Transmigrasi Sexy Mafia

Transmigrasi Sexy Mafia
Chapter 23


__ADS_3

Florencia dan Geovano tengah sarapan. Florencia memasuk kan satu sendok salad ke mulutnya.


"Kau harus ikut bersama ku ke kantor," kata Geovano.


"Tidak bisa, aku sudah ada janji."


"Batalkan."


"Kak Flo.."


Teriak Laura yang baru saja datang. Gadis itu langsung duduk di sebelah Florencia.


"Laura, aku gak bisa nemenin kamu shopping," kata Florencia.


"Kenapa? Kak Flo udah ada janji?" tanya Laura yang sedikit kecewa.


"Tanyakan saja pada kakak mu, dia yang meminta ku untuk membatalkan nya."


"Kak Vano, kenapa gitu?" tanya Laura kesal.


"Jadi, kau akan pergi dengan Laura?" tanya Geovano melihat ke arah Florencia.


"Hmm.."


"Ya sudah kalian pergilah," putus Geovano akhirnya.


"Bodoh! Apa yang aku pikirkan?" batin Geovano.


Geovano berfikir jika Florencia akan pergi bersama dengan Axel tapi ternyata ia salah.


**


Setelah lelah seharian shopping Florencia kembali ke mansion dengan membawa banyak paper bag di tangannya sementara Laura sudah di antarkan pulang oleh Florencia sebelumnya.


"Nyonya sudah pulang?" tanya Yati seraya mengambil alih paper bag di tangan Florencia.


"Hmm.. Ambilkan saya jus?" Florencia duduk di sofa ruang tamu.


"Baik nyonya."


Yati menyimpan paper bag itu di atas meja kemudian pergi ke dapur dan tak lama kembali membawa segelas jus untuk Florencia


"Ini nyonya jus nya," Yati memberikan jus yang dia bawa itu pada Florencia.


Florencia menatap jus yang ada di tangan Yati itu.


"Tidak ada racun di dalamnya kan?"


Pertanyaan Florencia itu berhasil membuat tubuh Yati membeku. Keringat dingin mulai terlihat di dahinya.


Florencia menyeringai. "Kenapa kau berkeringat?"


"Hah? I-itu nyonya sa-saya.. Lagi kurang enak badan," Yati menyeka keringat di dahi dengan tangannya.


Florencia mengambil jus dari tangan Yati yang gemetar. "Istirahatlah, jangan sampai kau pingsan."


"Iya nyonya, saya permisi."


Yati hendak melangkah kan kakinya menuju dapur tapi pertanyan yang terlontar dari mulut Florencia berhasil menghentikan langkahnya.


"Siapa yang menyuruh mu?"

__ADS_1


"Aku tahu kau mencoba untuk menghabisi ku. Bicaralah selagi aku masih bisa bersabar."


Bruk..


Yati mersimpuh di hadapan Florencia dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Maaf kan saya nyonya.. Maaf kan saya. Saya tidak berniat seperti itu, saya terpaksa."


"Katakan siapa orang itu?" tanya Florencia datar tapi percayalah kini Florencia tengah menahan amarahnya untuk tidak menghabisi asisten rumah tangganya itu.


Yati menggeleng kan kepalanya cepat.


"Kau tidak ingin memberitahu ku? Baiklah jika itu pilihan mu, kau jelaskan saja langsung apa yang kau lakukan pada ku pada polisi. Aku akan menghubungi mereka sekarang juga," ancam Florencia.


"Tidak nyonya, jangan.. Saya mohon," lirih Yati.


"Kalau begitu, katakan! Siapa orang itu? Jangan menguji kesabaran ku," sarkas Florencia.


"Maaf nyonya.. Saya tidak bisa memberitahu nyonya."


"Dia mengancam mu?."


Yati mengangguk kan kepalanya. "Jika saya memberitahu nyonya, dia akan mencelakai anak saya di kampung."


Florencia menghela napasnya kasar. "Kau mempercayai ku?"


"Tentu saja, saya sangat mempercayai nyonya."


"Katakan, siapa orang itu?"


"Tapi nyonya.."


"Anak mu akan selamat, kau tenang saja."


Alexa memeluk Yati dan menuntunnya untuk duduk di sofa. Alexa menggenggam tangan Yati.


"Percayalah pada kita, tidak akan terjadi apa pun pada anak mu, kita akan menjaganya. Sekarang katakan, siapa yang menyuruh mu untuk menghabisi Flo?"


"Nyonya Mona," cicit Yati.


Florencia menyeringai.


"Flo, mereka sudah tidak bisa di ampuni lagi. Mereka harus lenyap di tangan ku saat ini juga," desis Axel dengan sorot matanya yang sangat menakut kan.


"Jika mereka lenyap hanya dengan satu peluru dari pistol mu itu saja tidak menyenangkan. Apa kau tidak ingin bersenang senang?" tanya Florencia menatap Axel dengan smirk nya.


"Terserah kau saja Flo."


"Nyonya maaf kan saya, saya mengaku salah dan jika nyonya ingin melapor kan saya pada polisi saya ikhlas tapi saya mohon tolong jaga anak saya," lirih Yati seraya menyatukan kedua tangan di depan dadanya.


Yati benar benar menyesal apa yang sudah di lakukannya pada majikannya itu. Yati ikhlas jika ia harus di penjara karena itu memang kesalahannya.


"Saya tidak akan melaporkan mu pada polisi."


Ucapan Florencia itu kembali membuat Yati menangis bahkan kini tangisannya itu terdengar sangat memilukan.


"Terimakasih nyonya, terimakasih."


Alexa kembali memeluk Yati. "Sudah jangan menangis lagi. Sekarang bi Yati istirahatlah, semua akan baik baik saja."


Yati mengangguk kan kepalanya lalu ia melangkahkan kakinya menuju dapur.

__ADS_1


"Kau sudah punya rencana Flo?" tanya Axel.


"Aku masih memikirkannya, yang terpenting sekarang kau tempat kan beberapa bodyguard untuk menjaga anak bi Yati."


"Aku akan mengaturnya."


Florencia melamun.


"Apa yang kau pikirkan Flo?" tanya Alexa.


"Aku masih tidak mengerti? Kenapa ibu dan anak itu sangat membenci Nara?"


"Saya tahu nyonya, kenapa nyonya Mona dan tuan Bastian sangat membenci nyonya Flo?" kata Yati yang ternyata masih berada di sana.


Florencia, Alexa dan Axel sontak melihat ke arah Yati.


"Ceritakan pada ku semua yang kau ketahui," kata Yati.


Yati duduk di sofa tepat di sebelah Florencia.


"Selama ini saya selalu menunggu hari di mana nyonya mendapat kan semua ingatan nyonya kembali."


"Itu tidak akan pernah terjadi karena aku bukan Nara," batin Florencia.


"Jangan bertele tele, langsung ke intinya saja," kata Florencia.


"Baik nyonya. Malam itu-- tuan.."


"Tuan siapa?" tanya Florencia yang sudah sangat penasaran.


"Tuan Vano.." Yati bangkit dari duduknya.


"Hey.. Kau kenapa?"


"Lihat ke belakang mu Flo," titah Axel.


Florencia membalikan badannya dan netranya langsung bersibobrok dengan Geovano yang berdiri di belakangnya.


Florencia menghela napasnya kasar. "Ck! Mengganggu saja. Kenapa juga kau harus pulang sekarang?"


"Flo kita pergi," pamit Alexa dan berlalu pergi bersama Axel.


"Kau, bawa semua belanjaan ku ke kamar," titah Florencia.


"Baik nyonya."


Florencia melangkah kan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya dan Yati berjalan di belakangnya seraya membawa belanjaan Florencia meninggal kan Geovano yang berdiri kebingungan.


"Apa yang sedang mereka bicara kan? Kenapa mereka semua pergi setelah aku datang? Ini sangat mencurigakan."


**


Kamar Florencia..


Yati meletakan belanjaan Florencia di atas sofa.


"Kita bicarakan lagi nanti, kau harus menceritakan semuanya jangan ada yang di tutupi dan kau tidak usah khawatir soal anak mu, dia akan baik baik saja. Kau berikan saja alamat tempat tinggal mu di kampung, saya akan menempat kan beberapa orang untuk menjaga anak mu."


"Iya nyonya, terimakasih."


"Dan satu hal lagi, jangan bilang apa pun soal ini pada Geovano. Saya yang akan memberitahunya nanti"

__ADS_1


"Baik nyonya, saya permisi," Yati keluar dari kamar Florencia.


__ADS_2