelah makan ke ruangan saya yah, beritahu saya jadwal hari ini, saya lupa lagi." Aruna kembali mengangguk. Narayan berlalu hendak menuju ruangannya.


"Pak..." Panggil Aruna. Narayan menengok ke arah Aruna.


"Makasih ya Pak." Narayan mengangguk sambil tersenyum. Duh senyumannya selalu manis, madu rasa saja kalah manis pokoknya.

__ADS_1


Aruna kembali duduk di tempat kerjanya, lalu membuka nasi kotak yang bosnya beri. Ada nasi putih, oreg tempe kering, telur balado, sayur capcay dan krupuk udang. Aruna mengucapkan hamdalah untuk rejeki pagi ini.


☘️☘️☘️


Selesai makan, Aruna bergegas menuju ruangan Narayan, hari ini Aruna merasa kaku karena kejadian tadi.


"Pak, jadwal hari ini nanti jam 1 siang ada jadwal meeting di restoran Mega Mall." Narayan mengangguk, namun matanya tetap fokus ke layar leptopnya.


"Nanti sekalian beli sepatu yah." Aruna hanya mengangguk sesaat, ia lalu berjalan hendak keluar ruangan.


"Ya pak? ada yang bisa saya bantu."


Narayan beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri Aruna.

__ADS_1


"Maafkan saya yah, saya kasar sama kamu tadi, maaf juga saya belum bisa cerita, saya masih harus berdamai dengan hati saya." Aruna melihat mata bosnya penuh kesedihan yang mendalam.


Aruna hanya mengangguk, bingung juga ingin menanggapi apa.


"Aruna, beri saya sedikit semangat." Aruna menghela nafasnya, bosnya suka minta macem-macem saja, tidak tau permasalahannya tapi disuruh menyemangati.


"Pada akhirnya akan ada satu waktu dimana bapak merasakan apa yang dinamakan ikhlas. Hati bapak telah lapang menerima segala ketetapan Allah, hingga ketentraman dan ketenangan menjadi teman baik. Tidak apa-apa jika sekarang ini bapak masih belum berdamai dengan masalah-masalah bapak, Berjalanlah dan berproseslah melewati apa yang seharusnya dilewati. Yakinlah masa itu akan tiba jika sudah waktunya. Bersandarlah pada Allah, semua pasti akan baik-baik saja." Aruna tiba-tiba saja mengatakan hal demikian, entahlah ia mendadak mendapat keberanian untuk mengatakan walaupun tidak tahu permasalahan yang sedang bosnya rasakan.


Narayan mengangguk perlahan, kepalanya menengadah, Aruna melihat mata pak Nara berkaca-kaca, Aruna tahu tujuan pak Narayan menengadahkan kepalanya. Tapi Aruna jadi penasaran, hal apakah yang membuat seorang Narayan bisa terharu seperti ini. Apakah masalahnya begitu pelik. Aruna segera sadar dari rasa penasarannya agar tidak ikut campur dengan masalah orang lain.


"Terimakasih ya Run, hati saya sedikit tenang, kamu memang selalu bisa nenangin hati saya." Pujian sibos membuat Aruna terdiam tidak bisa berkata apa-apa, apa iya sih dirinya sehebat itu, bisa menenangkan hati bosnya. Narayan lalu berjalan kembali ke meja kerjanya. Sekelebat harum parfumnya menyadarkan Aruna agar segera pergi juga, bukan malah terus terdiam. Aruna menggerutui dirinya sendiri, kenapa mendadak tidak fokus seperti ini.


"Ya sudah saya permisi ya pak." Narayan mengangguk. Aruna bergegas keluar dari ruangan Narayan.

__ADS_1


☘️☘️☘️Bersambung...☘️☘️☘️


__ADS_2