
DOR
BUGH
DOR
BUGH
Suara tembakan dan baku hantam itu mengalun indah bak musik orkestra sejak lima belas menit lalu.
Florencia tersenyum menyeringai saat menatap semua musuh telah terkapar, semuanya tewas. Di tambah adanya genangan darah di mana mana yang membuat jiwa devilnya bertambah liar.
Florencia sangat menyukai bau darah.
Tapi Florencia merasa tidak puas dengan kemenangannya ini karena lagi dan lagi Jasper tidak muncul. 'Pengecut' kata itu yang Florencia sematkan untuk Jasper. Jasper selalu menyuruh anak buahnya untuk menyerang Florencia tapi ia sendiri tidak pernah muncul di hadapan Florencia. Jika bukan 'Pengecut' kata apa lagi yang pantas untuk menggambar kan seorang Jasper?
"Bakar semua mayatnya," titah Florencia.
"Baik Boss."
Florencia kembali masuk ke bangunan untuk memeriksa keadaan Alexa di susul Axel yang berjalan di belakangnya.
"Are you oke?" tanya Florencia.
Alexa berdecak kesal. "Nope. Flo, kau sudah tau?"
"Apa?"
"Kau mengerti maksud ku Flo."
"Apa kemampuannya sangat buruk?"
Florencia memang sudah mengetahui jika Geovano bisa menggunakan senjata tapi ia belum pernah melihat kemampuan menembak Geovano. Florencia tau tentang hobby Geovano itu dari Laura saat makan malam di kediaman Baldwin sebelum Geovano pergi ke New York waktu itu.
"Dia hampir saja membuat jantung ku copot," kesal Alexa.
"Ck! Bukannya berterimakasih kau malah menghina ku. Aku baru saja menyelamat kan nyawa mu," kata Geovano.
Florencia meringis sembari memegang perutnya dan Geovano melihat itu.
"Kau kenapa?" tanya Geovano menatap Florencia khawatir.
"Tidak apa apa," Florencia menahan rasa sakit di perutnya.
Grep..
Tanpa aba aba Geovano menggendong Florencia ala bridal style dan berlalu pergi menuju mobil.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" sarkas Florencia.
"Diamlah!"
**
Geovano membawa Florencia ke rumah sakit dan kini Florencia sudah berbaring di bed hospital dan Geovano duduk di kursi yang berada tepat di sampingnya.
Dokter baru saja mengobati luka tusuk Florencia yang jahitannya kembali terbuka.
"Istirahatlah," Geovano menarik selimut untuk menyelimuti badan Florencia.
__ADS_1
"Berhentilah mengkhawatir kan ku, aku bukan istri mu."
"Aku tau," kata Geovano lemah kemudian ia menggenggam erat sebelah tangan Florencia. "Aku tau kau bukan istri ku tapi aku mohon ijinkan aku untuk bisa mengkhawatir kan diri mu. Aku tidak peduli kau siapa? Tapi satu hal yang kamu harus tau," Geovano menatap dalam Florencia. "Aku sangat mencintai orang yang ada di hadapan ku saat ini."
Florencia tersentak mendengar ucapan Geovano kemudian ia balik menatap Geovano dengan tatapan rumit.
"Kau tidak mencintai ku tapi kau mencintai istri mu, Nara."
Geovano menggelengkan kepalanya kemudian ia menggenggam kedua tangan Florencia seraya menatap dalam kedua matanya.
Geovano mengarahkan satu tangan Florencia untuk menyentuh dadanya sebelah kiri.
"Kau merasakannya?" tanya Geovano.
Florencia menyipit kan matanya mengingat sesuatu. "Kau pernah menanyakan hal seperti ini pada ku sebelumnya."
Geovano terkekeh. "Kau mengingatnya?"
"Hmm.."
"Rupanya kau masih belum mengerti."
"Mengerti apa?" tanya Florencia polos. Kini Florencia terlihat seperti orang bodoh di hadapan Geovano.
"Berapa usia mu?"
Geovano penasaran dengan umur asli Florencia karena ia melihat adanya kepolosan di balik wajah datar yang selalu Florencia tunjukan.
"Dua puluh tahun."
Geovano terbahak mendengar jawaban Florencia. "Are you kidding me?"
"Jadi, kau seumuran dengan Laura?"
"Hmm.."
Geovano membulatkan matanya sempurna.
Cklek..
Alexa dan Axel masuk ke ruang inap Florencia.
"Flo, are you oke," tanya Alexa.
"Hmm.. Bagaimana dengan Putri dan anak anak lainnya?"
"Mereka semua sudah di bawa ke rumah sakit dan ada sebagian yang sudah di jemput orang tuanya," jelas Alexa.
"Polisi?"
"Kau tenang saja Flo, aku sudah mengurusnya. Polisi tidak akan curiga," jelas Axel.
Alexa melihat ke arah Geovano yang masih terlihat sangat syok setelah mengetahui usia asli Florencia. "Ada apa dengan mu?"
"Dia berusia dua puluh tahun?" tanya Geovano seraya menunjuk Florencia.
"Iya, kenapa?"
"Jadi usia ku dengannya terpaut sepuluh tahun?"
__ADS_1
Alexa terbahak dan tanpa Florencia sadari garis senyum tercetak di wajah cantiknya.
Geovano melihat itu. "Cantik.." gumamnya.
"Apa yang kau katakan?" tanya Florencia.
"Kau cantik saat tersenyum, aku menyukainya."
"Hey.. Om, berhentilah merayu seorang gadis. Apa kau tidak malu? Sadarlah berapa usia mu sekarang?"
Alexa semakin terbahak mendengar ucapan Florencia dan Axel yang sedari tadi diam pun kini ikut tertawa.
Sementara itu di sisi lain di tempat yang sama Yati di temani Laura sedang menunggu Putri siuman.
Perlahan Putri membuka matanya.
"Bi.. Lihatlah Putri sudah sadar," kata Laura.
Yati yang tengah duduk di sofa langsung menghampiri Putri. "Putri.." Yati menghela napasnya lega.
"Ibu.." lirih Putri.
"Iya nak, ini ibu.."
"Hiks.. Putri takut bu.. Putri takut.. Hiks.. Hiks.." tangisan Putri pecah.
Yati memeluk Putri erat. Hatinya sakit sekali melihat putri semata wayangnya itu dalam keadaan yang seperti ini.
Dokter tadi menjelaskan jika Putri mengalami trauma akibat kejadian buruk yang menimpanya.
"Ibu di sini nak, jangan takut."
Yati mencoba menahan air matanya untuk tidak keluar tapi apalah daya pertahanan Yati tuntuh, butiran bening itu keluar begitu saja mengalir deras di pipinya. Ibu mana yang tidak menangis ketika melihat anaknya menderita? Jika bisa penderitaan iti di limpahkan Yati dengan sangat ikhlas menggantikannya.
Laura menekan sebuah tombol di dekat bed hospital Putri dan tak lama Dokter dan seorang Suster datang. Dokter langsung memeriksa keadaan Putri setelah itu Putri di beri obat penenang dan tak lama Putri tertidur.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Yati.
"Luka fisiknya baik baik saja dalam itungan hari akan sembuh tapi trauma yang ia dapat kan cukup parah. Pasien harus berkonsultasi dengan psikiater," jelas Dokter.
"Saya sudah memberi pasien obat penenang, pasien akan tertidur untuk sementara waktu," sambungnya lagi dan berlalu pergi begitu juga dengan Suster.
Mendengar itu hati Yati seperi teriris, sangat sakit tapi ia harus kuat, ia harus bisa menjadi kekuatan untuk Putri dan selalu mendampinginya.
"Bibi yang kuat ya.. Putri pasti sembuh," kata Laura seraya memeluk Yati.
"Iya non, terimakasih."
"Bibi maaf, aku pergi sebentar tidak apa apa kan? Aku mau lihat keadaan kak Flo," ijin Laura.
Laura tidak tega meninggal kan Yati sendiri dalam keadaan seperti ini tapi ia juga khawatir dengan kakak iparnya karena tadi Geovano mengabarinya jika luka tusuk Florencia kembali terbuka dan Florencia di rawat di rumah dakit yang sama dengan Putri.
"Iya non tidak apa apa. Sampai kan ucapan terimakasih saya pada nyonya dan maaf saya tidak bisa menjenguk nyonya karena saya harus menemani Putri."
"Iya bi nanti Laura sampai kan. Laura pamit ya bi."
"Iya non."
Laura keluar dari ruang inap Putri kemudian ia melangkah kan kakinya menuju tuang inap Florencia.
__ADS_1