Transmigrasi Sexy Mafia

Transmigrasi Sexy Mafia
Chapter 26


__ADS_3

"Flo, are you ok?" tanya Alexa.


Florencia hanya mengangguk kan kepalanya tanda bahwa ia baik baik saja tanpa melihat ke arah Alexa yang sangat mengkhawatirkannya.


Entah itu karena keberuntungan Florencia atau orang yang menembaknya itu memang tidak ahli dalam hal menembak. Tembakannya meleset sehingga peluru itu hanya menyerempet bahu Florencia saja.


Florencia tersenyum miring seraya melihat bahunya yang mengeluarkan darah. Florencia tidak merasakan sakit sedikit pun. Ia sudah terbiasa dengan luka tembak.


Florencia membalikan badannya untuk melihat pengecut yang menyerangnya dari belakang. Florencia melangkahkan kakinya mendekati pengecut itu yang kini tengah sangat kesal karena saat ia akan kembali menembak Florencia, pistol yang ada di tangannya itu tidak berfungsi karena sudah tidak ada peluru lagi di dalamnya.


Florencia berjongkok kemudian di arahkan pistolnya itu tepat di kepala musuh.


"Siapa tuan mu?" tanya Florencia seraya menekankan ujung pistolnya di pelipis musuh.


"Menyerah saja, kau tidak akan pernah bisa melawannya."


Bugh


Florencia menendang musuh hingga terpental ke tembok.


Florencia melempar pistolnya ke sembarang arah kemudian ia mengeluarkan pisau lipat dari saku belakang jeansnya. Florencia mendekat ke arah musuh yang sudah tidak berdaya. Darah keluar dari mulutnya dan nafasnya juga terdengar sangat berat karena dadanya yang terasa sangat sesak setelah di tendang Florencia.


"Flo jangan dulu menghabisinya sebelum dia mengatakan siapa tuannya," peringat Alexa yang sudah menyelesai kan pekerjaannya dan kini ia tengah menyaksikan kegilaan sahabatnya itu.


Florencia mengabaikan ucapan Alexa karena ia tengah asik bermain main.


Florencia menyayat kedua pipi musuh kemudian menghirup aroma darah yang keluar dari sana. Setelah itu ia membuat tanda silang di bagian dada hingga perut. Ia melakukannya berulang kali hingga darah mengalir deras di sana.


Florencia tersenyum puas saat mendengar rintihan musuhnya dan itu semakin membuat Florencia bersemangat.


Sementara itu Axel yang berada di helikopter merasa sangat kesal karena sudah setengah jam ia menunggu tapi Florencia dan Alexa belum juga keluar dari markas itu. Kemudian Axel menekan sebuah alat di telinganya yang menghubungkan antara dirinya dengan Alexa.


"Al, apa yang sedang kalian lakukan di dalam sana? Kenapa lama sekali?" tanya Axel.


"Kita sedang berpesta di sini, Axel apa kau ingin mencoba daging cincang buatan Flo?" tanya balik Alexa seraya menatap Florencia yang sedang.. Akh sudahlah kalian akan mual jika mendengarnya.


Axel terkekeh. "Tidak terimakasih."


"Flo enough, dia sudah tewas," kata Alexa.


Florencia menghentikan aktivitasnya. "Peledak."


"Hah?" bingung Alexa.


"Letakan peledak itu di atas tubuhnya,"


Alexa menggeleng cepat. "Ck aku tidak mau, kau letakan saja sendiri," Alexa bergidik ngeri saat ia melihat bagian perut musuh yang sudah tewas itu.


Florencia memutar bola matanya malas kemudian ia menatap anggotanya yang sedari tadi menjaga Alexa. "Letakan peledak itu di atas tubuhnya."


"Baik boss."


"Flo, apa kau seorang dokter bedah yang tengah melakukan operasi? Kenapa juga kau mengeluarkan semua bagian dalam perutnya? Membuat ku mual saja!" kesal Alexa.


Alexa memang sudah sering kali melihat kelakuan Florencia saat sedang bersenang senang tapi tetap saja ia tidak akan pernah terbiasa melihatnya. Bagaimana bisa terbiasa jika Florencia selalu mengeluarkan semua isi perut musuhnya saat sedang bersenang senang.


"Cobalah, kau akan menyukainya nanti," Florencia mengeluarkan smirknya.

__ADS_1


"Tidak terimakasih."


Florencia dan Alexa berjalan keluar dari markas kemudian naik ke helikopter yang sama dengan Axel.


"Ledakan!" titah Florencia.


"Oke."


Alexa menekan satu tombol di laptopnya. Hitungan mundur pun terlihat di sana.


Lima


Empat


Tiga


Dua


Satu


Duar..


Markas The Devil pun seketika hancur.


**


Valuenz sudah kembali ke markas besar mereka yang ada di Roma, Italia.


"Flo, luka mu harus segera di obati," kata Alexa.


"Ck! Kau ini memang keras kepala, terserah kau sajalah."


Ponsel Axel tiba tiba berdering kemudian ia langsung menekan ikon hijau dan tak lama terdengar suara dari sebrang sana.


" ... "


"Apa?"


" ... "


"Kau jaga papa, kita akan segera kembali."


Axel menutup panggilan teleponnya sepihak.


"Apa yang terjadi?" tanya Florencia.


"Ada yang menyerang mansion kita di jakarta," jawab Axel.


"Bagaimana dengan papa?" tanya Alexa yang mulai menangis.


"Tenanglah, papa baik baik saja."


Alexa menghela napasnya lega begitu juga dengan Florencia. Wajah Florencia memang terlihat datar tapi percayalah kini ia sangat mengkhawatirkan Matteo yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.


Setelah kematian kedua orang tuanya Florencia di rawat oleh Matteo seperti anaknya sendiri. Matteo yang membimbing Florencia untuk bisa menjadi ketua Valuenz menggantikan sang Ayah.


Anak kecil pada umumnya di ajarkan oleh guru di sekolah untuk menjadi anak yang pintar dalam bidang akademik tetapi berbeda dengan Florencia, Florencia kecil di ajarkan oleh Matteo bagaimana caranya berkelahi, menembak dan menghabisi musuh, itu semua di lakukan agar Florencia bisa layak dan pantas menyandang gelar 'Queen of Mafia'.

__ADS_1


Tiga tahun lalu tepatnya saat Florencia berusia tujuh belas tahun barulah secara resmi Florencia di angkat menjadi ketua Valuenz.


"Kita balik sekarang. Zack, siapakan semuanya," titah Florencia.


"Baik boss."


**


Jakarta, Indonesia


Geovano menatap kosong ke arah kaca besar yang berada tepat di belakang meja kerjanya.


"Ini sudah tiga hari. Pergi ke mana kau?"


"Kenapa kau pergi tanpa memberitahu ku?"


Tiga hari lalu Yati memberitahu Geovano jika Florencia pergi saat tengah malam. Yati tidak memberitahu kemana istrinya itu pergi karena memang Florencia pergi begitu saja tanpa memberitahu kemana ia akan pergi.


"Vano."


Panggilan dari Kenand itu di abaikan oleh Geovano yang tengah asik dengan lamunannya.


"Vano."


Kali ini Kenand menaikan nada suaranya tapi tetap saja Geovano tak bereaksi. Kenand berdecak kesal kemudian ia..


Prang


Kenand dengan sengaja menjatuhkan gelas berisikan air putih yang ada di atas meja Geovano.


Geovano tersentak kemudian ia memutar kursinya untuk melihat siapa orang yang sudah mengganggunya.


"Apa yang kau lakukan?" sarkas Geovano.


"Kita harus pergi meeting sekarang."


"Batalkan."


Kenand menghela napasnya dalam kemudian ia duduk di kursi tepat di hadapan Geovano.


"Flo," tebak Kenand yang memang tahu apa yang sedang mengganggu pikiran sahabatnya itu.


"Ini sudah tiga hari, apa kita lapor saja pada polisi?"


"Kau tenanglah dul-"


"Bagaimana aku bisa tenang? Sudah tiga hari istri ku menghilang. Tidak ada kabar sama sekali, aku tidak bisa menghubunginya," potong Geovano dengan berapi api.


Kenand mengulum senyumnya mendengar ucapan Geovano. "Vano jujurlah, kau sudah jatuh cinta pada istri mu, iya kan?"


"Kau menang Ken, aku kalah. Aku tidak bisa melihat dia bersama laki laki lain dan aku juga takut kehilangan dia. Iya, aku jatuh cinta pada istri ku, aku sangat mencintainya," jujur Geovano.


Kenand merasa senang karena akhirnya Geovano mengakui perasaannya. "Aku akan membantu mu."


"Tentu saja, kau harus membantu ku"


"Innara Havika, aku mencintai mu. Pulanglah, aku menunggu mu," batin Geovano.

__ADS_1


__ADS_2