Transmigrasi Sexy Mafia

Transmigrasi Sexy Mafia
Chapter 33


__ADS_3

Geovano dan Kenand ada di ruang kerja Geovano yang ada di mansionnya sedangkan Florencia dan Laura sedang memanjakan diri mereka di salon.


"Bagaimana?" tanya Geovano.


"Aku sudah menghubungi pengacara dan besok kita akan ke kantor polisi," jelas Kenand.


"Pastikan orang itu mendekam di penjara selama mungkin."


"Tapi Vano, kau sudah memberitahu om Harun tentang semua ini?" tanya Kenand.


Geovano menggeleng kan kepalanya. "Jika aku memberitahu papa, dia pasti akan langsung memaaf kan penghianat itu."


"Kau benar. Terus bagaimana dengan Laura? Dia pasti sangat terkejut, terlebih lagi ibunya juga ikut terlibat."


"Istri ku yang akan mengurusnya."


Di sisi lain Florencia dan Laura baru saja keluar dari salon dan saat ini mereka sudah ada di salah satu restoran mewah di ibu kota. Florencia menyewa room privat.


"Ada apa ini kak Flo? Kenapa ka Flo mengajak ku makan di restoran terlebih lagi kak Flo menyewa room privat seperti ini?" tanya Laura.


"Ada hal yang ingin aku sampai kan tapi sebelum itu kita makan terlebih dahulu."


"Hal apa? Kenapa aku merasa ini bukan sesuatu hal yang baik? Kak Flo jangan buat aku takut," Laura mulai khawatir.


"Kita makan dulu, nanti aku jelaskan."


"Jangan buat aku penasaran, sekarang aja."


"Baiklah," Florencia mengeluar kan ponsel dari dalam hand bagnya. "Lihatlah.."


VIDEO ON


'Kau sudah menghilangkan semua buktinya?' tanya Mona.


'Iya ma, mama tenang aja Vano tidak akan mengetahui tentang penggelapan dana yang aku lakukan, sekali pun dia mengetahuinya dia tidak akan bisa berbuat apa pun karena tidak ada bukti,' jawab Bastian.


'Bagaimana dengan sekertaris mu?'


'Mama tidak usah khawatir dia juga terlibat dan jika dia macam macam dia yang akan terkena masalah bukan kita.'


Ibu dan anak itu tersenyum penuh kemenangan.


VIDEO OFF


Laura menonton video itu dengan tangan bergetar. Buliran bening itu mengalir deras dari matanya.


"Kak Flo, apa ini? Ini gak bener kan? Mama.. Kak Bastian.. Mereka.." Laura terisak.


"Geovano akan memperoses ini ke jalur hukum."


"Apa?"


"Mereka salah, mereka sudah melakukan kejahatan, mereka pantas di hukum."

__ADS_1


Laura menangis histeris. Entah sadar atau tidak Florencia refleks memeluknya.


**


Mansion Geovano..


Setelah dua jam Laura menangis di restoran akhirnya mereka kembali ke mansion.


Dengan mata membengkak dan hidung memerah Laura langsung memeluk Geovano yang tengah duduk di sofa bersama Kenand.


"Maaf.." kata Geovano membalas pelukan Laura. "Kau marah sama kakak?"


Laura menggeleng kan kepalanya di pelukan Geovano. "Aku tidak marah, aku mengerti hanya saja aku tidak bisa jika melihat kak Bastian dan mama harus di penjara. Kak Vano, apa tidak ada cara lain untuk menghukum mereka?"


"Laura, di sisi bukan hanya perusahaan kita yang di rugikan, para investor, pemegang saham, mereka juga telah di rugikan. Tapi kau tenang saja kakak hanya melaporkan Bastian tidak dengan mama mu."


"Kenapa? Bukankah mama juga ikut terlibat?"


"Karena dia mama mu, adik kesayangan ku ini akan bersedih jika mamanya masuk penjara dan kakak tidak suka itu."


"Kak Vano.." Laura mempererat pelukannya.


**


Malam harinya..


Florencia dan Geovano tengah dalam perjalanan menuju kediaman Jasper.


"Maksudnya?" tanya balik Geovano.


"Ck! Kau mengerti maksud ku."


Geovano terkekeh.


"Aku tidak memenjara kan wanita itu bukan berarti aku memaafkan nya. Orang yang berbuat salah harus di hukum dan hukuman yang paling menyakitkan untuk seorang ibu adalah ketika melihat anaknya sendiri menderita, apa aku benar?"


Florencia menyeringai. "Ya kau benar."


Tak lama Florencia dan Geovano sudah berada di kediaman Jasper. Saat ini mereka tengah menikmati makan malam dengan tenang.


"Siapa kau sebenarnya? Nyonya Baldwin? Atau Florencia?" batin Jasper seraya menatap Florencia yang juga tengah menetapnya.


Florencia mencengkram alat makan yang ada di tangannya menahan amarah. Ingin sekali rasanya Florencia menggorok leher Jasper saat ini juga tapi Florencia sudah memutuskan untuk memberikan kematian yang sangat menyakitkan tapi sebelum itu ia akan menghancurkan kehidupannya sampai ia sendiri yang meminta kematiannya pada Florencia.


Ponsel Geovano tiba tiba saja berdering. Geovano menatap Florencia. "Aku angkat telepon sebentar. Kau tunggu di sini, tak apa kan?"


"Hmm.."


"Tuan Costa maaf saya permisi sebentar."


"Iya silahkan tuan Baldwin."


Geovano mengelus kepala Florencia dan berlalu pergi meninggal kan Florencia dan Jasper.

__ADS_1


"Bagaimana kabar anda, nyonya Baldwim?" tanya Jasper menatap Florencia.


"Kabar saya baik. Bagaimana dengan anda, tuan Costa?" tanya balik Florencia menatap tajam Jasper.


"Tentu saja saya sangat baik, nyonya Baldwin."


Florencia menyeringai. "Setelah ini akan aku pastikan kabar mu itu tidak akan baik baik saja Jasper!! Aku akan menghancurkan mu dan kau akan segera lenyap di tangan ku!!" desis Florencia tajam.


"Bukan aku, tapi kau yang akan lenyap Florencia!!" desis Jasper tak kalah tajamnya.


Aura permusuhan terpancar di mata keduanya. Suasana di ruangan itu tiba tiba saja mencekam.


Florencia memotong steik dengan tatapannya yang terus saja menatap Jasper. Siapa pun yang melihatnya pasti akan bergidik ngeri melihat cara Florencia memotong steik itu. Bukan hanya memotong bahkan Florencia mencincang steik itu.


"Lain kali kau yang aku cincang bukan steik ini," kata Florencia datar.


Jasper mengepal kan tangannya menahan amarah hingga urat uratnya terlihat.


"Aku akan menghancurkan mu Jasper! Bersiaplah."


BRAK


Jasper menggebrak meja kaca itu kemudian ia bangkit dari duduknya. Jasper mengeluarkan sebuah pistol di balik kemejanya kemudian ia menodong kan pistol itu tepat di kepala Florencia.


Bukannya takut Florencia malah tersenyum sinis dan itu membuat Jasper semakin marah.


"Kau akan lenyap di tangan ku saat ini juga Florencia!!"


"JASPER!!!" Sarkas Geovano.


Saat kembali setelah mengangkat telepon dari Harun, Geovano membulat kan matanya sempurna saat melihat rekan kerjanya itu menodong istrinya dengan pistol.


Geovano melangkah kan kakinya lebar menghampiri Florencia lalu kemudian menyembunyi kan Florencia di balik badannya. Dengan tangan terkepal dan rahang yang mengeras Geovano menatap Jasper sangat tajam.


"Berani sekali kau menodong kan senjata mu pada istriku, JASPER!!" sentak Geovano.


"Inilah waktunya Flo, tunjukan bakat akting mu," batin Florencia.


Florencia mulai terisak di balik badan Geovano mendengar itu Geovano langsung merengkuh Florencia masuk dalam dekapannya.


"Aku takut.. Dia.. Dia akan melenyapkan ku," lirih Florencia.


"Tadi dia merayu ku dan mencoba untuk menyentuh ku, aku menolaknya dan dia malah langsung menodong ku dengan senjatanya. Aku takut.. Hiks.. Hiks.."


Geovano semakin mempererat pelukannya. "Tenanglah aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mu."


"Dia berbohong tuan Baldwin, jangan percaya ucapannya. Dia wanita yang sangat licik dan dia bukan istri mu," Jasper menatap nyalang Florencia seraya menunjuk tepat di depan wajahnya.


"Geovano aku takut.. Aku mau pulang.." cicit Florencia dengan isaknya.


"Tuan Geovano percayalah dia bukan istri mu, dia bukan nyonya Nara tapi dia Florencia, ketua mafia yang sangat berbahaya."


Geovano menatap Jasper dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


__ADS_2