
Setelah kejadian malam itu Mona dan Bastian bersikap waspada terhadap Florencia. Mereka yakin jika Florencia mengetahui rencananya dan entah bagaimana caranya Florencia menukar minuman itu.
"Ma, apa Nara sudah mendapatkan ingatannya kembali?," tanya Bastian.
"Entahlah, tapi jika itu benar. Kita dalam masalah besar. Kita harus awasi dia."
**
Florencia berada di depan UGD. Wajah cantiknya terlihat sangat khawatir. Bukan hanya Florencia, Alexa dan Axel juga terlihat sangat khawatir. Tak lama Dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan papa saya dok?" tanya Axel.
"Tuan Matteo mengalami serangan jantung ringan. Kini kondisi tuan Matteo sudah stabil," jelas Dokter.
"Apa saya bisa melihat keadaan papa saya?" tanya Alexa.
"Tentu saja, tapi setelah tuan Matteo di pindahkan ke ruang perawatan."
"Baik terimakasih dok," kata Alexa.
Dokter itu pergi.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Florencia.
Tadi pagi saat sarapan Florencia mendapatkan kabar dari Axel jika Matteo masuk rumah sakit dan tanpa menanyakan apa yang terjadi Florencia langsung pergi ke rumah sakit. Geovano yang melihatnya pun merasa penasaran. Hal apa yang membuat istrinya itu merasa sangat khawatir?
"Saat sarapan tiba tiba saja papa merasakan sakit di dadanya dan tak lama papa langsung pingsan," jelas Axel.
"Flo, papa akan baik baik saja, iya kan? Tidak akan terjadi apa pun pada papa?" tanya Alexa menahan tangisnya.
"Iya, uncle akan baik baik saja. Apa kau tidak mengenal papa mu?"
"Kau benar Flo, papa tidak mungkin mati semudah itu."
**
Dengan perlahan Matteo membuka matanya dan saat netra tua itu terbuka Alexa langsung memeluk erat sang papa.
"Papa..." tangisan Alexa tumpah.
Matteo terkekeh kecil. "Papa baik baik saja, sudah jangan menangis."
"Al akan berhenti nangis tapi papa harus janji sama Al."
"Janji apa?"
"Papa tidak boleh membuat Al khawatir lagi, Al takut."
"Papa janji."
Sementara itu Florencia menghela napasnya lega setelah melihat Matteo sadar. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Florencia pergi dari ruangan itu.
"Flo, kau mau kemana?" teriak Axel.
"Axel, kau kejar dia," titah Matteo.
"Iya pa." Axel pergi mengejar Florencia.
__ADS_1
"Aku tahu Flo akan pergi kemana," kata Alexa.
"Club," kata Matteo.
"Iya, papa benar. Setiap kali Flo merasa sedih atau khawatir dia pasti akan melampiaskannya pada minuman."
"Maafkan papa karena udah buat kalian sedih dan khawatir."
"Kalau papa gak mau lihat kita sedih dan khawatir, papa gak boleh sakit lagi kayak gini, papa harus selalu sehat."
"Papa udah tua Al, wajar kalau sakit sakitan."
"Aku gak mau tau, papa harus selalu sehat. Papa juga tadi udah janji sama Al, papa harus tepati janji papa." Alexa memeluk Matteo.
Matteo terkekeh melihat sikap manja putrinya itu.
**
"Flo, mau sampai kapan kau di sini? Sudah cukup, kita pulang sekarang," tegas Axel.
Entah sudah berapa botol vodka yang Florencia habiskan tapi tetap saja itu tidak membuat seorang Florencia mabuk.
"Kau pergilah, jaga uncle Matteo. Aku baik baik saja."
"Kau tidak baik baik saja Flo."
"Axel.."
"Hm.."
"Papa tidak akan meninggalkan kita, dia akan segera sembuh."
"Kau yakin?"
"Apa kau tidak mempercayai ku?"
"Aku mempercayai mu."
"Kita pulang sekarang. Kau tidak ingin membuat papa khawatir kan?"
Florencia menganggukkan kepalanya.
Axel tersenyum lega.
Axel dan Florencia sama sama memiliki watak yang keras. Mereka tidak pandai dalam mengekspresikan perasaannya. Mereka tidak tahu bagaimana caranya menghibur orang lain.
**
Florencia memasuki mansion yang sudah sepi itu. Wajar saja sepi karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
Florencia menjalankan kakinya menuju dapur karena tiba tiba saja ia merasa haus. Florencia membuka lemari pendingin itu lalu mengambil air dingin dan langsung menenggak air dingin itu dari botolnya. Setelah selesai menghilangkan rasa hausnya Florencia menyimpan botol itu di atas meja.
Florencia berjalan sempoyongan karena kepalanya yang terasa sangat pusing. Florencia duduk di sofa seraya memijat mijat kepalanya yang berdenyut.
Florencia merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya dan saat orang itu menyentuh pundaknya, tanpa aba aba Florencia langsung mencekal tangan itu dan mempelintirnya dengan sangat kencang.
"Akh.."
__ADS_1
Florencia langsung menghentikan aksinya saat ia mendengar suara yang sangat di kenalnya.
"Dasar bodoh! Kenapa kau mempelintir tangan ku?," sarkas Geovano.
"Maaf, aku kira kau pencuri tadi," kata Florencia datar dan berlalu pergi.
"Kau harus bertanggung jawab."
Ucapan Geovano itu berhasil menghentikan langkah Florencia. Florencia memutar badannya menghadap Geovano. Geovano berjalan mendekat ke arah Florencia. Kini jarak mereka hanya beberapa inci saja.
"Karena kau tangan ku terkilir dan kau harus bertanggung jawab. Kau harus jadi sekertaris pribadi ku sampai tangan tangan ku sembuh."
"Aku tidak perduli."
Geovano mencium aroma alkohol yang keluar dari mulut Florencia.
"Kau mabuk!" sentak Geovano.
Florencia memutar bola matanya malas.
"Sejak kapan kau suka mabuk mabukkan?"
"Bukan urusan mu."
Florencia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya meninggalkan Geovano yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Apa yang aku lewatkan selama enam bulan ini? Kenapa dia sangat berbeda? Dia seperti orang yang berbeda? Tatapan matanya, cara bicaranya, sikapnya, semua berbeda."
Geovano teringat sikap istrinya, Nara sebelum mengalami amnesia.
FLASH BACK ON
Nara menghentikan suaminya itu yang hendak berangkat ke kantor.
"Mas Vano tunggu sebentar, ini aku udah siapin bekal makanan untuk mas," kata Nara seraya berlari kecil membawa paper bag berisikan rantang makanan di sana.
Geovano tidak memperdulikan panggilan istrinya itu dan terus melangkahkan kakinya menuju mobilnya dan pergi begitu saja. Nara menatap nanar mobil suaminya yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.
Nara memegang dadanya yang terasa sangat sakit.
"Sabar Nara, mungkin mas Vano sedang terburu buru," Nara menyemangati dirinya sendiri.
Geovano pulang dari kantor.
"Mas capek ya, mau aku pijitin?" Nara menatap suaminya itu penuh cinta.
Geovano lagi dan lagi mengabaikan Nara dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
Nara menghela napasnya dalam kemudian tersenyum. "Semangat Nara! Kamu pasti bisa!"
Saat weekend Nara sudah bersiap untuk mengajak suaminya itu pergi. Nara sangat bersemangat, senyum terus saja terlihat di wajahnya. Tapi senyuman itu seketika menghilang kala ia melihat sang suami sedang bercumbu panas dengan wanita lain di depan matanya sendiri. Nara melihat Geovano dan Callista sedang berciuman di ruang tamu.
Butiran bening itu mengalir deras dari sudut netranya. Nara menutup mata dan telinganya. Nara terisak. Ia memukul mukul dadanya yang terasa sangat sakit. Nara tidak sanggup, ini terlalu menyakitkan. Dengan tertatih Nara kembali ke kamarnya. Nara menangis di sana karena hanya itu yang bisa Nara lakukan untuk mengurangi rasa sakit di dadanya walau hanya sedikit.
"Tuhan beri aku kekuatan," lirih Nara.
FLASH BACK OFF
__ADS_1