
Setelah menemu kan akta kematian itu Mario langsung mencari Dokter yang namanya tertera di sana.
Mario menemui Dokter itu dan saat Mario mengata kan jika dirinya adalah putra Jasper, Dokter itu langsung mencerita kan kebenarannya pada Mario.
Mario tidak mempercayai nya begitu saja. Akhirnya Mario melakukan tes DNA antara dirinya dengan Jasper. Dan hasilnya sangat mengejut kan Mario, tidak ada kecocokan di antara keduanya. Hasil tes itu mengata kan jika Mario bukan anak kandung Jasper.
Dengan emosi yang sudah meluap Mario mendatangi Jasper tapi saat akan masuk ke dalam ruang kerja Jasper, Mario malah mendengar rencana jahat Jasper yang di tujukan pada Geovano dan juga Florencia.
Mario tidak ingin melihat adik dan keluarganya terluka jadi Mario memutus kan untuk berpura pura ingin membantu Jasper dengan rencana jahat nya itu.
Awalnya Mario ingin langsung mengatakan pada Florencia jika dirinya adalah kakak kandung Florencia tapi Mario yakin jika ia melakukan itu Florencia pasti tidak akan mempercayainya.
Setelah mendapat kan hasil tes DNA, Mario langsung menemui Matteo untuk memberitahukan tentang kebenaran dirinya yang merupakan kakak kandung Florencia. Dengan bantuan Dokter dan juga hasil tes DNA yang mengatakan jika Mario bukan anak kandung Jasper, itu sudah cukup membuat Matteo bisa mempercayai ucapan Mario.
Grep
Tanpa aba aba Mario memeluk Florencia erat dan anehnya Florencia tidak menolak pelukan itu. Entah apa yang terjadi dengan dirinya? Florencia merasa sangat tenang dan nyaman.
"BRENGSEK!! APA YANG KAU LAKUKAN? LEPAS KAN ISTRI KU!!!" geram Geovano yang sangat tidak terima jika ada laki laki lain memeluk istri tercinta nya.
Saat akan melayang kan bogem mentahnya pada Mario, Axel menghenti kan gerakan tangan Geovano hingga pria itu menatap tajam Axel.
"JANGAN MENGHALANGI KU, BIAR KAN AKU MENGHAJAR LAKI LAKI BRENGSEK ITU!" dada Geovano naik turun menahan amarah.
"Jika kau menyakiti dia, Flo tidak akan memaafkan mu," peringat Axel.
"Apa maksud mu?" tanya Geovano bingung.
"Kau akan segera mengetahuinya."
Mario memeluk Florencia erat tapi ia pastikan itu tidak menyakiti Florencia. "Maafkan kakak Flo.. Maafkan kakak.." lirih Mario.
Deg
Ucapan Mario itu berhasil membuat darah Florencia berdesir hebat. Ada perasaan yang tidak bisa Florencia jelas kan saat mendengar itu. Bukan hanya Florencia, Geovano juga sangat terkejut. Hampir saja ia melakukan kesalahan yang sangat besar untung Axel menghentikannya jika tidak itu akan sangat merugikan bagi kelangsungan kisah cintanya bersama Florencia yang bahkan belum di mulai.
__ADS_1
"Kakak?" gumam Florencia.
Mario melerai pelukannya kemudian ia menatap Florencia dalam. Mario menangkup wajah Florencia dengan kedua tangannya. "Iya, aku kakak mu," satu tetes air mata Mario jatuh dari sudut matanya. Dan entah dorongan dari mana Florencia langsung menyeka air mata itu.
"Maafkan kakak Flo.. Kakak datang sangat terlambat. Kakak tidak bisa melindungi mu. Kakak meninggal kan mu sendirian. Maafkan kakak.." Mario kembali memeluk Florencia.
Florencia terdiam. Netranya melihat Matteo yang juga sedang menatapnya. Matteo mengangguk kan kepalanya seolah mengatakan pada Florencia jika yang ada di hadapannya itu memang kakak kandungnya. Mata Florencia membola. Apa itu benar? Itu pertanyaan yang ada di benak Florencia saat ini.
Florencia memang sudah mengetahui jika dirinya mempunyai seorang kakak laki laki tapi kakaknya itu sudah tiada sesaat setelah di lahir kan.
Dan sekarang tiba tiba saja ada yang mengatak kan jika ia adalah kakak kandungnya. Jika di tanya, apakah Florencia senang? Tentu saja jawabannya pasti iya tapi apakah semua ini benar? Florencia masih ragu karena yang mengata kan itu adalah putra dari Jasper orang yang sudah melenyap kan kedua orang tuanya. Jika saja itu orang lain mungkin Florencia akan langsung mempercayainya.
"Bawa dia, penjara kan dia di ruang bawah tanah," titah Matteo.
Dua bodyguard langsung saja membawa Jasper keluar dari ruangan itu untuk kemudian di bawa ke mansion Florencia.
"Flo, sebaiknya kita juga kembali ke mansion. Uncle akan jelas kan semuanya di sana," kata Matteo.
Florencia yang masih dalam dekapan Mario hanya mengangguk kan kepalanya saja sebagai jawaban.
**
Matteo baru saja selesai mencerita kan semua kebenarannya pada Florencia.
Florencia menatap Mario dengan tatapan rumit sedangkan Mario menatap adiknya itu dengan tatapan yang sangat lembut.
Mario mengelus lembut kepala Florencia. "Kakak tau ini sangat sulit untuk di percaya. Kakak mengerti, kakak tidak akan memaksa mu untuk menerima kakak sebagai kakak mu."
Setelah Mario mengata kan itu hal yang mengejut kan semua orang yang ada di sana pun terjadi..
Grep
Tanpa aba aba, Florencia langsung memeluk Mario erat dan terisak di dalam pelukan Mario.
Ini adalah untuk pertama kalinya Florencia kembali menangis setelah kematian kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kakak.." lirih Florencia.
"Iya sayang.. Ini kakak.."
"Kakak.." Florencia semakin mengerat kan pelukannya. Mario juga melakukan hal yang sama.
Kakak beradik itu menumpah kan semua rasa yang ada dalam hatinya. Senang, sedih semuanya menjadi satu. Semua orang yang melihatnya pun ikut larut dalam suasana.
**
"Axel, kau antar Geovano ke rumah sakit," titah Matteo.
"Iya pa."
"Tidak usah om," tolak Geovano sopan. "Saya baik baik saja." bohongnya.
Sebenarnya Geovano merasa tulang di badannya remuk semua. Perutnya juga terasa sangat sakit tapi Geovano menahan itu karena ia tidak ingin di rawat di rumah sakit. Geovano ingin di rawat oleh Florencia dan ia sudah punya rencana untuk itu.
"Baik baik aja gimana? Lihatlah wajah dan badan kak Vano, semuanya di penuhi luka dan lebam," kesal Laura. "Ayo.. Kita ke rumah sakit sekarang, tidak ada penolakan," sambungnya lagi.
"Laura sungguh, kakak tidak apa apa. Lagian ada kakak ipar mu yang akan mengobati luka kakak, kakak akan baik baik saja."
Geovano tersenyum menatap Florencia dan Florencia memutar bola matanya malas melihat itu. Pintar sekali dia batin Florencia.
"Flo, ambil kotak obat dan obati luka Geovano," titah Matteo.
"Iya uncle."
Florencia pergi dan kembali membawa kotak obat dan langsung saja mengobati luka Geovano dengan perasaan dongkol.
"Akh.." pekik Geovano saat Florencia dengan sengaja menekan kan kapasnya di luka Geovano.
Florencia menuli kan pendengarannya dan ia terus saja mengobati luka Geovano dengan caranya. Kasar.
"Aaaa.. Romantisnya.." gumam Laura dengan mata berbinar.
__ADS_1
Axel yang mendengar gumaman Laura itu mengkerut kan dahinya bingung. Romantis? Romantis dari mananya? Florencia terlihat sangat sengaja menekan luka Geovano hingga membuatnya kesakitan. Menurut Axel di lihat dari segi mana pun itu bukan adegan romantis tapi adegan penyiksaan. Gadis ini sangat aneh.