Transmigrasi Sarah

Transmigrasi Sarah
keluarga Smith


__ADS_3

"mungkin ini sudah takdir kita mam, seadanya dulu kita percaya kepada Rian pasti sekarang dia masih bersama kita sekarang. mungkin ini karma karena sudah mengusir Rian dari rumah" ucapnya menarik tangan istrinya pergi dari sana.


......................


"ini semua kesalahanku yang terlalu mempercayainya" ucap Vania sedih.


"sudah kita pulang saja mam tidak usah di pikirkan nanti kita cari Rian sama-sama, ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Mama" ucapnya menenangkan istrinya yang sedang sedih.


mereka pergi dari mall setelah sampai di mansion mereka disambut oleh pelayan dan penjaga.


"cih, kalian baru pulang" ucap seorang wanita sinis.


"nak bisa kau tidak sinis kepada kami?" tanya Kenan menatap sendu anak perempuannya.


"tidak akan pernah sebelum adikku kembali ke sini. apa kalian pernah berpikir apa yang dilakukan adikku di luar sana setelah kalian mengusirnya. adikku pasti sedang kelaparan di luar sana sekarang atau kemungkinan dia sudah meninggal, apa kalian pernah berpikir. tentu saja tidak kalian hanya mementingkan ego kalian. kalian tidak ingin mendengar penjelasan ria dulu kalian hanya kalian hanya mendengar penjelasan dari orang lain bukan penjelasan Rian" teriaknya marah sambil meneteskan air mata lalu pergi dari sana.


"his his vanya" Isak Vania memeluk suaminya.


"sabar" ucapnya menenangkan istrinya yang sedang sedih.


"nak dimana kau, kakakmu Vanya sudah berubah semenjak kau pergi begitu juga dengan adikmu lex" batin perih melihat kemarahan dan kesedihan istri dan anaknya.


"gue benci kalian jika saja kalian mendengar penjelasan Kaka dia pasti masih disini" batin seorang laki-laki dia adalah Lex adik Marsel.


"jika buka karena kalian memaksaku dan Kaka Vanya mana mau pergi berlibur bersama kalian disini" batin Lex lagi lalu pergi menuju pintu keluar dengan koper.


"loh, Lex kau mau kemana dengan koper?" tanya Kenan.


"kembali ke negara i" ucap Tampa menoreh ke arah kedua orang tua.


"Lex kita masih berlibur disini dan kau mau kembali ke negara i kenapa?" tanya Vania melepas pelukannya.


"cih, kuliah" Lex pergi dari sana dengan raut wajah dingin dan datar.


melihat anaknya pergi membuatnya teringat kejadian dimana dia mengusir anak keduanya.


flashback on


seorang anak laki-laki yang berusia 7 tahun bersama dengan anak perempuan berusia 9 tahun. sedang bermain di taman depan rumah keluarga Smith dengan wajah senang.


"sudah mainnya kita pergi beli es krim, kalian mau kan" ucap seorang wanita Tua dengan mengendong seorang anak laki-laki mehampiri rian dan Vanya kecil.


"mau nek" teriak kedua antusias.


"nek Lex juga mau es krim" ucap Lex kecil yang masih masih berusaha 4 tahun.


"Lex juga mau es krim juga ternyata" ucapnya menurunkan Lex dari gendongannya.


mereka pergi menuju ke penjual es krim.


"pak tolong es krim tiga rasa coklat, vanilla dan stroberi"


"tunggu sebentar nyonya"


penjual tersebut mengambil tiga es krim lalu memberikannya.


"wah, kalian membeli es krim" ucap seorang pria sambil mendorong kursi roda.


"kakek" teriak mereka bertiga berlari kearah pria tersebut lalu memeluknya.


"kalian selalu bersemangat yah, haha" ucapnya sambil tertawa kecil.


"kakek" teriak seorang anak laki-laki dari jauh berlari kearah pria tua tersebut.


"Waldi, kau dari mana saja nak" ucapnya sambil mengelus-elus kepala Waldi.


"Waldi bermain disana" ucapnya menuju ke arah anak-anak yang sedang bermain.


"kakek Rian yang mendorong kursi roda kakek" ucap Rian pergi dari sana sambil mendorong kursi roda diikuti oleh yang lain.


"dia selalu saja mencari perhatian dengan kakek, lihat saja nanti seberapa lama dia akan seperti ini" batin Waldi tersenyum licik menyusul.


saat Waldi melihat Rian hanya berdua dengan kakek tersenyum licik.


"kak Rian aku mau membeli gulali, tolong belikan yah biar aku yang menjaga kakek" ucap Waldi.


"baiklah tunggu sebentar" ucap Rian Pergi dari sana.


"kakek kita jalan-jalan yah" ucap diangguki oleh kakek.


setelah melihat Rian sudah jauh Waldi mendorong kursi roda kakek ke pinggir jalan lalu mendorongnya dengan kencang.


"Waldi apa yang kau lakukan" ucapnya Pelang berusaha menahan kursi roda tapi sia-sia.


dari jauh dua orang yang melihat kejadian tersebut marah mereka adalah Vanya dan lex.


aakk


bruuk


mobil menabrak kakek dengan kecepatan tinggi yang membuatnya terpental jauh darah bercucuran dimana-mana.


orang-orang yang melihat kejadian itu langsung mengerumuninya sekedar melihat dan juga ada yang menelpon ambulans.


"kakek" teriak rian berlari sekuat menghampiri kakek.

__ADS_1


"kakek" teriak Vanya dan lex berlari kearah kakek sambil menatap marah ke Waldi.


"Rian apa yang kau lakukan terhadap ayahku" teriak seorang pria marah dia adalah Kenan.


"bukan aku yang melakukannya ayah, aku bisa jelasin tadi Rian pergi membelikan Waldi gulali tadi" ucapnya Pelang dengan raut wajah Takut.


"apa maksudmu bukan anda yang melakukannya haa, bukan sedari kakek bersama anda lalu siapa yang melakukannya, dan saya tidak percaya dengan ucapan anda pergi membeli gulali " teriak Kenan marah lalu menampar pipi Rian.


"apa-apa orang itu menampar pipi anaknya sendiri"


"kasihan sekali anak itu padahal bukan dia pelakunya tapi anak laki-laki yang memakai baju biru itu yang melakukannya"


"ayah mertua his" tangis seorang wanita Dia adalah vania.


"Uncle tadi Waldi melihat Rian membawa kakek ke sini"bohong Waldi.


"dia berbohong ayah dia yang mendorong kakek aku dan lex melihatnya tadi" teriak Vanya marah sambil menunjuk ke Waldi.


"kecil-kecil sudah pandai berbohong dia yang melakukannya malah menuduh orang lain"


"bagaimana jadinya jika dia sudah besar nanti"


"bukan aku yang melakukannya his his" tangisnya " tadi aku sedang bermain di sana lalu aku melihat kak Rian membawa ke sini" jelas.


"itu tidak benar papa bukan aku yang melakukannya" untuk Rian menangis.


tidak lama kemudian ambulans dengan segera ambulans memasukkan kakek ke mobil. setelah sampai di sr mereka langsung menangani pasien.


"nenek bukan aku yang melakukannya" ucap Rian memeluk nenek dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


"nenek tahu bukan Rian yang mendorong kakek" ucapnya melepas pelukannya sambil meneteskan air mata.


"Rian ikut mama dan papa pulang" ucapnya menarik tangan Rian kasar.


"Vanya dan lex juga pulang nanti kita kesini lagi" ucapnya Kenan lembut.


sesampainya mereka di rumah mewah pelayan langsung menyambut mereka. Vania tidak menghiraukan mereka dia pergi dengan menarik tangan Rian pergi ke kamarnya.


"bereskan barang-barangmu lalu pergi dari sini saya tidak ingin melihatmu lagi, saya menyesal telah melahirkan mu dari dunia ini" teriak Vania menutup pintu dengan kasar.


Rian kecil yang mendengar tersebut langsung menangis sejadi-jadinya lalu mengambil Koper lalu memasukkan semua barangnya. setelah Rian kecil memasukkan barang-barangnya dia langsung keluar dari kamar dengan membawa Koper.


"adik kau mau kemana dengan membawa Koper" ucap Vanya sedih.


"aku tidak kemana-mana kakak" ucap Rian tersenyum.


"anda sudah membereskan barang-barangmu jadi pergi dari sini dan jaga Pernah menginjakkan kakimu kesini lagi" ucap Vania mengusir Rian kecil.


"Rian tidak mau pergi dari sini mam"teriak Rian sambil menangis.


plak


"papa kenapa menampar pipi Kaka Rian apa salahnya" ucap Lex marah menghampiri lalu memeluk Rian diikuti oleh vania.


"menjauh dari anak pembawa sial itu Vanya lex" ucap Vania mengendong Lex dan menarik tangan vanya.


Kenan menghampiri Rian lalu menariknya keluar dari rumah dengan kasar lalu membuang Kopernya.


"papa keterlaluan harusnya Waldi yang diusir dari sini buka rian" berontak Vanya.


"sudah Kaka Vanya, aku akan pergi dari sini dan tidak akan pernah menginjakkan kakiku ke rumah ini. Kaka Vanya dan adik semoga kita bisa bertemu lagi di masa depan" ucap Rian pergi Tampa menoleh sedikitpun.


Vanya dan Lex yang melihat kepergian Rian langsung menangis sejadi-jadinya. Lex memberontak dari gendongan mama yang membuat Vania menurunkan Lex.


"aku benci papa dan mama" teriak vanya berlari kekamar nya.


"benci" ucap Lex berhenti menangis lalu pergi dari sana dengan raut wajah dingin dan datar lalu pergi ke kamar.


"haha, rasakan itu Rian selamat tinggal kakak sayang" batin Waldi tersenyum melihat kepergian rian dari kaca mobil.


"semoga kita tidak bertemu lagi untuk selama-lamanya" batinnya lagi lalu keluar dari mobil.


flashback end.


"his kemana kita harus mencarinya, dengan mulut ini aku mengatakan bahwa aku menyesal telah melahirkannya pasti dia marah denganku his" ucap Vania sendu.


Kenan yang mendengar tersebut langsung melihat tangannya yang sudah menampar pipi Rian kecil.


"ini sudah 13 tahun kita mencari setelah mengetahui kebenarannya tapi tetap saja kita tidak menemukan" ucap Kenan pergi kekamar diikuti oleh vania


......................


malam harinya


"bagaimana jalan-jalannya di mall tadi apa seru" tanya Marsel mengendong Alexa.


"seru ayah, tadi le membeli banyak buku dan juga le membeli komputer satu untuk bermain gema" ucap senang.


"Lex bagaimana dengan nak" ucap Marsel mengelus rambut Alex.


"tadi aku hanya membeli buku" ucap Alex diangguki oleh Marsel.


"ayah dan bunda bagaimana seru kencangnya " ejek Alex.


"mana ada bunda dan ayah tidak pergi kencan yah" elaknya.

__ADS_1


"bunda berbohong mana mungkin kalian tidak pergi berkencan setelah menemani ayah meeting biasakan seperti itu" ucapnya menebak.


"wah, anak ayah beramal yah" ucap Marsel takjub.


Tiara yang hanya mendengar sambil menggelengkan kepalanya dengan tingkah laku suami dan kedua anaknya.


......................


di negara i


di sebuah taman terdapat seorang pria dan wanita sedang berkencan di bawah pohon.


"yang kau mau tidak mengantarku ke makam adikmu tiara?" tanya sang wanita dia bernama Jia teman kelas Tiara dkk dulu.


"untuk apa kau kesana" ucapnya bingung sambil menaik turunkan alisnya.


"harum kau lupa kalo dulu aku teman kelas Tiara yah, walaupun aku dan teman-temanku jarang berinteraksi dengannya tapi aku sangat menyayanginya" ucapnya kesal.


"baiklah, ayo pergi ke sana kebetulan aku sudah lama tidak mengunjungi makamnya" ucap harum mengulurkan tangannya ke arah Jia dengan senang hati Jia menerima uluran tangan harum.


"tunggu bukan itu Karen dan Angga" ucap Jia menunjuk dua orang yang sedang bermesraan.


mereka menghampiri orang tersebut mematikan kalo itu memang Angga dan karen.


harum menepuk pundak pria tersebut membuatnya kaget pria tersebut menoleh siapa yang menepuk pundak.


"Lo membuat gue kaget tau tidak" ucap Angga kesal.


"ternyata benar itu Lo, kemana anak Lo" ucap harum.


"gue Titip di rumah orang tua gue selama seminggu untuk berkencan dengan istriku" ucap Angga Santai.


"Jia bagaimana hubunganmu dengan harum?" tanya Karen penasaran.


"baik kak, Kakak sendiri bagaimana kabarnya baikkan" tanya Jia tersenyum lembut.


"Kaka baik, harum kapan Lo menikah dengan Jia kalian sudah 2 tahun pacaran loh?" tanya Karen menoleh ke arah harum.


"secepatnya kalo bisa" ucap harum tersenyum.


"seperti kita tidak bisa lama disini soalnya kita mau pergi ke makam Tiara kalian mau ikut" ucap harum.


"kayaknya nggak deh" ucap Angga.


"yah, sudah kalo begitu kami pergi dulu Iyah" ucap harum pergi sambil menggenggam tangan Jia.


setelah harum dan Jia pergi Karen dan Angga menggelengkan kepalanya Pelang.


"bagaimana reaksi mereka setelah mengetahui makam tersebut bukan Tiara melainkan orang lain" ucap Angga mengetahui bahwa Tiara masih hidup.


"mungkin terkejut, sudah ayo pergi dari sini" ucap Karen menarik tangan Angga.


......................


di negara g


"Gue sudah mengatasi penghianat itu jadi mungkin kita bisa kembali ke negara i besok pagi" ucap alex.


"bagus kalo begitu" Bayu pergi dari sana.


"Gilang loh punya rencana untuk membatalkan pertunanganku dengan wanita itu"


"pikir saja sendiri, gue nggak mau berurusan dengan mama Loh, yang seram itu jika marah" ucap Gilang membayangkan kemarahan mama bayu.


......................


di negara i.


di ruang gelap yang minim cahaya terdapat 5 orang yang sel dengan rantai di tubuh mereka.


"tolong bunuh saja kami, kami tidak sanggup lagi" gumam salah satu dari mereka.


seorang penjaga masuk kedalam sek tersebut dengan membawa makanan.


"pak tolong bunuh saja saya" ucapnya Pelang.


penjaga yang mendengar tersebut hanya menghiraukan mereka tampa rasa kasihan sama sekali.


"maaf semua saya tidak bisa melakukan kecuali dia" ucap penjaga menaruh makanan tersebut.


"kalian lihat mereka"tunjuk penjaga ke arah sel lainnya.


"mereka sudah lama sekali di siksa kira-kira 10, awalnya mereka di kurung di negara i tapi 6 tahun yang lalu markas utama dipindahkan kesini bersama dengan beberapa tahanan" jelas penjaga.


"kalian tenang saja sebentar lagi, kalian akan dibunuh oleh anak mereka" ucapnya pergi dari sana.


mereka berlima yang mendengar tersebut hanya pasrah meratapi nasibnya.


"ibu dimana ayah kenapa di tidak pernah datang untuk menyelamatkan kita?"


"ibu tidak tahu Selena"


"cih, kau tidak usah mencari adik durhaka itu, kita di siksa di sini selama 6 tahun tapi dia sama sekali tidak menyelamatkan kita" geram marah.


"Kaka ipar dia tetaplah suamiku ayah dari Selena" ucapnya sedih.

__ADS_1


"adik ipar aku tahu kau sangat mencintainya, tapi apa kau lupa siapa yang membuat kita ada disini"


"tentu saja paman dan Selena yang membuat kita di sini mam"


__ADS_2