
Raina mematikan telponnya dengan kesal lalu kembali ke tempat duduknya tadi.
"na, Devan benar Raina" ucap Tante sambil menatap ke arah Raina.
......................
"tapi Tante tetep aja aku tidak mau" ucap Raina melihat jam tangannya lalu berdiri.
"bunda Raina mau pergi dulu ada urusan" ucapnya pergi dari sana.
"kenapa rasanya sakit begini apakah aku mulai mencintainya " batin Devan melihat punggung Raina yang mulai menghilang.
"maaf yah mba Lilis atas kelakuan Raina" ucapnya meminta maaf.
"tidak apa-apa aku mengerti" ucap Tante Lilis tidak mempermasalahkannya.
"mama aku pergi dulu soalnya ada urusan penting" ucap devan beranjak dari tempat duduknya meninggalkan tempat.
Raina sampai di di tempat tujuan dengan memasang wajah datar masuk ke dalam.
"nona rapat akan segera di mulai 1 menit lagi" ucap sekertaris sedikit membungkuk.
"persiapkan semua keperluan untuk rapat hari ini saya tidak ingin ada kesalahan sama sekali" perintah Raina pergi ke lift khusus coe.
"baik" ucap sekertaris mengikuti Raina dari belakang dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
sesampainya mereka di ruangan coe Raina langsung duduk di kursi kebesarannya lalu mengerjakan dokumen penting sebelum rapat di mulai.
"tea datang keruangan saya" perintah Raina lewat telepon kantor.
tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
tok tok
"masuk" ucap Raina Tampa mengalihkan pandangan ke arah pintu.
"ada apa nona memanggil saya datang kesini" ucap tea tangan kanan Raina.
Raina mengambil sebuah foto lalu menunjukkannya ke tangan kanannya.
"thea saya ingin anda mengurus orang ini karena dia berani mengelapkan dana proyek pembangunan hotel saya" perintah Raina.
"pergilah" ucap Raina menutup dokumen yang ada di depannya.
tea langsung pergi setelah Raina juga pergi dari ruangannya menuju ke ruang rapat. Raina masuk sudah banyak petinggi perusahaan.
"mulai" ucap Raina langsung duduk di tempatnya.
"nia" ucap raina menatap tajam kearah wanita muda yang berusia 30 tahun.
"saya mendapatkan kabar keuangan perusahaan cabang negara N beberapa bulan ini semakin menurun karena hanya sedikit pesanan dari para pelanggan" ucapnya berdiri.
"saya takut jika ini terus terjadi maka perusahaan cabang negara N ini akan bangkrut" ucapnya lagi sambil berkeringat dingin.
brak
Raina memukul meja dengan keras lantaran marah mendengar tersebut.
"Nia apa saja yang anda lakukan hingga terjadi hal yang seperti ini saya hanya menyuruhmu untuk mengawasi perusahaan cabang, hanya perusahaan cabang saja anda tidak bisa" bentak Raina menatap tajam ke Nia.
"maafkan saya nona, saya akan menyuruh para pegawai untuk membuat ide baru untuk menarik pelanggan" ucap Nia menunduk ketakutan sambil gemetaran.
"saya pegang kata-katamu jika tidak maka" ucap Raina sambil mengerakkan tangan ke leher.
Nia tambah ketakutan "saya mengerti nona" ucap duduk kembali di tempatnya.
"nona r sangat menyeramkan jika marah" batin Nia menghapus keringat dingin yang ada di dahinya.
"nona r hotel yang terletak di bagian pinggir pantai sedang mengalami sedikit kerusakan di bagian taman banyak tanaman yang rusak akibat laju dan juga terjabut" ucap seorang pria tua berdiri dari tempat duduknya.
"masalah ini cukup mudah saya akan mengirim bunga untuk tanam tapi ingat suruh tukang kebun untuk menjaga bunga tersebut" ucap Raina tidak ambil pusing.
Raina dan para petinggi terus berdiskusi tentang masalah-masalah perusahaan, hotel dll.
"baiklah saya akhiri rapat ini, selangka kalian semua kembali ke negara yang sudah saya tempatkan untuk kalian" ucap Raina pergi dari sana.
"akhirnya selesai tadi nona r sangat menyeramkan kan saat rapat berlangsung" batin membuat petinggi menghela nafas panjang.
mereka keluar dari sana dengan tubuh yang masih gemetaran lantaran masih ketakutan. para pegawai yang melihat tersebut hanya diam sambil membatin.
"pasti para petinggi dimarahi habis-habisan dengan nona r" batin beberapa pegawai.
"tubuh petinggi gemetaran pasti terjadi sesuatu mengakibatkan nona iblis itu marah" batin beberapa pegawai menyebut Raina iblis.
......................
ditempat Serena dan Yuna.
"Serena Yuna bunda dan ayah memutuskan untuk menjodohkan kalian berdua dengan teman ayah" ucap ayah membuat Serena dan Yuna reflek menyemburkan minuman yang ada di mulut mereka.
"kalian jorok" ucap ayah terkena cipratan minuman.
"maaf ayah kami reflek" ucap Yuna menggaruk kepalanya tidak gatal.
"tapi ayah usia kami baru 23 tahun, kami juga bisa mencari pasangan hidup kami sendiri tidak usah menjodohkan kami" ucap Serena tidak ingin di jodohkan.
"sayang coba temui dia"ucap bunda berdiri menghampiri Serena dan Yuna lalu mengelus rambut mereka berdua.
"tapi bunda Serena sudah mencintai orang lain" sedih Serena.
__ADS_1
"bunda tahu tapi dia tidak mencintaimu kan jadi lepaskan dia dan terima perjodohan ini sayang" nasehat bunda.
"baik bunda, Serena akan memikirkannya nanti, Serena masuk ke kamar dulu Iyah bunda ayah" pamit Serena masuk ke kamar.
"Yuna juga bunda" ucap Yuna juga pergi ke kamar.
dikamar Serena membaringkan tubuhnya di kasur sambil memejamkan mata lalu mengambil hp. memasuki aplikasi waspada mengecek sesosok.
p
p
^^^"apa"^^^
"kaka aku sudah menyerahkan mendapatkan cintamu"
^^^"bagus dong, jadi tidak ada lagi yang menggangguku untuk mendekati Selin"^^^
"semoga kalian cepat jadi"
Serena mematikan hpnya lalu memejamkan mata.
"semoga delvian bisa bahagia dengan selin" batin Serena membuka matanya lalu beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
setelah mandi Serena keluar dari kamar tidak segaja berpapasan dengan Yuna.
"kebetulan, ayo Kaka kita pergi ke mall, aku bosen sini di tambah aku juga pusing memikirkan berjodoh" ucap Yuna yang sudah rapi.
"baiklah, ayo pergi sudah lama juga kan kita tidak jalan-jalan bersama" ucap Serena menyetujuinya.
......................
disisi lain.
seorang laki-laki menatap HP-nya dengan wajah senang lalu berbaring di tempat tidur.
"syukurlah serena sudah tidak mengejarku lagi" gumamnya tersenyum tipis.
tok tok
ketukan pintu terdengar dari luar, laki-laki tersebut langsung membuka pintu kamar.
"mama ada apa?" tanya laki-laki tersebut melihat ibunya berdiri di depan pintu.
"Delvian dibawah ada sahabatmu sedang menunggumu" ucapnya tersenyum lalu pergi.
"baik mama aku siap-siap dulu" ucapnya menutup pintu kamar.
delvian masuk ke kamar mandi selama 6 menit lalu keluar dengan memakai handuk. delvian memakai pakaian lalu mengering rambutnya setelah itu keluar dari kamar ke ruang tamu.
"lama amat Lo vian" ucap seorang laki-laki kesal.
"sudahlah, lebih baik kita pergi membeli perlengkapan untuk praktek besok jika tidak maka dosen akan marah" ucapnya menarik mereka berdua keluar.
mereka naik ke naik motor masing-masing menuju ke mall dengan kecepatan tinggi. tidak lama kemudian mereka sampai tidak lama kemudian 2 motor sport. mereka turun lalu membuka helmnya yang ternyata Serena dan Yuna.
"Kaka kau harus memecat karyawan yang bernama Irene itu setiap aku pergi ke mall Kaka dia selalu membuatku kesal dengan kesombongannya yang selalu membandingkan para membeli kaya dan miskin padahal kita menghargai siapapun mau itu kaya maupun miskin" aduh Yuna kepada Serena.
"iya nanti Kaka akan memecat karyawan jadi tenanglah" ucap Serena mengelus rambut Yuna lalu masuk ke mall diikuti oleh Yuna.
"tadi itu bukannya Serena dengan siap dia?" tanyanya.
"delvian Devis Tolong kau urus temanmu si Alvian bodoh itu, jelas-jelas dia Serena dan temannya malah banyak nyak" ucapnya pedas.
"keterlaluan banget si Lo alvin" ucap Alvian menunjuk ke arah Alvin.
"sudahlah" ucap delvian meninggal mereka berdua.
saat sampai di pintu masuk mall mereka bertiga di kejutkan dengan para satpam dan pegawai mall menghormati Serena dan Yuna.
"nona s dan nona y selamat datang" sambut mereka sambil menundukkan kepalanya.
"Tegakkan badan kalian" perintah Serena yang membuat mereka berdiri tegak.
Yuna yang tersenyum menarik tangan Serena masuk ke dalam mall.
"kenapa satpam dan pegawai mall menghormati Serena" gumam delvian.
"pak kenapa kalian menghormati Serena?" tanya Alvian penasaran.
satpam yang mendengar nama nona nya disebut langsung menutup mulut Alvian dengan tangan.
"Jangan coba-coba menyebut nama nona kami, jika tidak nyawamu akan melayang, apa kau tahu nona kami adalah mafia dan jangan memberi tahu kedua temanmu" bisik satpam membuat Alvian pucat.
Alvian menganggukkan kepalanya Pelang satpam melepaskan tangannya dari mulutnya.
satpam tersenyum membersihkan mereka masuk kedalam mall.
Alvian masuk ke dalam ikut oleh yang lain dengan penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Alvian bersama dengan satpam.
"apa yang dibisikkan oleh satpam tadi?" tanya Alvin dan delvian bersalah lantaran penasaran.
"bukan masalah penting" jawabnya cepat.
mereka menganggukkan mendengar jawab dari alvin. mereka berkeliling mencari apa yang mereka butuhkan setelah mendapatkannya mereka jalan-jalan sambil melihat-melihat.
druk
seorang gadis terjatuh karena menabrak delvian dkk. delvian dkk terkejut melihat wajah yang menabrak mereka hampir mirip dengan Serena.
__ADS_1
"auu, sakit" ucapnya menepuk tangannya yang kotor dan juga roknya.
"kenapa hari ini sial banget sih di rumah gue dan kaka dijodohkan sedang di sini malah terjatuh karena tidak segaja menabrak seseorang" gumam melihat siapa yang dia tabrak.
"Yuna kau tidak apa-apa" ucap seorang gadis dengan dengan nada khawatir tapi wajah datar dia adalah Serena.
"tidak masalah kaka" ucap Yuna tersenyum membuat Serena menghela nafas panjang lalu melihat siapa yang ditabrak oleh kembarnya itu.
"kalian ternyata, maafkan kembarku karena menabrak kalian, kami pergi dulu" ucap Serena pergi tampa menunggu jawaban mereka.
"maaf Kaka ku memang seperti itu, jadi maklum saja" ucap Yuna ramah lalu pergi dari sana.
"gila, gue baru tau kalo Serena memiliki kembar yang cantik dan tutur kata yang lembut" ucap alvin melihat kepergian Yuna.
"Lo, suka dengannya?" tanya delvian yang membuat Alvin terkejut.
"tentu saja, siapa coba yang tidak akan jatuh cinta kepada orang yang seperti itu" ucapnya menoleh ke arah delvian.
"sudah kita pulang saja semua perlengkapannya sudah ada" ucapnya Alvian pergi dulu diikuti oleh delvian dan Alvin.
......................
di tempat Jesicca.
"taman yang indah dan tenang" gumamnya memejamkan mata sejenak lalu membukanya.
Jesicca mengambil buku novel yang ada di tasnya lalu membacanya dengan serius.
"hai, gue numpang duduk boleh" Jesicca melihat sekilas orang tersebut lalu mengangguk Pelang.
"nama gue Ardian" ucap memperkenal dirinya sambil mengulurkan tangannya.
"Jesica" ucap Jesicca menerima uluran tangan Ardian Tampa mengalihkan perhatian di buku.
"baru kali ini gue diabaikan oleh seorang gadis menarik" batin tersenyum tipis. Jesicca melepas jabatannya dengan Ardian.
dring
suara hp Jesicca berbunyi yang membuat kesal tapi di tutup dengan raut wajah dingin.
"cih, tidak tahu apa gue sedang tidak ingin di ganggu" batin Jesicca mengangkat telponnya.
^^^"anda ada dimana?"^^^
"taman jangan ganggu saya, jika tidak anda akan menerima sekusensi nya apa anda mengerti sekertaris ana"
^^^"saya mengerti nona tapi berkasnya"^^^
"anda bisa membawanya ke apartemen saya, saya juga akan pulang Matahari sudah terbenam"
Jesicca mematikan pergi dari sana meninggalkan pemuda tersebut dengan raut wajah kaget.
"dia pergi begitu saja ini benar-benar menarik" batinnya yang masih kaget lalu pergi dari sana karena langit sudah gelap.
......................
subuh di negara i.
"ternyata sudah subuh" gumam Tiara beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi setelah itu langsung ke dapur.
Marsel meraba-raba tempat tidur dia membuka matanya melihat Tiara tidak ada. dia terkejut langsung berlari ke kamar mandi tapi tidak ada. Marsel berlari kesana kemari mencari keberadaan Tiara hingga di ruang makan.
"Loh, el kau sudah bangun" ucap Tiara yang baru datang dari dapur bersama dengan pelayan yang mengantar makanan ke meja.
"kau dari mana saja" ucap Marsel memeluk Tiara dengan erat.
"aku pergi ke dapur untuk membuat makanan, kau lari el?" tanya Tiara melihat Marsel berkeringat.
"Iyah, tadi aku mencari mu kesana kemari karena aku khawatir" ucap Marsel melepas pelukannya.
"kaka Rian sedang apa disana?" Tanya lex yang baru datang.
"biasa, kakakmu ini yang posesif itu berlarian kesana kemari mencariku, padahal Kaka hanya pergi kedapur membuat sarapan" ucap Tiara santai.
"hahaha, Kaka Rian tidak pernah berubah, dia masih saja posesif terhadap orang yang dia sayang dan juga barang kesayangannya" ucap Lex tertawa.
"Jangan panggil Kaka dengan sebutan rian lagi" ucap Marsel tidak suka.
"lalu aku akan memanggil Kaka apa?" tanya Lex bingung.
"kau bisa memanggil Kaka dengan nama Marsel jangan panggil dengan nama rian" ucap Marsel menyebut namanya.
"baik-baik, kakakku Marsel yang tampan sejagat raya tapi bohong haha" tawa Lex memegang perutnya sakit sedang Marsel kesal.
"sudah-sudah, kalian ini masih saja seperti anak kecil padahal usia kalian sudah kepala 2, Lex kau sarapan lah lalu pergi ke kampus ini sudah jam 6 dan El kau kembali ke kamar untuk mandi kau harus ir kantor" perintah Tiara yang di turuti oleh mereka.
Lex duduk di kursi membalikkan piring yang ada di depannya lalu mengambil makanan yang ada di depannya. Marsel pergi dari sana begitu juga dengan Tiara pergi dari sana.
skip
Lex, Marsel Tiara dan twins a berada di pintu mansion untuk berangkat bekerja dan kuliah.
"hati-hati ayah uncle Lex jangan lupa belikan Alexa makanan jika pulang ayah" ucap Alex tersenyum.
"iya, akan aku belikan makanan jika pulang" ucap Marsel mengusap rambut putrinya.
"iya, keponakanku yang cantik uncle akan hati-hati" ucap Lex tersenyum.
Alex hanya diam sedari tadi akhirnya angkat bicara "uncle datang lagi ke sini bahwa Alex jalan-jalan" ucap berharap.
__ADS_1
"iya nanti uncle akan membawamu dan Alexa jalan-jalan sekalian bertemu dengan auntmu" ucap Lex pergi dari sana di ikut oleh marsel yang hendak ke kantor.