
"Kak Vano, gimana keadaan kak Flo? Dia baik baik aja kan?" tanya Laura.
Geovano yang terduduk di sofa itu hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan Laura. Entah apa yang ada di dalam pikirannya?
"Ck! Kak Vano!! Kenapa diam aja? Jawab pertanyaan aku?" kesal Laura.
Geovano mengusap wajahnya kasar. "Iya, dia baik baik saja."
"Kak Vano, ayo antarkan aku ke ruang inapnya kak Flo, aku ingin melihatnya."
"Nanti saja, dia lagi istirahat."
"Sebentar saja, aku hanya ingin melihatnya."
"Baiklah"
Geovano membantu Laura menaiki kursi roda. Di dorongnya kursi roda itu menuju ruangan Florencia yang letaknya tidak jauh dari ruangan Laura.
"Kak Flo..."
Florencia sontak menutup kedua telinga saat mendengar pekikan dari Laura itu.
"Laura pelankan suara mu, ini rumah sakit, kau selalu saja berteriak."
Laura menunjukkan cengir kudanya. "Maaf kak Flo," cicitnya.
Laura bangkit dari kursi rodanya lalu duduk di ranjang sebelah Florencia. Laura memeluk Florencia sembari menangis.
"Selain cerewet ternyata kau juga cengeng ya?" kata Florencia.
"Aku takut kejadian yang dulu terulang lagi. Kak Flo tidur lama sekali dan setelah terbangun kak Flo melupakan aku, melupakan kita semua," Laura semakin mengeratkan pelukannya.
"Sudah jangan menangis, aku baik baik saja dan tolong lepaskan pelukan mu ini, aku tidak bisa bernapas."
Laura terkekeh mendengar perkataan Florencia. Laura melepas pelukannya lalu menghapus jejak air mata di pipinya.
"Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau ke sini? Harusnya kau beristirahat?" tanya Florencia.
"Aku udah sehat kak Flo, sebenarnya kemarin Dokter udah ijinin aku pulang tapi kak Vano yang paksa aku untuk tetap di sini."
Florencia hanya mengangguk kan kepalanya saja.
"Flo, ini makanannya," kata Axel yang baru saja datang sembari memberikan paper bag berisikan makanan itu pada Florencia.
Florencia meminta Axel untuk membelikan makanan dari luar karena ia tidak mau makan makanan dari rumah sakit.
"Kau! Bagaimana bisa kau ada di sini?" sarkas Geovano menatap tajam Axel. Jelas sekali terlihat jika Geovano tidak menyukai kehadiran Axel.
"Kak Vano jangan marah, aku yang memberitahu kak Axel tentang kak Flo," kata Laura.
"Kenapa kau memberitahu orang asing masalah keluarga kita!" sentak Geovano.
"Maaf," cicit Laura yang tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar.
Melihat Laura menangis Geovano menjadi merasa bersalah. Tidak pernah sekali pun Geovano menyentak Laura tapi entah apa yang terjadi dengan dirinya kini?
Geovano memeluk adik kesayangannya itu. "Maaf."
__ADS_1
Geovano melirik ke arah Florencia dan Florencia memutar bola matanya malas.
"Flo aku pamit, jika ada hal lain yang kau inginkan hubungi saja aku," pamit Axel.
"Hmm.."
"Dia tidak butuh bantuan mu, aku ada di sini untuknya," kata Geovano datar.
Laura mengulum senyumnya. "Kak Vano cemburu ya?"
"Tidak," elak Geovano.
"Flo aku pergi, jaga diri mu," pamit Axel lagi dan berlalu pergi.
"Ck! Pergi ya pergi saja. Untuk apa dia mengkhawatir kan istri orang lain?" gumam Geovano.
**
Selama tiga hari Florencia di rawat di rumah sakit dan hari ini ia sudah di ijinkan pulang oleh Dokter.
"Kak Flo istirahatlah, jika butuh sesuatu panggil saja aku, aku ada di bawah."
"Hmm.."
Laura keluar dari kamar Florencia dan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga kemudian laura menghampiri Geovano dan Kenand yang tengah berbicara di ruang tamu. Laura mendaratkan bokongnya di sofa sebelah Geovano.
"Apa yang Polisi katakan?" tanya Geovano.
"Polisi menyatakan jika kecelakaan itu sudah di rencanakan," jawab Kenand.
"Apa maksud mu?"
Geovano mengepalkan tangannya hingga urat uratnya terlihat. Rahangnya mengeras dan napasnya memburu menahan amarah.
"Siapa yang berani melakukan itu pada istri ku? Tidak akan aku ampuni dia," gumam Geovano.
"Jadi maksud kak Kenand ada orang yang sengaja mencelakai kak Flo," tanya Laura.
"Iya bisa di bilang seperti itu."
"Tapi apa alasannya? Kenapa orang itu tega berbuat hal seperti itu pada kak Flo?"
"Laura, selama enam bulan ini, apa yang kau ketahui tentang pekerjaan kakak ipar mu itu?" tanya Geovano.
"Yang aku tahu, kak Flo itu bekerja bersama kak Axel dan kak Alexa tapi aku gak pernah tahu apa pekerjaan mereka. Dulu aku pernah mendengar pembicaraan antara kak Flo dan kak Axel, mereka membicarakan soal transaksi dan saat aku bertanya transaksi apa itu, kak Flo bilang itu transaksi jual beli tanah," jelas Laura.
"Hanya itu saja yang kau tahu?"
"Iya, itu saja."
"Kenand aku sudah meminta mu untuk menyelidiki laki laki itu, apa kau mendapatkan sesuatu?" tanya Geovano.
"Nah itu yang aku bingung, aku sudah menyewa detektif terbaik di kota ini tapi sampai sekarang tidak ada informasi satu pun tentang Axel dan juga pekerjaannya."
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Mana aku tahu?"
__ADS_1
"Ck! Kau ini memang bodoh! Yang kau sewa itu detektif terbaik atau detektif gadungan?" kesal Geovano.
"Jika kau tidak mempercayai ku, kenapa juga kau menyuruh ku? Dasar menyebalkan! Kau cari tahu sendiri saja kalau begitu." kesal Kenand.
"Ck! Kalian ini sudah dewasa selalu saja bertengkar." kata Laura seraya menggeleng gelengkan kepalanya.
**
"Aaa.."
Teriak Florencia kala ia melihat Geovano duduk di sisi tempat tidurnya. Entah sejak kapan laki laki itu ada di sana.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau ada di kamar ku?" sarkas Florencia.
"Apa pekerjaan mu?" tanya Geovano datar.
"Kau tidak perlu tahu?"
"Aku suami mu, aku berhak tau."
Florencia diam, ia terlalu malas untuk berdebat dengan Geovano.
"Ada yang sengaja memutus rem mobil mu." kata Geovano menatap Florencia.
"Aku tahu."
"Kau tahu siapa pelakunya?"
Florencia menunjuk kan sebuah video di ponselnya pada Geovano. Geovano mengetatkan rahangnya kala melihat video itu.
**
"Sayang ini sangat indah, aku suka." kata Callista.
Geovano menarik kursi kemudian mempersilah kan Callista untuk duduk lalu Geovano duduk di depannya.
Geovano mengajak dinner Callista di restoran mewah berbintang. Dekorasi bunga mawar yang cantik, lilin lilin kecil yang menawan dan alunan musik yang sangat syahdu membuat kesan romantis begitu terasa di ruangan yang khusus di pesan oleh Geovano itu.
Geovano dan Callista menikmati makan malam itu dengan tenang.
"Hal apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku. Cepat katakan lah, aku udah gak sabar." tanya Callista.
"Akhirnya hari yang aku tunggu tunggu tiba, hari di mana Vano melamar ku dan setelah itu aku akan resmi menjadi nyonya Geovano Baldwin. Dan setelah aku resmi menjadi nyonya Baldwin, aku akan dengan sangat mudahnya bisa menguasai seluruh harta Baldwin." batin Callista tersenyum licik.
"Aaa.."
Pekik Callista saat lampu tiba tiba saja padam dan tak lama setelah itu berputarlah sebuah video di layar. Video itu adalah video CCTV yang dengan sangat jelasnya menampilkan Callista dengan seorang laki laki yang tidak di kenal.
Di video CCTV itu Callista berdiri tepat di samping mobil Florencia sedangkan laki laki itu seperti sedang melakukan sesuatu pada mobil Florencia dan setelah itu Callista terlihat memberikan uang pada laki laki itu.
Video berhenti.
"Sa-sayang itu ti-dak seperti yang terlihat, aku bisa jelasin," kata Callista terbata.
Layar itu kembali memutarkan video dan kali ini Video yang di tunjukan adalah video yang sama yang di tunjukkan oleh Florencia pada Geovano tadi.
Video yang di tunjukan oleh Florencia itu adalah video perselingkuhan antara Bastian dan Callista yang di ambilnya saat di club malam itu.
__ADS_1
"KITA PUTUS!!!"