
Rumah sakit..
Dokter tengah mengobati luka luka Florencia. Dokter itu mengernyit heran saat ia tidak melihat raut kesakitan di wajah dan juga rintihan kala ia mengobati luka Florencia.
Di saat orang lain yang mengalami itu, mereka akan berteriak kesakitan dan ada juga yang bahkan sampai menangis tapi berbeda dengan Florencia, wanita itu hanya menampil kan wajah datarnya saja. Tidak ada reaksi di sana, seolah itu hanya luka kecil. Padahal luka sayatan dan luka tusukan yang Florencia dapat kan cukup dalam dan beberapa harus di jahit.
Setelah selesai Dokter itu keluar dari ruang UGD untuk kemudian menjelas kan kondisi pasien pada keluarganya.
"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" tanya Geovano dengan wajah khawatirnya.
"Kondisi pasien baik baik saja, luka lukanya sudah di obati, tidak ada hal yang serius," jelas Dokter wanita itu.
"Bisa saya melihat istri saya?"
"Tentu saja, tapi setelah pasien di pindah kan ke ruang perawatan."
"Baik Dok. Terimakasih."
Florencia sudah di pindah kan ke ruang perawatan. Geovano duduk di kursi tepat di sebelah ranjang Florencia, laki laki itu tidak melepas kan genggaman tangannya sedetik pun dari tangan Florencia sedangkan Alexa dan Axel duduk di sofa yang ada di sana.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Geovano.
"Aku baik baik saja."
"Kau membutuhkan sesuatu?"
"Tidak. Mmm.. Terimakasih karena kau sudah menyelamat kan ku."
"Tidak perlu berterimakasih, aku ini suami mu," Govano menatap Florencia dalam.
"Ck! Suami? Selama ini kau kemana saja?" cibir Axel.
"Diam kau! Jangan mencampuri urusan rumah tangga ku," sentak Geovano menatap sinis Axel.
"Al, Xel, kalian pulanglah," kata Florencia.
"Jaga diri mu, Flo," kata Alexa.
"Hmm.."
"Ayo Xel," Alexa dan Axel pergi dari ruangan itu meninggal.
Florencia menatap Geovano yang juga tengah menatapnya dengan tatapan sulit di arti kan. "Apa?" tanyanya.
"Kau sangat dekat dengan laki laki itu?" tanya Geovano.
Geovano sebenarnya ingin menanya kan hal itu sudah sejak lama karena ia merasa hubungan antara Florencia dengan Axel lebih dari sekedar rekan kerja. Mereka terlihat seperti sudah mengenal sejak lama.
"Hmm.."
"Sejak kapan?"
"Sejak kecil."
__ADS_1
"Sejak kecil?" beo Geovano.
"Jika kau terus bertanya pada ku, sebaiknya kau pergi saja dari sini. Kau mengganggu istirahat ku saja."
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi, kau istirahatlah."
Florencia menutup matanya dan tak lama ia masuk ke alam mimpinya. Geovano mengelus ngelus kepala Florencia.
"Aku tidak suka kau dekat dengan laki laki lain selain diri ku, kau milik ku hanya milik ku. Aku tidak tahu ada hubungan apa di antara kalian dan aku tidak perduli itu karena kau adalah milik ku dan akan tetap menjadi milik ku," gumam Geovano dalam hatinya.
**
Keesokkan paginya..
"Sudah Laura berhentilah menangis, jika terus begini air mata mu habis nanti," kata Florencia yang sudah sangat jengah pasalnya sudah lebih dari dua jam Laura menangis.
"Kak Flo.."
"Aku sudah memaafkan mama mu, kondisi ku juga sekarang baik baik saja. Jadi berhentilah menangis atau aku akan marah pada mu."
"Tidak, jangan," cegah Laura seraya menghapus jejak air mata di pipinya. "Lihatlah.. Aku tidak menangis lagi."
"Good girl."
"Kak Flo, terimakasih" Laura memeluk Florencia erat dan gadis itu kembali menangis. Florencia hanya bisa menghela napasnya.
Selain cerewet ternyata Laura juga sangat cengeng itu pikir Florencia.
"Bagaimana keadaan Nara, Vano?" tanya Harun.
"Dia baik baik aja pa," Geovano menghela napasnya dalam kemudian menatap Harun. "Bagaimana dengan Wanita itu?" tanyanya.
"Dia harus mempertanggung jawab kan perbuatannya."
"Laura?"
"Awalnya dia memang sangat terpukul tapi perlahan dia mulai bisa menerimanya dan dia sendiri yang minta papa untuk menjeblos kan ibunya ke penjara. Kau jaga adik mu, dia akan tinggal bersama mu untuk sementara waktu."
"Papa tidak usah khawatir aku akan menjaganya. Ayo pa kita masuk," ajak Geovano.
Harun menggeleng kan kepalanya. "Kau saja, ada hal yang harus papa urus, titip salam saja pada Nara."
"Iya pa."
Jika boleh jujur Harun sengaja menghindar dari Florencia karena ia terlalu malu untuk menatap menantunya setelah apa yang di perbuat sang istri. Harun belum siap untuk bertemu dengan menantunya itu.
"Maafkan papa Nara, papa akan menemui mu nanti," gumam Harun.
Harun berlalu pergi sedangkan Geovano masuk ke dalam ruang inap Florencia.
"Kak Vano, papa mana?" tanya Laura setelah Geovano masuk ke dalam ruang inap Florencia tetapi ia tidak melihat Harun ikut masuk.
"Papa ada urusan." Geovano melihat ke arah Florencia. "Papa titip salam buat kamu."
__ADS_1
"Hmm.."
"Kau berbaringlah, jangan terlalu lama duduk, luka di perut mu akan ke tekan nanti," kata Geovano khawatir.
"Aku mau pulang," pinta Florencia.
"Kau harus di rawat beberapa hari lagi."
"Jika kau tidak mau mengantar ku, aku akan pulang sendiri."
Geovano tersenyum seraya mengelus kepala Florencia lembut. "Baiklah, aku akan menemui Dokter terlebih dahulu, kau berbaringlah."
"Hmm.."
Tiba tiba saja Laura terkekeh dan itu sontak saja membuat Florencia dan Geovano menatapnya bingung.
"Apa?" tanya Laura menatap Geovano dan Laura.
"Harusnya kakak yang nanya, kamu kenapa? Kenapa tiba tiba ketawa gitu?" tanya balik Geovano.
Laura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku geli liat sikap kak Vano sama kak Flo. Dulu kak Flo yang selalu bicara panjang lebar terus kak Vano hanya menjawabnya dengan deheman saja tapi lihatlah sekarang, keadaannya sudah berbalik."
Laura menatap Florencia. "Bagus kak Flo, aku suka gaya mu. Kak Vano memang harus di kasih pelajaran biar tau rasa."
Geovano menatap Laura sengit sedangkan gadis itu tersenyum mengejek pada Geovano.
"Laura, kau mulai berani pada kakak mu? Kau tidak takut pada ku?"
"Untuk apa aku takut pada kak Vano saat kak Flo ada di pihak ku?"
"Laura!!!"
Florencia memutar bola matanya malas melihat pertengkaran kakak beradik itu.
**
Mansion Geovano..
Florencia baru saja pulang setelah mendapat kan ijin dari Dokter tapi tetap saka Dokter menyaran kan jika Florencia masih harus banyak beristirahat dan tidak melakukan pekerjaan yang berat kerena luka tusuk di perutnya masih belum kering.
Laura memapah Florencia ke dalam mansion dan Geovano berjalan di belakang mereka.
Saat akan menaiki tangga Florencia melihat gelagat aneh dari Yati kemudian ia menghampiri Yati yang tertunduk. Sepertinya ada hal yang membuat sang asisten rumah tangganya itu khawatir.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat gelisah?" tanya Florencia.
Yati yang tadinya menunduk kini menatap Florencia dan betapa terkejutnya Florencia, Geovano dan Laura saat melihat mata sembab Yati yang sepertinya wanita itu habis menangis dalam waktu yang lama.
Wajah Yati terlihat seperti zombie itu yang di pikirkan Laura.
"Nyonya.. Putri menghilang," lirih Yati dan seketika itu juga tangisannya pecah.
"APA???"
__ADS_1