
Serena tertidur karena lelah mengeluarkan air mata palsunya Ergan yang merasa Serena tertidur hanya diam. sesampainya di ruangannya Ergan langsung menuju ke suatu ruangan yang ternyata di dalam terdapat sebuah kamar.
Ergan membaringkan tubuh serena di kasur lalu mencium kening "cantik" gumam Ergan tersenyum lalu pergi dari sana.
......................
di sisi Gladis.
"Evan kita kapan menyusul?" tanya gladi sedih sambil menatap Sang kekasih.
"secepatnya" ucap Evan sambil menyembunyikan sebuah kotak merah di tangannya.
"benar yah kau tidak berbohongkan, soalnya aku iri dengan semua sahabatku putri sudah memiliki anak, Yuna Serena dan raina sudah menikah, Vita fira sudah akan menyusul bulan ini, sedang Jesicca aku tidak tahu Karena di antara kami semua hanya dia yang tidak memiliki kekasih waktu kita jalan-jalan mall bersama pasangan aku kira dia membawa pasangannya ternyata membawa adiknya agar tidak menjadi nyamuk" ucap Gladis sambil tertawa meningkatkan Jesicca menjadikan adik laki-laki menjadi babu sehari.
"iya, coba tutup matamu" ucap Evan yang membuat Gladis tanpa banyak tanya langsung menutup mata. Evan yang melihat tersebut langsung tersenyum langsung berlutut lalu membuka kotak yang ada di tangannya yang ternyata sebuah cincin.
"sekarang buka matamu" ucap Evan yang membuat Gladis membuka matanya secara perlahan-lahan alangkah terkejutnya melihat sebuah cincin.
"Marry me" ucap Evan tersenyum yang membuat Gladis menutup mulut sambil meneteskan air mata bahagia.
"yes" ucap Gladis memeluk Evan dengan erat sembari tersenyum senang. Evan yang mendengar tersebut sangat senang membalas pelukan Gladis.
"apa kira kau akan menolakku" ucap Evan mengeratkan pelukannya sambil mencium kening Gladis.
"mana ada aku menolakmu" sahut Gladis sambil menggelengkan kepalanya di peluk Evan.
"yah, siapa tahu kau akan menolakku karena miskin tidak memiliki apa-apa" sahutnya Evan tersenyum melepas pelukannya.
"kau kira aku akan menolakmu karena itu, aku menerimamu apa adanya aku tidak meninggalkanmu hanya karena harta atau sebagainya" ucap Gladis tersenyum.
"tidak salah aku melamar Gladis dia gadis yang baik dan tidak memikirkan tentang harta bahkan menerimaku tanpa melihat penampilan" batin Evan tersenyum lalu menarik tangan Gladis menuju kepada arah bangku taman.
__ADS_1
mereka berdua duduk dengan Gladis yang menyandarkan kepalanya di pundak Evan sambil mengangkat tangan melihat cincin yang ada tangan sembari tersenyum. Evan mengelus rambut Gladis lalu memegang tangan Gladis.
"aku sebenarnya sangat ingin tahu identitasmu tapi karena aku sangat mencintaimu dan mempercayaimu jadi aku urungkan niatku" batin Gladis menegakkan kepala lalu menatap mata Evan. dulu Gladis pernah perkiraan ingin mencari identitas sang kekasih yang sangat misterius tapi di urungkan saat dia dibawa ke rumah yang sederhana miliknya.
tatapan mereka berdua beradu yang membuat mereka terdiam sejenak lalu Tersenyum.
"kenapa" sahutnya memegang pipi Gladis "tidak ada apa-apa" Sahu Gladis menggelengkan kepalanya Pelang.
dring.
hp milik Gladis berbunyi dia langsung melihat siapa yang menelepon alangkah senangnya dapat video call dari para sahabatnya. dia langsung mengangkatnya sambil tersenyum.
"hai semua" sapa Gladis tersenyum.
"hai Gladis" balas mereka tersenyum.
"wah, Gladis kau pergi ke taman tidak mengajak kami" ucap Yuna kesal.
"Yuna kau bisa pergi bersama dengan suami itu kepada Gladis harus mengajakmu memang kau mau jadi nyamuk di sana" ucap Fira menggelengkan kepalanya Pelang.
"jadi Gladis sedang kencan dengan siapa?" tanya Tiara penasaran soalnya dia sama sekali tidak mengetahui kalo Gladis sudah memiliki kekasih.
"putri apa kau lupa kalo Gladis sudah memiliki pacar" ucap Vira yang membuat Tiara menepuk jidatnya Pelang karena melupakannya.
"lah, aku lupa kalo begitu, gadis-gadis kita tutup video calling nya dari pada menganggu orang yang sedang berkencan" ucap Tiara menggoda Gladis.
"hai, sebagai dari kita bukan lagi seorang gadis melainkan orang wanita sekarang" ucap Yuna menutup video call begitu juga dengan yang lain.
Gladis hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya Pelang lalu bersandar kembali bahu Evan. evan tersenyum lalu gendong Gladis ala bridal style yang membuat Gladis kaget.
ahh
__ADS_1
teriak Gladis kaget lalu mengalungkan tangannya di leher Evan. Evan berjalan ke arah pohon besar lalu duduk di bawah pohon tersebut dengan Gladis di panggungnya.
"Evan mau sudah memberi tahukan tentangku kepada orang tuamu" ucap Gladis berdiri dari panggung Evan lalu membaringkan tubuhnya dengan kepalanya di paha Evan. Evan mengelus rambut Gladis sambil memejamkan mata.
"belum" ucap Evan membuka matanya tersenyum mencubit pipi Gladis gemes lalu mencium keningnya.
"kenapa?" sahut Gladis sedih lalu bangkit dari paha Evan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Evan.
"aku tidak mau, lebih baik kita menikah tanpa mereka tahu" ucap Evan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan lalu menutup mata sejenak menatap Gladis.
"aku tidak mau, kau harus memberitahukan orang tuamu aku tidak ingin menikah tanpa restu darinya" ucap Gladis meneteskan air mata sedih mendengar ucapan Evan.
"aku tahu kau tidak mau tapi ini adalah satu-satunya agar kita bisa bersama untuk selamanya, kau tahu orang tuaku niat untuk menjodohkaaku dengan orang lain aku tidak mau itu, jadi lebih baik kita pergi dari negara ini dan hidup di negara lain kau maukah" jelas Evan memeluk Gladis erat.
"satu-satunya, baiklah aku terima alasanmu untuk tidak memberitahu orang tuamu tentang rencana pernikahan kita, tapi tidak apa kalau mereka tidak tahu" ucap Gladis cemas dan khawatir.
Evan yang mendengar tersebut tersenyum menghapus air mata yang ada di pipi Gladis sambil mengangguk pelan.
"cih, untuk apa mereka tahu, selama ini mereka sama sekali nggak mempedulikan gue, hanya memperdulikan anak itu dan pekerjaannya saja, bahkan mereka mau merenggut kebahagiaanku dengan menjodohkan gue dengan orang lain padahal mereka tahu kalo gue punya pacar" batin Evan kesal atas berlaku orang tuanya yang hanya mementingkan adiknya dari pada dirinya.
Evan berdiri sambil mengulurkan tangannya untuk Gladis, Gladis tersenyum menyambut tangan Evan lalu berdiri dari sana.
satu Minggu telah berlalu Evan dan Gladis menikah dengan di hadiri oleh Serena, ergan, Yuna, Alvin, Fira, Bastian (kekasih Fira), Vita, Dika (kekasih Vira), Jesicca, raina, Devan dan begitu juga dengan Tiara dan Marsel yang langsung langsung terbang ke negara c ke negara l demi menghadiri acara pernikahan Gladis.
di sebuah rumah yang cukup sederhana sedang berkumpul membahas keberangkatan Gladis dan Evan saat ini.
"negara G saja, disana kau punya perusahaan cabang" sarang Vira Vira menatap Gladis yang sedang berfikir.
"Evan bagaimana menurutmu kita ke negara G saja kebetulan aku ada perusahaan cabang di sana dan kau juga punya kan" ucap Gladis saat menyadari para pria datang.
"ide yang bagus disana aku bisa memeriksa markas dan juga perusahaan cabangku disana begitu juga denganmu" ucap Evan yang setuju.
__ADS_1
Evan membuat mafia yang bernama Red lotuses dan membangun perusahaan tiga tahun yang lalu dari nol hingga sekarang bersama dengan Gladis yang selalu mendampinginya senang maupun susah, baginya Gladis adalah penyemangat hidupnya yang tidak bisa di tukar walaupun seribu wanita sekaligus dia akan tetap memilih Gladis sebagai pasangannya tidak ada yang lain Selain dirinya.
"baiklah kalo begitu kalian berdua berangkat malam ini saja, kebetulan aku sudah menyiapkan dua pesawat pribadi untuk kalian dan juga untuk kami berdua kembali ke negara c" ucap Marsel sambil menatap mereka berdua yang membuat mereka mengangguk pelan.