Transmigrasi Sexy Mafia

Transmigrasi Sexy Mafia
Chapter 45


__ADS_3

Geovano menatap Florencia lekat. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Aku harap dia tidak mengingat kejadian itu," batin Florencia.


"Tidak." elak Florencia.


Geovano menyeringai. "Kau mengingatnya bukan?"


"Apa maksud mu? Mengingat apa?"


"Apa aku harus mengulang kejadian malam itu supaya kau bisa mengingatnya lagi?"


"Jika kau melakukan itu akan aku pastikan detik itu adalah napas terakhir mu," desis Florencia tajam.


Geovano mengulum senyumnya. Sepertinya pancingannya berhasil, ikan memakan umpannya.


Saat melihat wajah asli Florencia sebenarnya Geovano masih ragu wanita yang dia cium di club waktu itu Florencia atau orang lain karena kejadian itu sudah lama dan Geovano tidak terlalu mengingat wajah wanita itu tapi sekarang setelah melihat reaksi dari Florencia, Geovano yakin jika wanita itu memang Florencia.


"Sudahlah hentikan sandiwara mu itu Florencia, aku tau kau mengingat semuanya," Geovano tersenyum menggoda Florencia.


Florencia memalingkan wajahnya.


"Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya Alexa melihat ke arah Florencia dan Geovano secara bergantian.


"Tidak," kata Florencia.


"Ya," kata Geovano.


Jawab Florencia dan Geovano secara bersamaan.


"Ya atau tidak? Kalian membuat ku pusing saja!" kesal Alexa.


"Aku bertemu dengannya di club, saat itu kita tidak sengaja bertabrakan lalu.."


"Kiss," Alexa memotong ucapan Geovano.


Geovano mengangguk kan kepalanya.


Alexa membulat kan matanya sempurna. "Oh god.. Jadi, kau pria yang mencuri first kiss nya Flo waktu itu? Pantas saja aku seperti pernah melihat mu sebelumnya tapi aku lupa di mana."


"First kiss?" beo Geovano.


"Ya. Kau tau, malam itu Flo sangat marah."


"Aku sangat tau bahkan rasa perih tamparannya pun aku masih bisa merasakannya," Geovano memegang pipinya dan ingatannya kembali saat Florencia dengan sadisnya menampar Geovano.


"Kalian bisa diam!" peringat Florencia dengan suara datarnya tapi percayalah itu terdengar sangat mengerikan.


Suasana mendadak hening tapi tidak bertahan lama karena tiba tiba saja..


DUAR


Suara yang memekakan telinga terdengar dari granat yang baru saja di lempar kan oleh dua orang pengendara sepeda motor ke gerbang mansion Florencia.


Florencia dan Axel langsung berlari ke luar mansion di susul Alexa, Geovano dan Kenand.

__ADS_1


Sesampainya di sana ada empat bodyguard yang berjaga di gerbang terluka dengan cukup parah akibat ledakan granat itu.


"Bawa mereka ke rumah sakit," titah Florencia.


"Baik boss."


Tak lama datang dua orang bodyguard yang sudah berhasil menangkap sang pelaku pelempar granat itu.


Florencia menatap kedua orang itu dengan tatapan membunuh. "Bawa mereka ke penjara bawah tanah."


"Baik boss."


"Flo, apa kau mendengarnya?" tanya Alexa dengan wajah yang terlihat sangat panik.


"Apa?"


Tit ..


Tit ...


Kini Florencia juga mendengar apa yang Alexa dengar untuk sesaat mereka saling tatap.


"Sial!!"


Semua orang melihat ke arah Florencia setelah mendengar umpatan dari gadis itu.


"Flo, ada apa?" tanya Axel.


"Periksa tempat ini cepat!!" sentak Florencia.


Semua bodyguard menyisir area sekitar gerbang dan tak lama salah satu dari mereka menemukan sebuah kotak berukuran sedang di dekat sebuah pohon.


Sebenarnya Florencia sama sekali tidak takut dengan bom itu karena ia sangat yakin Alexa bisa mengatasinya hanya saja yang membuat Florencia panik adalah ia tidak tau berapa itungan mundur bom itu setelah di aktif kan karena bisa saja bom itu meledak sebelum di temukan.


Semua orang mendekat ke arah kotak itu dan langsung saja Alexa membuka kotak itu. Alexa membulat kan matanya sempurna saat melihat itungan detik dari bom itu.


Dua puluh detik ..


"Matilah kita.. Bom itu akan segera meledak. Bagaimana ini Vano? Cepat kita harus menjauh dari tempat ini," panik Kenand.


Geovano diam.


"Ayo Vano, kenapa kau diam saja? Kita harus pergi dari sini. Jika kau tidak mau ya sudah biar aku saja. Aku masih sayang nyawa ku. Aku belum menikah dan punya anak," cerocos Kenand.


"Bodoh! Diamlah!" sentak Alexa menatap tajam Kenand. "Flo pisau mu," sambungnya lagi.


Florencia memberikan pisau lipatnya yang selalu di bawanya di saku jaketnya.


Lima detik ..


Tanpa rasa ragu Alexa memotong salah satu kabel bom itu dan tepat sekali, Alexa memang tidak pernah gagal. Itungan detik itu terhenti. Mereka semua aman.


Mereka semua kembali masuk ke dalam mansion.


"Kau mau ke mana?" tanya Geovano yang melihat Florencia dan Axel hendak pergi. "Aku ikut," putusnya kemudian.

__ADS_1


"Kau yakin?"


Itu bukan Florencia yang bertanya tapi Alexa sedangkan Florencia terus saja berjalan bersama Axel.


"Tentu saja," Geovano melangkah kan kakinya menyusul Florencia.


"Mereka semua pergi ke mana?" tanya Kenand pada Alexa.


"Kau ingin melihat sesuatu yang sangat menyenangkan?" tanya balik Alexa.


"Apa?"


Alexa tersenyum dan jujur itu membuat jantung Kenand berdetak dua kali lebih cepat. Ada apa dengan jantung Kenand?


"Ikutlah dengan ku," Alexa berlalu pergi dan Kenand mengikutinya dari belakang seraya memegang dada kirinya.


Kini mereka semua sudah berada di penjara bawah tanah.


Axel, Alexa, Geovano dan Kenand berdiri sejajar sedangkan Florencia berdiri di hadapan mereka semua.


Florencia menyeringai melihat dua mangsa yang ada di hadapannya itu seraya memainkan pisau kecil kesayangannya.


Sret ..


Kretek ..


Akh ..


Dalam sekejap Florencia menghilang kan sepuluh jari dari kedua mangsanya itu.


Kenand menelan ludahnya susah payah. Seketika badannya bergetar dan keringat dingin terlihat di dahinya sedangkan Geovano ia sudah tidak terlalu terkejut karena ia sudah mengira ini akan terjadi.


Geovano melangkah kan kakinya mendekati Florencia kemudian ia berbisik tepat di telinga Florencia. "Hanya ini yang kau lakukan untuk menghukum musuh mu?"


Florencia sedikit terkejut tapi dengan cepat ia kembali menguasai dirinya.


"Kau menantang ku?" Florencia membalikan badannya menghadap Geovano. "Maka lihatlah."


Sret ..


Sret ..


Florencia mengambil sebuah pedang dari salah satu bodyguard kemudian ia menebas kepala ke dua orang di hadapannya itu hingga terlepas dari tempatnya


Florencia menatap tajam Geovano. "Jangan pernah meremehkan ku!" desis Florencia tajam dan berlalu pergi meninggal kan Geovano yang membeku di tempatnya.


Sebelum pergi Florencia memberi perintah untuk mengirim kepala kedua orang itu pada Jasper karena ia sangat yakin Jasper lah yang ada di balik serangan ini.


Huek .. Huek ..


Alexa dan Axel bergidik jijik saat melihat Kenand muntah. Kenand merasa sangat mual ketika melihat darah mengalir dengan sangat deras. Pemandangan yang ia lihat saat ini benar benar sangat mengeri kan dan membuatnya nyaris pingsan jika saja Alexa tidak membawanya pergi dari sana.


Sedangkan Axel menghampiri Geovano yang masih terdiam di tempatnya.


Axel menepuk pundak Geovano. "Setelah melihat semua ini kau masih ingin hidup bersama dengannya?"

__ADS_1


Geovano menatap Axel dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ada hal yang ingin aku katakan pada mu, ikutlah dengan ku," kata Axel.


__ADS_2