
Tidak lama setelah itu empat mobil hitam mendekati Tiara dkk+marsel berhenti tepat di depan mereka.
"nona muda saya datang untuk menjemput anda dan teman-teman anda" ucap sopir mobil.
......................
keesokan harinya di negara i lebih tepatnya di kediaman keluarga jovangka sudah ada mobil jenazah.
"Tiara his his his his his bunda masih tidak ikhlas dengan kepergian mu secepat ini his" tangis bunda sambil menutup mata yang bengkak akibat menangis sepanjang malam.
"sabar Bun biarkan dia tenang disana jika bunda terus-terusan seperti ini maka Tiara akan sedih melihat ini" ucap ayah tegar walaupun di dalam hati sungguh sangat tidak ikhlas dengan kenyataan bahwa putri satu-satunya sudah pergi tapi dia sadar itu semua sudah takdir yang tidak bisa di ubah.
"yang ikhlas mbak Tania saya tahu ko bagaimana rasanya kehilangan anak perempuan, rasa sakit tapi dengan berjalannya waktu pasti rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya" ucap seorang wanita.
"iya makasih mbak Lily, saya akan berusaha untuk mengikhlaskan Tiara sama seperti mbak Lily yang mengikhlaskan kepergian Tessa" ucap tania menghapus air matanya.
"bunda ayah maaf kami harus kami..." ucap harum tergantung ada rasa penyesalan dari diri harum dan Iqbal.
"his his his his his his his his his ini semua salah kalian jika saja kalian memeriksa di kerumunan maka kalian bisa narik Tiara pergi dari sana. walaupun dia memiliki sahabat yang bisa bela diri tapi yang mereka hadapi adalah mafia apa kalian pernah berfikir tentang itu"ucap Bayu sambil menatap mayat palsu Tiara.
"itu kami tidak menyangka bahwa akan seperti ini" ucap Iqbal mem,atung melihat mayat palsu Tiara.
"gue menyesal dengan apa yang selama ini gue lakukan terhadap Tiara" ucap harum mantap kosong kearah mayat palsu Tiara.
"hai Tiara Lo yang tenang di sana iya, gue tidak menyangka Lo pergi baru saja kita pertemu kembali setelah sekian lama apa Lo ingat dulu Lo selalu meminta permen kepada gue jika tidak dipenuhi Lo akan merengek mengadu kepada Iqbal dan harum" ucap Arya mengingat kenangan indah bersama Tiara dulu.
harum dan Iqbal yang mendengar tersebut langsung mengenang masa lalu saat Tiara palsu belum masuk ke dalam keluarga jovangka.
flashback.
"kak arwa Tia mau permen towong beliin yah" ucap Tiara kecil kepada Arya.
"tidak bisa nanti gigimu rusak" ucap Arya sambil mengelus rambut pendek Tiara.
"jawdi kak arwa tik mau" tiara menangis berlari kearah harum,Iqbal dan Tessa yang sedang bermain dengan Tessa.
"Kak haru kak Iqba Kak arwa jahat dia tidk mau beliin aku permen his his his" tangis Tiara kecil memeluk harum sambil menunjuk kearah Arya.
"Arya kau apakan adikku hingga dia dia menangis seperti ini" marah Iqbal.
"aku tidak melakukan apa-apa dia menangis karena aku tidak mau membeli permen untuknya" ucap Arya kecil.
"oh jadi begitu, nanti Kak harum belikan jadi Tiara tidak harus berhenti menangis oke" ucap harum mengusap rambut.
"bener in" ucap Tiara kecil melepas pelukannya dari harum sambil melompat lompat kecil.
"iyee, Wee hem" ucap Tiara sambil menjulurkan lidahnya kemudian memalingkan wajahnya kearah lain.
semua orang yang melihat tingkah Tiara kecil langsung tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya Pelang.
flashback end
__ADS_1
"his his his his maaf aku adik" ucap harum dan Iqbal bersama sambil memeluk mayat palsu Tiara.
"Ayah bagaimana dengan mayat teman-teman
tiara dan juga pacarnya" ucap bunda menatap mayat yang ada di depannya.
"kata pihak rumah sakit mereka sudah di jemput oleh pihak keluarga masing-masing" ucap ayah dingin sambil menatap sendu mayat Tiara.
skip pemakaman
"harum Iqbal ayo pulang" ucap bunda sendu.
"nanti bunda aku masih mau disini" ucap harum mengelus batu nisan.
"aku juga bunda" ucap Iqbal.
"baiklah kalo begitu tapi tidak boleh lama soalnya akan turun hujan, ayo ayah" ucap bunda.
bunda dan ayah pergi dari pemakaman tinggal harum dan Iqbal yang masih disana.
"adik kami akan mencari orang yang telah membunuhmu kami janji jadi yang tenang di sana dan maaf kami juga karena selama ini kami lalu mengabaikanmu" ucap Iqbal.
"iya benar apa yang di katakan oleh Iqbal walaupun mereka Mafia tapi kami tetap akan membalaskan apa yang di perbuat kepadamu" ucap harum.
"kami pergi" ucap Iqbaal Dan harum bersama pergi dari sana.
......................
"apa putri sudah bangun" tanya grandpa Kepada kepala pelayan.
"belum tuan besar nona muda belum bangun" ucap kepala pelayan.
grandpa yang mendengar tersebut langsung pergi ke kamar Tiara sesampainya di sana grandpa langsung membuka pintu kamar.
"sayang ayo bangun kita makan malam dulu kemudian kua bisa langsungkan tidurmu" ucap grandpa mengelus rambut Tiara.
"grandpa jaga ganggu putri masih mengantuk tadi putri mengerjakan banyak sekali berkas yang di bawa sekertaris ayah kesini belum lagi berkas dari kantorku" ucap Tiara.
"baiklah grandpa tidak akan menggangu lagi tapi ingat kalo kau merasa lapar turunlah dan makan ok" ucap grandpa mengelus kepala Tiara Kemudian langsung keluar.
"iya" ucap Tiara masih kembali menutup mata.
......................
dimansion keluarga Emilio
"ada apa kenapa Lo telpon gue" ucap marsel.
"keterlaluan banget sih Lo, Lo kirim mayat palsu supaya Lo dianggap mati disini" ucap devis kesal.
"memang kenapa Lo marah ini juga bukan keinginan gue, ini keinginan Ara jadi Lo tanya saja sama Ara bukan ke gue" ucap Marsel malas.
__ADS_1
"tidak mau" ucap Devis mematikan teleponnya.
"KALIAN SEMUA CEPAT TURUN JIKA TIDAK BUNDA AKAN BUANG MAKANNYA ATAU KASIH KE KUCING" teriak seorang wanita yang bernama desi.
Marsel turun dari kamarnya tidak lama kemudian dua orang pria dan wanita turun dari tangga
"bunda tidak usah teriak" ucap marsel duduk.
"benar tu apa yang di katakan adik bunda tidak usah teriak" ucap seorang gadis yang bernama Shintia.
"sayang kau hampir membuat pinggang ayah encok dengan teriak mu" ucap seorang pria yang bernama Iyan.
ayah Iyan dan Shinta Duduk di tempat mereka.
"bunda tahu teriak bunda hampir sama dengan teriak pacarku" ucap marsel tanpa sadar.
"apa kau punya pacar?" tanya bunda Desi dan ayah Iyan.
"astaga, jangan sampai bunda tahu kalo tidak maka Ara akan marah kepadaku" batin Marsel.
"tidak Marsel tidak punya pacar" ucap Marsel gugup.
"bener" ucap bunda desi mantap penuh selidik ke arah marsel.
"benar masa marsel bohong" alibi marsel.
"ya sudah jika kau berbohong" ucap bunda Desi.
"untung bunda percaya jika tidak" batin Marsel sambil membayangkan Tiara marah.
"sudah-sudah kita mulai saja makanya" ucap ayah Iyan memasukkan makanan ke mulutnya.
"baik" ucap mereka serentak kemudian memulai makan malam bersama.
......................
markas black dragon.
"Bayu yang sabar yah gue tahu bagaimana rasanya kehilangan cinta pertamanya, kalo Lo seperti ini terus maka tiara tidak akan pernah tenang di alam sana" ucap Arya.
"Hm, Lo benar" ucap Bayu memejamkan matanya sambil membayangkan tiara berada di sampingnya.
"Bayu bagaimana kalo Lo balas dendam atas kematian tiara saja supaya hati Lo tenang, hancurkan Mafia tersebut kita akan membantumu untuk balas dendam atas kematian orang yang Lo cintai" ucap Axel.
"gue pikir-pikir dulu" ucap Bayu sambil memikirkan ucapan Axel.
"apa itu tidak berlebihan!" tanya farel.
"baiklah sudah aku putuskan kita akan membuat mafia" ucap Bayu.
"Bayu jika ini keputusanmu maka gue juga akan membantumu sebagai sahabat" ucap Arya menepuk pundak Bayu kemudian keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1