
Jakarta, Indonesia
"Papa, are you oke?" tanya Alexa dengan isaknya seraya memeluk Matteo.
"Papa baik baik aja, sayang," Matteo menepuk nepuk pelan punggung Alexa yang bergetar karena menangis.
Matteo melihat ke arah Florencia yang tengah menatapnya. Matteo menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia baik baik saja, Florencia yang mengerti itu menghela napasnya lega kemudian mengangguk.
Florencia sudah kehilangan dua orang yang sangat ia sayangi, ia tidak sanggup jika harus kehilangan lagi.
Entah apa yang akan terjadi pada Florencia jika terjadi sesuatu pada Matteo. Mungkin saja Florencia akan menjadi monster yang akan menghabisi siapa pun orang yang berani mengusiknya.
"Flo, uncle menyandera salah satu dari mereka, kau interogasilah dia."
Florencia menganggukkan kepalanya kemudian ia melangkahkan kakinya menuju penjara bawah tanah tetapi langkahnya itu terhenti karena ada yang mencekal tangannya.
Florencia membalik kan badannya dan ternyata Axel yang mencekal tangannya kemudian ia mengangkat satu alisnya. "Apa?."
"Kau diam saja di sini, obati luka mu. Aku yang akan menginterogasinya."
"Hmm.. Pergilah."
Axel pergi ke penjara bawah tanah sedangkan Florencia kembali duduk di sofa single tepat di depan Matteo dan Alexa.
"Kau terluka?" panik Matteo.
"Hanya sedikit tergores uncle, it's oke."
"Al, panggil dokter." titah Matteo.
"Tidak usah uncle, aku akan mengobatinya sendiri nanti."
"Jangan nanti! Sekarang!"
"Iya uncle. Uncle pergilah ke kamar, ini sudah malam, uncle harus istirahat."
"Iya, kalian juga jika sudah selesai langsung istirahat."
"Siap boss." kata Alexa.
**
Axel menuruni anak tangga yang akan membawanya ke penjara bawah tanah.
Axel melihat sandera yang sudah tak berdaya. Tangan dan kakinya terikat dengan kursi. Wajahnya babak belur dan dari ujung bibirnya sudah mengeluarkan darah yang mengering.
Axel berdiri di hadapan sandera itu.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Axel dingin.
Orang itu tidak menjawab dia hanya diam menatap sinis Axel. Axel yang tadinya tenang pun mulai marah.
BUGH
Axel memberikan bogem mentahnya pada sandera itu.
"Cepat katakan! Siapa yang menyuruh mu? jika tidak aku akan menghabisi mu saat ini juga," ancam Axel marah.
Orang itu masih tidak menjawab dia malah tersenyum sinis menandakan dia sama sekali tidak takut dengan ancaman Axel. Melihat itu Axel semakin murka.
__ADS_1
BUGH
Kali ini Axel menendang orang itu hingga jatuh tersungkur dengan kursinya. "Masih tidak mau memberitahu ku?"
"Apa gunanya aku memberitahu mu. kau akan tetap menghabisi ku kan?"
"HAA .. HAA .. HAA .. Tentu saja, itu pasti," Axel menyeringai.
"Kalau begitu kau tidak akan mendapat kan jawabannya."
"Jangan menguji kesabaran ku," desis Axel tajam.
"Kau tidak tahu siapa aku. Cepat lepaskan aku. Maka boss ku akan mengampuni mu."
Rahang Axel mengeras kala mendengar ucapan sandera itu. Kemudian Axel menendang dan memukul sandera itu secara membabi buta.
UHUK .. UHUK ..
Keluar darah dari mulut sandera itu.
"Kau akan menyesal. Dengarkan ucapan ku. Aku adalah kelompok Mafia THE DEVIL," teriaknya sembari menahan rasa sakit.
Mendengar ucapan sandera itu Axel mengepalkan tangannya. "The Devil."
Axel menyeringai kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku belakang jeansnya kemudian..
DOR
DOR
DOR
Axel melesakkan tiga peluru tepat di jantung sandera itu hingga membuatnya tewas seketika.
**
"Flo angkatlah teleponnya," titah Alexa kesal.
"Biarkan saja," Florencia baru saja selesai mengobati lukanya.
Ponsel Florencia sejak tadi terus saja berdering. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Geovano. Tetapi Florencia terlalu malas untuk mengangkatnya karena itu tidak penting. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus Florencia lakukan yaitu mencaritahu siapa orang yang sudah membangkit kan kembali The Devil.
"Kau tidak akan pulang?"
"Ini mansion ku."
"Ck! Maksud ku pulang ke mansion Geovano."
"Nanti saja."
"Flo, dia terus menelepon mu setidaknya kau angkat dulu, itu sangat mengganggu ku."
Dengan sangat terpaksa akhirnya Florencia mengangkat panggilan telepon dari Geovano.
"Hmm.."
" ... "
Florencia menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Entah apa yang di katakan Geovano di sebrang sana?
__ADS_1
"Diamlah! Aku baik baik saja. Kau tidak perlu mencari ku. Setelah pekerjaan ku selesai, aku akan pulang."
Florencia mengakhiri panggilan teleponnya sepihak.
"Apa yang dia katakan?" tanya Alexa penasaran.
"Sudahlah tidak penting."
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Axel yang baru saja datang. Axel duduk di samping Alexa.
"Itu tadi-"
"Siapa pelakunya?" tanya Florencia yang memotong ucapan Alexa hingga membuat wanita itu mendengus kesal.
"The Devil," jawab Axel.
Florencia memijat pelipisnya yang tiba tiba saja berdenyut.
"Are you oke?" tanya Axel.
"Ya."
"Flo, wajah mu pucat." Alexa memegang dahi Florencia dan merasakan suhu tubuh Florencia tinggi. "Oh god.. Flo, kau demam. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Ck! Kau ini terlalu berlebihan. Axel lanjutkan."
"Nanti saja, sekarang pergilah ke kamar mu, kau harus istirahat," titah Axel yang tidak ingin di bantah.
"Itu tidak penting Axel! Sekarang kita harus segera bertindak! Kita hampir saja kehilangan uncle," sentak Florencia dengan napas yang memburu menahan amarah.
"Pencurian senjata, penyerangan mansion, itu semua di lakukan oleh orang yang sama. Mereka sedang mempermainkan kita dan dengan bodohnya kita masuk ke dalam permainan itu. Ini sudah keterlaluan Axel!" sambungnya lagi.
"Aku tahu Flo, orang orang kita juga sudah mulai bergerak, kita akan segera menemukan orang itu. Sekarang kau istirahat. Al, antar Flo ke kamarnya."
"Ayo Flo." Alexa mengantar Florencia untuk istirahat di kamar.
Ponsel Axel tiba tiba berdering kemudian ia langsung menekan ikon hijau dan tak lama terdengar suara dari sebrang sana.
" ... "
"Geovano?"
" ... "
"Di mansion."
" ... "
"Benar kata Flo, dia memang sangat menyebalkan. Seenaknya saja dia membentak ku. Jika saja kejadian konyol itu tidak terjadi, Flo tidak akan mungkin bertransmigrasi ke tubuh orang lain dan harus terjebak dengan laki laki arogan itu. Biarkan saja, aku tidak akan memberitahu dia alamat mansion ini, tunggu sana sampai kiamat," kesal Axel karena Geovano mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
"Dari mana dia mendapatkan nomor ponsel ku?" tanyanya kemudian. "Akh sudahlah.. Aku tidak perduli."
Axel pergi ke kamarnya untuk beristirahat karena jam juga sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Baru saja Axel akan menutup matanya, ponselnya berdering. Axel mendengus saat ia melihat siapa yang menelponnya.
"Mau apa lagi sih dia? Akh.. Biarkan saja."
Axel mencoba untuk menutup matanya tapi tidak bisa karena ponselnya terus saja berdering.
__ADS_1
"Sekali lagi kau menelpon ku, kau tidak akan melihat matahari esok pagi," ancam Axel yang entah untuk siapa. Geovano yang ada di seberang sana juga tidak akan mungkin bisa mendengarnya. Konyol sekali.
Dan karena Geovano tidak mendengar ancaman Axel itu, Geovano kembali menelpon Axel dan itu membuat Axel naik darah kemudian ia langsung membanting ponselnya ke dinding hingga hancur.