
Keesokkan harinya..
PRANG
Suara pecahan vas, guci dan benda benda lainnya memenuhi ruang tamu Jasper.
"Akh sial!!"
"Apa yang aku takut kan terjadi. Dia sudah menarik semua sahamnya dari perusahaan ku. Akh.."
Sementara itu di sisi yang lain di waktu yang sama Mona sedang memohon mohon pada Harun supaya memaafkan kesalahan putranya Bastian dan segera membebaskan putranya itu dari penjara.
"Pa.. Bastian tidak bersalah pa, ini cuma fitnah, Bastian di jebak pa," mohon Mona dengan memasang wajah memelasnya.
Harun terdiam.
"Pa.. Percaya sama mama, Bastian itu di jebak tidak mungkin dia melakukan korupsi di perusahaannya sendiri. Ini pasti Geovano yang mengaturnya, dia sengaja melakukan ini supaya papa benci sama Bastian."
Harun tersenyum tipis kemudian ia menatap istrinya itu tajam dan itu untuk pertama kalinya Harun menatap Mona seperti itu.
"Harusnya kau berterimakasih pada putra ku karena dia hanya melapor kan anak kebanggaan mu itu pada polisi, dia tidak melapor kan mu karena dia tidak ingin membuat adiknya bersedih. Di saat kau seharusnya meminta maaf dan mengakui kesalahan mu, kau malah memfitnah putra ku," Harun tersenyum sinis.
"Kau tahu, aku sangat membenci penghianatan dan kau juga tahu, apa yang akan aku lakukan untuk menghukum para penghianat itu?"
Mona menelan ludahnya susah payah saat mendengar perkataan suaminya itu. Mona sangat tahu suaminya itu memang sangat membenci yang namanya penghianatan. Harun akan menghukum siapa pun orang yang sudah menghianatinya tanpa pandang bulu sampai orang itu benar benar hancur.
"Akan aku pasti kan sendiri, putra kesayangan mu itu akan mendekam di penjara selama mungkin dan aku juga akan memecat dia dari perusahaan, dia juga tidak akan menerima sepeser pun harta warisan dari ku."
Setelah mengata kan itu Harun pergi meninggal kan Mona yang mematung dengan sorot matanya yang memancar kan aura permusuhan pada Geovano.
"Geovano, kau sudah memisah kan ku dengan putra ku dan membuat putra ku menderita. Kau bersiaplah!! Aku juga akan memisah kan mu dengan istri tercinta mu itu dan aku akan membuatnya menderita, sangat menderita," desis Mona tajam.
**
BALDWIN CORP
"Bagaimana?" tanya Geovano.
"Costa Corp sudah hancur dan Bastian si penghianat itu juga sudah mendekam di penjara," jelas Kenand.
Tanpa mengetuk pintu, Harum masuk ke ruangan Geovano. Kenand yang melihat itu sontak menunduk kan sedikit kepalanya tanda pamit dan berlalu dari sana.
"Papa.."
Harun mendarat kan bokongnya di sofa dan Geovano pun bangkit dari kursi kerjanya kemudian duduk di sebelah Harun.
"Jika papa ke sini meminta ku untuk mencabut laporan itu.. Maaf pa, aku tidak akan pernah melakukannya. Dia bersalah, dia pantas mendapat kan itu," kata Geovano datar tanpa memandang sang papa.
__ADS_1
Mendengar itu Harun tersenyum tipis kemudian menepuk pundak Geovano. "Kau memang putra ku, boy."
Geovano mengarah kan pandangannya melihat Harun. Geovano terlihat sedikit syok karena ini di luar dugaannya.
Geovano berfikir jika Harun akan memintanya untuk mencabut laporan itu dan memaafkan Bastian, seperti biasanya. Tapi itu tidak terjadi. Kenapa papanya itu tidak membela sang anak tiri kesayangannya?
"Apa yang kau lakukan itu benar. Papa sangat bangga pada mu. Seorang penghianat itu memang harus di hukum siapa pun orangnya," kata Harun dan berlalu pergi dari ruangan itu meninggal kan Geovano dengan keterkejutannya.
**
Malam harinya..
Ting
Nada pesan terdengar dari ponsel Florencia kemudian ia membaca pesan itu.
'Kak Flo jemput aku, taxi yang aku tumpangi tiba tiba saja mogok. Aku ada di jalan xxx. Kak Flo cepetan datang, aku takut.'
Itu pesan yang di kirim Laura.
"Ck! Menyusah kan sekali gadis ini. Tadi aku sudah menawarinya untuk di antar kan pulang tapi dia menolak dan sekarang dia malah minta di jemput. Dasar menyebalkan!! Adik dan kakak itu selalu saja mengganggu ku!" gerutu Florencia tapi tak urung ia pergi menjemput Laura.
Kakak ipar yang baik.
"Maaf nyonya, malam malam begini nyonya mau pergi ke mana?" tanya Yati saat Florencia akan membuka pintu.
Tak lama setelah Florencia pergi, Geovano datang bersama Kenand, kedua laki laki itu baru saja menyelesaikan meeting di luar kantor dan langsung pulang.
"Bi, nyonya ada di kamarnya?" tanya Geovano.
"Tidak tuan, nyonya sedang pergi menjemput nona Laura."
Geovano hanya mengangguk kan kepalanya saja dan melangkah kan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya. Sedangkan Kenand laki laki itu sudah duduk manis di meja makan dan di depannya sudah tersaji makanan yang membuat cacing di perutnya berteriak.
**
Florencia sudah ada di jalan yang di kirim Laura tadi tapi Laura tidak ada di sana. Jalanan itu sangat sepi dan gelap. Tidak ada orang maupun kendaraan yang lewat di sana.
Florencia menyeringai, ia sudah tahu ini hanyalah sebuah jebakan dan bahkan Florencia juga tahu siapa orang yang sudah menjebaknya itu.
"Mona.. Rupanya kau ingin bermain main dengan ku. Baiklah.. Aku akan turuti kemauan mu itu."
Florencia keluar dari mobilnya dan saat itu juga ada empat orang yang berpakaian serba hitam langsung mendatanginya. Orang orang itu langsung menyeret Florencia masuk ke dalam mobil mereka dengan sangat mudah karena tentu saja Florencia tidak melakukan perlawanan. Florencia kini menjalan kan perannya menjadi wanita lemah tidak berdaya.
Sangat menggeli kan itu yang Florencia pikir kan ketika melihat tingkahnya sendiri. Berteriak, memberontak dengan tenaga yang lemah dan memohon untuk di lepas kan. Jika anggota Valuenz melihat itu, mereka pasti akan tertawa sampai perut mereka sakit.
Saat di mobil Florencia di bius tapi bukan Florensia namanya jika itu berhasil. Florencia hanya pura pura pingsan saja karena Florencia sama sekali tidak menghirup obat bius yang ada di sapu tangan itu.
__ADS_1
**
Byuurrr
Para penculik itu menyiram Florencia yang tangan dan kakinya sudah terikat di kursi kayu itu dengan air.
"Akh sial! Kenapa mereka menyiram ku. Apa tidak ada cara lain untuk membangun kan ku?" batin Florencia.
Florencia membuka matanya perlahan dan objek pertama yang ia lihat adalah Mona yang berdiri tepat di depannya bak seorang dewi kematian yang akan menghabisi nyawa Florencia.
PLAK
"Itu balasan karena kau, anak ku di penjara."
PLAK
"Dan itu alasan karena kau, suami ku tidak mempercayai ku lagi."
Mona menjambak rambut Florencia hingga wajah Florencia mendongak ke atas.
"Kau harua membayar atas apa yang sudah kau lakukan pada ku. Dua kali kau selamat dari kematian dan akan aku pasti kan kali ini kau tidak akan selamat. Kau akan lenyap di tangan ku, tapi sebelum itu anak buah ku akan menyiksa mu sampai kau yang akan meminta kematian mu itu pada ku."
PLAK
PLAK
PLAK
"Siksa dia."
"Baik nyonya."
Para bedebah itu menyiksa Florencia dengan cara memukul Florencia hingga wajahnya penuh dengan luka. Menyayat kulit mulus Florencia hingga darah mengalir di sana.
Jika itu wanita lain, mungkin wanita itu sudah menjerit kesakitan tapi tidak dengan Florencia. Florencia tidak bereaksi apa pun ia malah tersenyum remeh menatap orang yang menyiksanya itu.
Mona yang melihat itu menggeram marah. Tanpa aba aba Mona langsung menancap kan pisau yang di bawanya ke perut rata Florencia. Tapi lagi dan lagi Florencia tidak merasa kan sakit sedikit pun karena luka itu sudah biasa ia dapat kan.
"Kau akan menyusul anak tercinta mu itu membusuk di dalam perjara," desis Florencia menyeringai.
Mona menautkan kedua alisnya bingung dengan maksud dari ucapan Florencia.
"Lihatlah ke belakang mu."
Mona membalikan badannya dan..
"Mona!!!"
__ADS_1
Suara itu berhasil membuat tubuh Mona menegang. Peluh mulai keluar dari keningnya.