
Keesokkan harinya..
Florencia, Alexa dan Axel tengah berdiri sejajar dan di hadapan mereka ada seorang anak gadis, mungkin usianya sekitar enam belas tahun. Rambut hitam panjang di kepang dua menjadi ciri khas gadis itu.
"Siapa nama mu?" tanya Florencia dingin dan jangan lupakan tatapannya yang tajam itu.
Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Florencia, gadis itu terus saja menunduk seraya mencengkram rok panjangnya kuat.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Florencia yang masih terus menatap gadis di hadapannya itu.
"Mungkin dia takut pada mu, Flo," ledek Alexa dengan kekehan di akhir kalimatnya.
"Diam kau!" sentak Florencia menatap tajam Alexa.
HIKS
HIKS
Gadis itu ketakutan karena mendengar sentakan Florencia. Ia juga takut karena Florencia terus saja menatapnya dengan tatapan tajamnya itu.
"Ehh.. Kenapa kau menangis?" Alexa membawa gadis itu masuk ke dalam dekapannya kemudian menuntun gadis itu untuk duduk di sofa.
"Tenanglah, Kau aman di sini," Alexa tersenyum manis menatap gadis itu.
"Ibu," cicit gadis itu.
"Kau ingin bertemu dengan ibu mu?"
Gadis itu mengangguk kan kepalanya.
"Lihatlah dia," Alexa menunjuk Florencia. "Dia yang akan mengantar kan mu pada ibu mu. Kau jangan takut padanya."
Gadis itu melihat ke arah Florencia dengan takut. Tetapi ketakutannya itu hilang seketika kala ia melihat Florencia yang tersenyum ke arahnya, walau senyuman itu terlihat sangat kaku dan di paksakan. Gadis itu juga ikut tersenyum.
"Sekarang bisa katakan pada ku, siapa nama mu?" tanya Florencia lagi.
Gadis itu mengangguk kan kepalanya. "Putri."
Gadis itu adalah Putri, anak Yati. Kemarin ada dua orang yang datang ke rumahnya di kampung dan hampir saja dua orang itu menculik Putri tetapi untung saja ada bodyguard Florencia yang sigap membantunya. Bodyguard itu kemudian membawa Putri ke Jakarta.
**
Mansion Geovano..
Ibu dan anak yang sudah lama terpisah jauh itu kini tengah melepas rindu mereka. Yati memeluk putrinya itu sangat erat.
"Ibu.. Hiks.." isak Putri.
"Tenang nak, ibu ada di sini jangan takut."
"Nyonya terimakasih karena sudah menyelamatkan anak saya," kata Yati tulus.
"Aku sudah katakan bukan, aku akan menjaga anak mu. Kau tidak perlu berterimakasih, kalian sekarang tanggung jawab ku. Putri mu terlihat sangat lelah, antarkan dia untuk beristirahat, kau bisa gunakan kamar tamu."
"Tidak usah nyonya, Putri beristirahat di kamar saya saja. Saya permisi nyonya," Yati menundukkan sedikit kepalanya begitu juga dengan Putri.
__ADS_1
"Hmm.. Setelah itu kau temui aku di kamar."
"Baik nyonya."
Florencia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.
Yati mengajak Putri ke kamarnya. Putri membaringkan tubuh mungilnya itu di tempat tidur.
"Istirahat ya nak, ibu akan menemui nyonya Flo. Tak apa kan ibu tinggal?"
"Iya bu, tak apa."
"Tidurlah." Yati mengecup kening Putri kemudian membenarkan selimutnya dan berlalu pergi.
Kamar Florencia..
Florencia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Badan dan pikirannya lelah sekali. Masalah terus saja menghampirinya.
"JASPER.. THE DEVIL.. BASTIAN.. Akh sial! Siapa yang akan aku habisi terlebih dahulu?"
Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar Florencia.
"Nyonya."
"Masuklah."
Yati masuk ke kamar Florencia. Florencia bangun dari rebahannya kemudian mengambil posisi duduk.
"Tak apa nyonya, saya berdiri saja."
"Duduk."
Yati mendaratkan bokongnya di pinggiran tempat tidur tepat di hadapan Florencia.
"Apa yang terjadi saat saya pergi?" tanya Florencia.
"Kemarin tuan Bastian dan nyonya Mona datang menemui saya nyonya, mereka kembali meminta saya untuk mencelakai nyonya. Saya menolaknya dengan keras dan itu malah membuat mereka marah."
"Mereka mengirim photo Putri saat berada di sekolah dan mereka mengatakan akan menculik Putri jika saya menolak permintaan mereka."
"Setelah itu mereka pergi dan benar saja semalam tetangga saya mengabari jika Putri di bawa pergi oleh seseorang yang datang dengan mobil mewah. Saya sudah sangat takut akan terjadi sesuatu dengan putri, saya pikir putri sudah di culik oleh orang orang jahat itu tapi ternyata putri di bawa oleh orang orang suruhan nyonya. Saya sangat bersyukur nyonya, nyonya sangat baik," jelas Yati dengan isaknya.
"Sudah jangan menangis, anak mu sekarang aman dan mulai sekarang dia akan tinggal di sini."
"Tapi nyonya, sekolahnya Putri di sana?"
"Dia bisa kan pindah sekolah?"
"Iya bisa nyonya, tapi–"
"Saya yang akan tanggung biayanya," potong Florencia.
Florencia tahu apa yang akan di ucapkan Yati.
__ADS_1
"Terimakasih nyonya.. Terimakasih, saya tidak tahu harus membalas semua kebaikan nyonya dengan cara apa?"
"Jika saya meminta sesuatu pada mu, apa kau akan memberikannya?"
"Tentu saja nyonya, jika nyonya meminta nyawa saya sekali pun, saya akan memberikannya untuk nyonya."
Florencia terkekeh. "Tidak perlu seperti itu, saya hanya meminta untuk di buatkan sesuatu yang enak, saya sangat lapar."
"Saya akan membuatkannya nyonya."
Yati pamit untuk memulai acara masaknya sedangkan Florencia kembali membaringkan tubuhnya. Florencia menatap langit langit kamarnya.
'Hanya itu saja yang saya ketahui nyonya. Malam di saat nyonya terjatuh dari balkon, tuan Bastian dan nona Callista datang dan mereka terlihat sangat marah pada nyonya'
Florencia kembali mengingat ucapan Yati malam itu.
"Apa yang membuat Bastian dan Callista marah sama Nara? Apa yang Nara lakukan?"
"Apa Nara mengetahui perselingkuhan antara Bastian dan Callista? Mungkin saat itu Nara mencoba untuk memberitahu Geovano tetapi Bastian dan Callista mencoba untuk menghentikannya hingga terjadilah kecelakaan itu."
"Akh.." Florencia mengusap wajahnya kasar.
"Ini sangat membingungkan dan tidak ada petunjuk sama sekali. Bagaimana aku bisa memecahkan misteri ini? Siapa yang harus aku tanyakan?"
Florencia bermonolog sendiri.
'Ck!! Dasar bodoh!! Bagaimana bisa seorang malaikat maut bisa salah mencabut nyawa orang?'
'Aku pikir malaikat maut itu menyeramkan tapi apa ini? Aku sama sekali tidak merasa takut saat bertemu dengannya. Di mata ku dia terlihat sangat bodoh.' kata Florencia dalam hatinya.
'Aku bisa mendengar apa yang kau katakan dalam hati mu itu."'
'Hah? Kok bisa?'
'Kau lupa, aku seorang malaikat."
'Oh Iya, maaf kan aku. Aku tidak bermaksud untuk menghina mu.'
Florencia terkekeh saat ia mengingat kembali percakapan antara dirinya dengan Ruben sang malaikat seroboh yang sudah merubah kehidupannya.
"Kenapa aku malah mengingat malaikat ceroboh itu?"
"Yak.. Ruben, aku tahu kau bisa mendengar ku jadi dengarkan aku baik baik. Aku terjebak di dalam tubuh Nara karena diri mu jadi sekarang bantulah aku, beri aku petunjuk supaya aku bisa memecahkan misteri ini. Aku ingin membalas orang orang yang sudah berbuat jahat pada Nara. Bantulah aku sekali ini saja Ruben."
Florencia menutup matanya dan..
Laptop Nara..
Laptop Nara..
Laptop Nara..
"Aaaa..."
Pekik Florencia saat ia mendengar suara misterius yang entah datangnya dari mana.
__ADS_1