Transmigrasi Sexy Mafia

Transmigrasi Sexy Mafia
Chapter 46


__ADS_3

Geovano menatap kandang hyena di hadapannya. Kini ia bersama Axel berada di taman belakang mansion Florencia.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Geovano tanpa mengalihkan pandangannya dari dua hyena peliharaan Florencia itu.


"Kau mencintai Florencia?" bukannya menjawab pertanyaan Geovano, Axel malah balik bertanya.


"Lebih dari yang aku pikir kan," Geovano tersenyum. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia bisa jatuh cinta pada Florencia bahkan sekarang ia mencintai gadis itu tanpa batas.


"Setelah tau dan melihat dengan mata kepala mu sediri sisi gelap dari diri Florencia, apa kau masih ingin hidup bersama dengannya?"


"Florencia hidup ku. Bagaimana aku bisa hidup tanpa dirinya?" sarkas Geovano seraya menatap tajam Axel. "Apa sebenarnya tujuan mu itu? Jika kau berusaha untuk memisahkan ku dengan Florencia maka berhentilah karena itu tidak akan pernah terjadi."


Geovano tidak tau apa tujuan Axel bertanya seperti itu. Pikirannya mengatakan jika Axel berusaha untuk memisah kan dirinya dengan Florencia dan Geovano tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.


Tapi pikiran Geovano itu salah karena tanpa Geovano ketahui, Axel tersenyum tipis sangat tipis. Axel puas dengan jawaban yang di berikan Geovano.


Axel sangat menyayangi Florencia sebagai adiknya. Axel akan sangat bahagia jika ada seseorang yang menyayangi dan mencintai Florencia dengan tulus. Sudah cukup selama ini Axel melihat adik kecilnya itu kesepian. Memang dirinya, Alexa dan Matteo selalu ada untuk Florencia tapi tetap saja itu tidak cukup.


Selama ini tujuan hidup Florencia hanyalah balas dendam. Hati Florencia mati. Ia tidak pernah merasa bahagia dalam hidupnya.


Axel ingin melihat Florencia bahagia dengan hidupnya. Axel ingin melihat senyum Florencia terus terbit dari wajah cantiknya dan itu hanya bisa terjadi jika ada seseorang yang bisa menghidup kan kembali hati Florencia.


"Jika kau menyakiti hati Florencia. Kau akan habis di terkam dua hyena itu," ancam Axel.


"Hah?" Geovano melihat ke arah Axel.


"Apa ini? Kenapa dia berkata seperti itu? Bukankah dia juga menyukai Florencia?" tanya Geovano dalam hatinya.


"Aku mendukung ku. Takluk kan lah hati gadis menyebalkan itu," kata Axel.


"Bukankah kau juga menyukai Florencia tapi kenapa kau malah mendukung ku?" tanya Geovano pada akhirnya.


Axel terkekeh. "Aku tidak menyukai Florencia. Aku memang sangat menyayangi Florencia tapi hanya sebagai saudara tidak lebih," jujur Axel.


"Kencan kalian waktu itu?"


"Kencan?" beo Axel.


"Saat di bioskop kalian ber.." Geovano tidak melanjutkan ucapannya. "Akh sial!! Kenapa aku harus mengingat kejadian waktu itu," sambungnya lagi seraya mengusap wajahnya kasar.


Geovano kembali mengingat kejadian saat dia mengikuti Florencia dan Axel ke bioskop. Saat itu Geovano melihat Florencia dan Axel berciuman. Geovano tidak tau saja itu hanyalah rencana Axel untuk membuatnya cemburu dan soal ciuman itu hanya asumsi Geovano saja karena memang jika di lihat dari posisi Geovano duduk saat itu mereka memang terlihat seperti sedang berciuman tapi kenyataannya tidak mereka hanya mendekatkan wajahnya saja tidak sampai berciuman.


(Kalo kalian lupa scenenya ada di chapter 12)


Haa .. Haa .. Haa ..


Tawa Axel meledak saat mendengar ucapan Geovano. Ia juga mengingat kejadian di bioskop waktu itu.

__ADS_1


"Maksud mu berciuman?" tanya Axel di sela sela tawanya.


"Sudahlah jangan bahas itu," Geovano menghela napasnya kasar untuk menghilang kan rasa sesak di dadanya.


"Terkadang apa yang kau lihat itu tidak sama seperti kenyataannya."


Geovano mengkerut kan dahinya.


"Aku dan Flo tidak berciuman."


"Kau serius? Tapi saat itu aku melihatnya sendiri kalian.."


"Kau memang sangat bodoh! Setelah kau tau sifat Florencia, apa kau pikir aku akan dengan suka rela menjadi kan diri ku sebagai samsaknya?"


"Iya, kau benar."


Geovano dan Axel terkekeh.


Sementara itu di sisi lain Alexa dan Kenand tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Minumlah," Alexa memberikan segelas minuman hangat untuk kenand.


"Terimakasih," Kenand menerima minuman itu kemudian meneguknya.


"Masih mual?" tanya Alexa.


PRANG


Gelas yang ada di tangan Kenand tiba tiba saja terlepas karena ia melihat Florencia yang berjalan ke arahnya setelah gadis itu membersihkan dirinya.


Kenand menelan salivanya susah payah saat Florencia duduk di sebelahnya.


"Kau takut pada ku?" tanya Florencia menetap Kenand.


Kenand menggeleng kan kepalanya kemudian mengangguk kan kepalanya. Alexa terkekeh melihat itu.


Siapa pun tolong bantu Kenand! Jika saja ia memiliki kekuatan teleportasi sudah sejak tadi ia menggunakan kekuatannya itu.


Melihat tatapan tajam Florencia, Kenand bergidik ngeri. Ingin sekali ia pergi dari sana tapi kakinya malah tidak bisa di ajak kerja sama. Rasanya lemas sekali, jangan kan untuk berlari menggerakannya saja ia tidak bisa. Mendadak kakinya mati rasa.


"Kau jangan diam saja, Flo tidak suka di abaikan. Jangan membuatnya marah atau kau akan bernasib sama seperti dua orang tadi," kata Alexa menakut nakuti Kenand.


Alexa terkikik geli saat melihat raut ketakutan dari wajah tampan Kenand.


Sangat menggemas kan itu yang ada di dalam pikiran Alexa.


Bruk ..

__ADS_1


Tiba tiba saja Kenand berlutut di depan Florencia.


"Apa yang kau lakukan? Bangun!!" sentak Florencia.


Kenand meletak kan kedua tangannya di depan dada. "Flo maaf kan aku.. Tolong maaf kan aku, jangan membunuh ku Flo.. Maaf kan aku.." lirih Kenand jangan lupakan juga air matanya yang mengalir deras di sudut matanya. Persetan dengan harga diri Kenand tidak memperduli kan itu saat ini. Yang paling penting sekarang adalah kelangsungan hidupnya.


Florencia melihat ke arah Alexa lalu mengangkat sebelah alisnya seolah berkata 'Dia kenapa?'


Alexa memasang wajah polosnya seakan tidak tau apa apa padahal Kenand bersikap seperti itu karena ulahnya kemudian ia menggeleng kan kepalanya sebagai jawaban tetapi di dalam hati gadis itu ia merasa sangat senang dan sangat puas bisa menjahili pria penakut di hadapannya itu.


"Kau memang sangat payah," batin Alexa.


Florencia menyipit kan matanya kemudian senyum licik terbit dari bibir sexynya.


"Aku sangat marah pada mu Kenand!" kata Florencia tajam.


"Maaf kan aku Flo.. Maaf kan aku.. Kau boleh menghukum ku. Kau boleh meminta apa pun pada ku akan aku berikan. Aku akan melakukan apa pun yang kau minta tapi aku mohon pada mu jangan membunuh ku."


"Baiklah aku akan memaafkan mu tapi kau harus menuruti semua keinginan ku."


"Katakan saja Flo, aku akan turuti semua keinginan mu."


"Ikutlah dengan ku," Florencia menyeringai.


**


"Kenand ayo masuklah," titah Florencia.


Florencia saat ini sudah berada di dalam kandang hyena. Florencia tengah asik bermain seraya memberi makan dua hyena peliharaannya itu.


Nama dua hyena kesayangan Florencia itu adalah Rexy (jantan) dan Rexa (betina). Dua hyena itu adalah hadiah ulang tahun terakhir yang di berikan orang tua Florencia sebelum meninggal.


Kenand masih berdiri mematung di luar kandang hyena. Tangannya bergetar terlihat dengan sangat jelas dari sebuah nampan berisikan daging segar yang dibawanya yang ikut bergetar.


"Kenand cepatlah masuk atau Flo akan marah nanti," Alexa terus saja menakut nakuti Kenand dan mulai sekarang itu adalah hobby barunya.


"Jika aku masuk ke sana, aku akan selamat dari Flo tapi itu tidak menjamin aku juga akan selamat dari dua hyena itu."


Alexa menahan tawanya saat mendengar jawaban Kenand. Memang benar apa yang di katakan Kenand karena dua hyena itu akan bersikap tenang hanya pada Florencia saja dan akan bersikap agresif jika ada orang asing yang masuk ke dalam kandangnya.


"Pilihan mu hanya dua, kau mati di tangan Florencia atau kau mati di tangan ke dua hyena itu."


"AAA.. EMAK KENAND BELUM MAU MATI. KENAND BELUM KAWIN!!!"


Haa ... Haa ... Ha ...


Alexa tidak bisa menahan tawanya lagi begitu juga dengan Geovano dan Axel yang sedari tadi hanya diam menonton saja sedangkan Flo seakan tidak perduli dengan keadaan sekitarnya karena ia tengah asik bermain dengan dua hyena kesayangannya dan melupakan rencananya untuk menjahili Kenand.

__ADS_1


__ADS_2