Transmigrasi Sexy Mafia

Transmigrasi Sexy Mafia
Chapter 30


__ADS_3

Geovano baru saja selesai menonton Video bukti pengakuan Bastian yang menggelap kan dana Perusahaan.


Geovano mengeraskan rahangnya saat melihat video itu.


"Bastian kau tidak akan selamat dari ini, akan aku pasti kan kau mendekam di penjara selama mungkin," desis Bastian tajam.


Kemudian Geovano melihat ke arah Florencia. "Dari mana kamu mendapat kan video ini?" tanyanya.


"Laptop Nara.. Emm.. Maksudnya laptop ku."


Huft.. lagi lagi Forencia keceplosan.


"Ingatan mu kembali?" tanya Geovano yang sangat mengharap kan ingatan istrinya itu kembali. Geovano sangat merindukan tatapan penuh cinta yang dulu selalu terpancar di mata sang istri.


"Tidak," bohong Florencia.


Geovano mengerut kan dahinya. "Dari mana kamu tahu tentang video ini?"


"Ck! Kau ini cerewet sekali. Sudahlah itu tidak penting."


Geovano menatap Florencia dalam.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu?"


"Aku hanya sedang menatap istri ku, apa tidak boleh?"


"Tapi aku bukan istri mu.. Ekhm.. Maksud ku, sebentar lagi kita akan bercerai bukan? Dua bulan lagi pernikahan kontrak kita selesai."


"Diam!" sentak Geovano. "Sudah aku bilang, jangan pernah membahas masalah kontrak sialan itu lagi. Dan dengar sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan mu. Kau istri ku dan akan tetap menjadi istri ku," kata Geovano penuh penakanan. Geovano bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.


"Bagaimana bisa aku menjadi istri mu? Aku bukan istri mu. Istri mu Nara sudah tewas-"


PRANG


Suara gelas yang terjatuh itu menghentikan ucapan Florencia. Florencia sontak membalik kan badannya dan..


"Kau!"


Yati berdiri tepat di depan pintu kamar Florencia yang terbuka karena saat Geovano pergi tadi ia tidak menutup pintunya kembali.


"A-apa yang nyonya katakan?" tanya Yati.


"Akh sial!"


"Bisa kau lupakan saja apa yang saya katakan tadi?"


"Bagaimana bisa saya melupakannya nyonya?"


"Kau benar. Mmm.. Baiklah, apa kau mempercayai ku?"


"Tentu saja, saya sangat mempercayai nyonya."


"Jika saya katakan saya bukan Nara dan saya adalah orang lain yang bertransmigrasi ke tubuh Nara, apa kau percaya?"


"Apa yang nyonya katakan?"


"Itulah kenyataannya."


"Saya tidak mengerti nyonya."


Florencia terkekeh saat melihat wajah Yati yang sangat kebingungan.


"Saya hanya bercanda. Kau pikir saya siapa kalau bukan Nara? Saya Nara, saya mengatakan itu karena kau kan tahu, saya kehilangan semua ingatan saya dan saya ingin memulai hidup baru dan saya menganggap Nara yang dulu sudah tiada dan sekarang sayang ingin di kenal sebagai Flo, kau mengerti?"


Yati mengangguk kan kepalanya. "Jadi nyonya beneran nyonya Nara?"


"Jika bukan Nara siapa lagi? Setan?"

__ADS_1


"Maaf nyonya."


"Tak apa. Jangan bahas masalah ini lagi. Saya akan pergi, jika Geovano bertanya bilang saja saya pergi shopping."


"Iya nyonya."


Florencia pergi sedangkan Yati membersih kan pecahan gelas dan tumpahan jus yang terjatuh tadi. Tak lama setelah itu Geovano datang. Geovano tadi pergi ke ruang kerjanya untuk menenang kan diri.


"Nyonya ke mana?" tanya Geovano.


"Nyonya baru saja pergi tuan." jawab Yati.


"Pergi kemana?"


"Shopping tuan."


Geovano masuk ke kamarnya. Geovano mengambil ponselnya di atas nakas. Ia melihat ponselnya dan terlihat titik merah di sana. Titik merah itu adalah lokasi Florencia. Semalam saat Florencia tidur Geovano memasang aplikasi GPS di ponsel Florencia yang langsung tersambung dengan ponselnya.


Geovano keluar dari kamarnya dan langsung pergi menyusul Florencia.


Geovano terus mengikuti titik merah itu. Hingga sampailah dia di tempat di mana titik merah itu berhenti.


Geovano keluar dari mobil lalu berdiri di depan gerbang yang menjulang tinggi. Di balik gerbang itu terlihat sebuah mansion yang sangat megah. Mansion dengan gaya klasik yang di dominasi warna putih.


"Dia berbohong."


Sementara itu salah satu bodyguard yang menjaga gerbang tengah mengawasi Geovano lewat CCTV. Bodyguard itu menekan sebuah alat di telinganya yang langsung tersambung dengan bodyguard yang ada di dalam mansion.


"Ada orang mencurigakan di gerbang."


Setelah mendengar itu bodyguard yang ada di dalam mansion langsung memberitahu Florencia yang tengah duduk di sofa. Florencia baru saja sampai.


"Maaf boss, ada orang mencurigakan di gerbang." kata Bodyguard.


"Orang mencurigakan?" beo Florencia mengkerutkan kedua alisnya.


"Al periksalah," titah Florencia.


Alexa mengambil laptopnya yang ada du atas meja kemudian ia mulai mamainkan jari jarinya di atas kerboard itu.


"Oh god.."


"Kenapa Al?" tanya Axel.


"Lihatlah."


Alexa memposisi kan laptopnya supaya bisa di lihat oleh Florencia, Axel dan juga dirinya. Di layar laptop itu menunjuk kan video rekaman CCTV.


"Kenapa dia ada di sana?" tanya Florencia.


"Flo, dia mengikuti mu?" tanya Alexa.


"Entahlah, aku tidak tahu."


"Aku yang akan menemuinya," kata Axel.


"Tunggu Axel," cegah Florencia.


"Kenapa Flo?"


"Dia menelepon."


Florencia menggeser ikon hijau itu tak lama terdengar suara bariton dari sebrang sana.


"Kau ada di mana?" tanya Geovano.


"Aku ada di mansion Axel," jawab Florencia.

__ADS_1


"Kenapa kau ada di sana? Bukankah kau mengatakan akan shopping?"


"Kenapa kau banyak bertanya? Apa urusannya dengan mu?"


"Cepat jawab! Jangan mengelak!" sentak Geovano.


"Itu karena Alexa, aku akan menjemput Alexa terlebih dulu."


"Keluarlah aku ada di depan gerbang."


"Depan gerbang? Depan gerbang mana?"


Alexa terkekeh mendengar jawaban Florencia itu.


"Cepat keluarlah atau aku yang akan masuk ke dalam."


"Iya.. Iya.. Aku keluar."


Setelah panggilan telepon itu berakhir Alexa terbahak.


"Kau memang luar biasa Flo, harusnya kau menjadi aktris bukan mafia," kata Alexa di sela sela tawanya.


Florencia pergi ke luar untuk menemui Geovano.


**


"Ada apa?" tanya Florencia.


"Kita pulang," Geovano memegang tangan Florencia kemudian menariknya untuk masuk ke dalam mobil.


"Lepas! Apa yang kau lakukan? Aku gak mau pulang," kata Florencia saat mereka sudah berada di dalam mobil Geovano.


Geovano tidak menanggapi ucapan Florencia. Geovano melajukan mobilnya.


"Geovano, aku gak mau pulang, aku mau shopping."


"Ya udah ayo.. Kita shopping."


Florencia mengepal kan tangannya kesal. "Kita pulang aja."


"Kenapa? Katanya mau shopping?"


"Gak tahu kenapa tiba tiba malas. Kita pulang aja."


"Hmm.."


Geovano menatap lurus ke depan tetapi sudut bibirnya terlihat melengkung. Sedangkan Florencia sedang mati matian menahan amarahnya untuk tidak men*****ng Geovano saat ini juga.


"Kau mengikuti ku?" tanya Florencia.


"Hah? Iya, aku mengikuti mu."


"Kenapa?"


"Aku tidak suka kau menemui laki laki itu."


"Kenapa? Bukankah selama ini kau tidak perduli dengan ku? Terus kenapa sekarang kau selalu saja mengganggu ku?"


Geovano menepikan mobilnya kemudian ia menggenggam kedua tangan Florencia seraya menatap dalam kedua matanya.


Geovano mengarahkan satu tangan Florencia untuk menyentuh dadanya sebelah kiri.


"Kau merasakannya?" tanya Geovano.


"Apa?" tanya balik Florencia dengan wajah polosnya.


Oh ayolah.. Florencia tidak berpengalaman dalam hal yang seperti ini.

__ADS_1


Geovano terkekeh. "Aku akan memberitahu mu nanti."


__ADS_2