Transmigrasi Sexy Mafia

Transmigrasi Sexy Mafia
Chapter 29


__ADS_3

"Al, bagaimana? Bisa tidak?" tanya Florencia.


"Kau meragukan kemampuan ku, Flo?" Alexa menatap Florencia tajam.


"Tidak, cepat kerjakan."


Alexa mendengus kesal namun netranya terus menatap layar laptop yang ada di hadapannya. Jarinya terlihat sangat lihai menari nari di atas keyboard itu.


Setelah Florencia mendapatkan bisikan 'Laptop Nara' yang entah datangnya dari mana. Saat itu Florencia langsung mengambil Laptop Nara yang sebelumnya ia simpan bersama ponsel dan diary Nara di laci nakas.


Awalnya Florencia memang sedikit takut, ingat hanya sedikit tetapi akhirnya ia mengerti jika itu adalah sebuah petunjuk yang mungkin saja di berikan oleh Ruben.


Thanks Ruben ...


Saat Florencia mengaktifkan laptop itu ternyata laptopnya terkunci dan Florencia tidak tahu kata sandinya apa. Florencia sempat mencari di buku diary Nara tapi ia tidak mendapatkan apa apa di sana. Setelah itu Florencia langsung menghubungi Alexa dan Axel untuk datang ke mansion Geovano.


"Terbuka."


Terlihatlah photo Nara dan Geovano saat menikah. Nara yang tersenyum manis sedangkan Geovano dengan wajah datarnya.


"Baiklah.. Mari kita lihat, rahasia apa yang tersimpan di laptop ini?"


Alexa membuka beberapa file tapi tidak ada yang mencurigakan yang ada hanya photo Geovano di sana, photo Geovano saat makan, saat bekerja, saat berolahraga bahkan saat Geovano sedang berbicara dengan seseorang di telepon pun ada. Sepertinya Nara memotret suaminya itu secara diam diam bak seorang paparazi yang tengah berburu berita.


Hingga netra Alexa terkunci saat ia melihat satu video di sana. Alexa memutar video itu.


"Flo lihatlah."


Alexa memposisi kan laptopnya supaya bisa di lihat oleh Florencia, Axel dan juga dirinya.


VIDEO ON


'Kau sudah menghilangkan semua buktinya?' tanya Mona.


'Iya ma, mama tenang aja Vano tidak akan mengetahui tentang penggelapan dana yang aku lakukan, sekali pun dia mengetahuinya dia tidak akan bisa berbuat apa pun karena tidak ada bukti,' jawab Bastian.


'Bagaimana dengan sekertaris mu?'


'Mama tidak usah khawatir dia juga terlibat dan jika dia macam macam dia yang akan terkena masalah bukan kita.'


Ibu dan anak itu tersenyum penuh kemenangan.


VIDEO OFF


Florencia menyeringai.


"Apa yang akan kau lakukan Flo?" tanya Axel.


"Bukan aku, tapi Geovano."


"Kau akan menyerah kan bukti ini padanya?"


"Tentu saja, aku tidak ingin bermain main dengannya."


Tok.. Tok..


Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar Florencia.


"Nyonya."

__ADS_1


"Masuklah."


Yati masuk ke kamar Florencia. "Nyonya makan siang sudah siap."


"Hmm.."


**


"Wow.." netra Alexa berbinar saat melihat makanan yang tersaji di meja makan. "Ada acara apa ini? Kenapa banyak sekali makanannya?" tanyanya kemudian.


"Sudah jangan banyak tanya, duduk dan makanlah," kata Florencia.


Alexa mendengus kesal kemudian ia duduk di sebelah Axel yang entah sejak kapan laki laki itu mulai makan. Sedangkan Florencia duduk di depan Axel.


Mereka bertiga pun makan dengan tenang hanya dentingan suara alat makan saja yang terdengar di sana.


Setelah selesai makan Alexa dan Axel pamit sedangkan Florencia kembali ke kamarnya.


**


Malam harinya..


Geovano baru saja pulang dari kantor. Geovano menduduk kan dirinya di sofa ruang tamu. Yati menghampiri Geovano.


"Tuan mau di buat kan teh atau kopi?" tanya Yati.


"Tidak usah bi. Bi, nyonya sudah kembali?"


"Iya, sudah tuan. Nyonya sedang is-"


Belum sempat Yati menyelesaikan ucapannya, Geovano sudah pergi bahkan laki laki itu terlihat berlari menaiki tangga.


BRAK


Geovano membuka pintu kamar Florencia dengan sangat keras hingga membuat sang empunya yang tengah menelepon itu terlonjak kaget.


"Aku akan ke sana," kata Florencia dan langsung menutup panggilan teleponnya.


"Ada apa?" tanya Florencia menaikan satu alisnya.


Geovano menatap Florencia dalam. Geovano berjalan ke arah Florencia yang tengah berdiri kemudian langsung memeluk Florencia tanpa aba aba.


"Aww.."


Ringis Florencia saat Geovano secara tidak sengaja menekan luka tembak di bahu Florencia.


Geovano yang mendengar ringisan istrinya itu sontak langsung melepas pelukannya. "Ada apa? Kenapa kau meringis? Kau sakit? Mana yang sakit?" tanya Geovano beruntun. Terlihat sekali kepanikan di wajah tampannya.


Florencia tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan dari Geovano itu. Florencia hanya menatap Geovano datar dan berlalu pergi.


Saat Florencia akan pergi, Geovano mencekal tangannya.


"Mau ke mana?" tanya Geovano lembut.


Florencia yang mendengar itu mengerut kan dahinya dalam. "Ada apa dengan nada suaranya?" batinnya.


"Bukan urusan mu! Lepas!" sarkas Florencia.


"Aku ikut dengan mu atau kau tidak akan bisa keluar dari mansion ini," ancam Geovano.

__ADS_1


"Kau tidak bisa mengancam ku" desis Florencia menatap tajam Geovano.


"Ayo.. Jadi pergi atau tidak?" tanya Geovano.


"Sial! Dia selalu saja mengganggu ku," kesal Florencia dalam hatinya.


Orang yang menelepon Florencia tadi adalah Axel. Mereka akan membahas tentang The Devil di markas tapi jika seperti ini Florencia tidak akan mungkin bisa pergi. Bisa saja Florencia pergi secara diam diam nanti tapi melihat sifat Geovano, itu tidak akan mudah.


"Tidak," jawab Florencia ketus.


"Baguslah," Geovano merebahkan tubuhnya di tempat tidur Florencia.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kau tidak lihat? Aku baru saja pulang kerja. Aku sangat lelah, aku ingin tidur," Geovano memejamkan matanya.


Florencia menghela napasnya kasar. "Keluarlah dari kamar ku atau aku yang akan keluar."


Geovano membuka matanya kemudian bangkit dari rebahannya.


Florencia pikir jika Geovano akan keluar dari kamarnya tapi nyatanya tidak, Geovano malah kembali membaringkan tubuhnya tapi kali ini di sofa. Florencia melihat mata Geovano yang perlahan mulai tertutup. Tak lama Geovano pun tertidur.


Florencia mendengus kesal kemudian ia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Florencia menarik selimut untuk menyilimuti tubuhnya. Tak lama Florencia pun tertidur.


Geovano membuka matanya, laki laki itu hanya berpura pura tertidur. Geovano berjalan ke arah Florencia yang sudah tertidur pulas. Geovono duduk di pinggiran tempat tidur. Ia membelai wajah Florencia.


"Aku rindu mata ini."


"Aku rindu bibir ini."


"Aku rindu wajah ini."


"Aku rindu kamu, Nara."


Kata kata itu hanya bisa Geovano ucapkan dalam hatinya. Geovano menatap Florencia dengan tatapan penuh cinta bahkan saat ini senyum laki laki itu terlihat jelas di wajahnya.


**


Keesokan paginya..


Geovano perlahan membuka matanya. Ia panik ketika tidak melihat Florencia berada di sana. Padahal semalam dengan sangat jelas ia mengingat Florencia tidur di dalam pelukannya.


"Akh.. Dia pergi kemana pagi pagi begini?" Geovano mengusap wajahnya kasar.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka dan terlihat Florencia masuk dengan mengenakan bathrobe. Ia baru saja selesai berenang.


Geovano menghela napasnya lega saat melihat Florencia. Laki laki itu langsung memeluk Florencia.


"Ck! Lepas! Kau selalu saja memeluk ku. Apa kau tidak ingat perjanjian kontrak pernikahan kita jika kau lupa aku akan mengingatkan mu," sentak Florencia.


Geovano melepas pelukannya. "Jangan pernah membahas masalah kontrak sialan itu lagi."


Florencia menatap Geovano bingung.


"Aku sudah membakarnya," sambung Geovano.


"Hah!"

__ADS_1


__ADS_2