
Kamar Laura..
"Haahh ... "
Sudah ke sekian kalinya Florencia menghela napasnya dalam mendengar tangisan Laura yang entah kapan akan berhenti.
"Laura berhentilah menangis, air mata mu akan habis nanti," kata Florencia.
"Ish kak Flo.." rengek Laura.
"Tenanglah semuanya akan baik baik saja, aku yang akan mengurus semuanya, kau tidak usah khawatir."
"Aku takut, bagaimana jika nanti.."
"Tidak akan terjadi apa apa, percayalah pada ku," potong Florencia.
Laura mengangguk kan kepalanya.
"Lebih baik kita tidur sekarang," kata Florencia.
"Iya, selamat malam kak Flo."
"Hmm.."
Perlahan Florencia dan Laura menutup matanya dan tak lama mereka masuk ke alam mimpinya masing masing.
**
Keesokkan harinya..
Florencia ada di mansionnya sekaligus markas Valuenz. Florencia, Alexa dan Axel tengah merencana kan sesuatu.
"Flo, apa kau yakin?" tanya Axel.
"Hmm.. Malam ini aku akan bertemu dengannya di club," Florencia melihat ke arah Alexa. "Al, kapan barangnya sampai?" tanyanya kemudian.
"Malam ini Flo," jawab Alexa.
Malam harinya..
Florencia sudah berada di salah satu ruang privat di salah satu club malam. Di hadapan Florencia ada seorang pria yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam di lengkapi dengan topi dan masker dengan warna senada.
"Florencia.." kata orang yang ada di hadapan Florencia itu.
"To the point," kata Florencia datar.
Orang itu terkekeh. "Baiklah, besok malam di restoran xxx."
"Hmm.."
Florencia pergi dari tempat itu begitu saja.
"Kau memang wanita yang sangat licik," orang itu menatap kepergian Florencia dengan tatapan rumit.
Florencia kembali ke mansionnya. Dan di sana sudah ada Geovano.
Setelah pulang dari kantor tadi Geovano tidak menemukan Florencia di mansionnya kemudian ia pergi ke mansion Florencia. Sesampainya di sana Florencia juga ternyata tidak ada di sana dan Alexa mengatakan jika Florencia pergi untuk menemui seseorang.
__ADS_1
"Dari mana kau?" tanya Geovano.
"Club," jawab Florencia seraya menduduk kan bokongnya di sofa sebelah Geovano.
Geovano mengendus Florencia. "Kau minum?" tanyanya kemudian.
"Sedikit."
"Kau bertemu dengan siapa?"
Florencia menatap Geovano jengah. "Bukan urusan mu."
"Aku suami mu kalau kau lupa."
"Aku bukan Nara, istri mu kalau kau lupa."
Geovano mendengus. "Kita pulang sekarang."
"Kau pulanglah, aku akan tidur di sini."
"Tidak bisa, kemarin malam kau menginap di mansion papa sekarang kau harus ikut pulang bersama ku," tegas Geovano.
"Pulanglah Flo, kita yang akan mengurus sisanya," kata Axel.
"Barangnya sudah sampai?" tanya Florencia melihat ke arah Alexa.
"Iya, kau pulanglah," jawab Alexa.
"Ayo kita pulang," ajak Geovano seraya menggenggam tangan Florencia.
"Apa yang kau lakukan? Lepas!" sarkas Florencia.
Alexa dan Axel terkekeh melihat itu.
"Geovano sangat mencintai Florencia," kata Alexa.
"Iya, semoga saja dia bisa meluluh kan hati Florencia dan bisa membahagiakannya," kata Axel.
"Axel, apa menurut mu Florencia juga mencintai Geovano?" tanya Alexa.
"Entahlah, kau tau sendiri Florencia sangat pintar menyembunyikan perasaannya."
"Aku harap balas dendam ini segera berakhir dan Flo bisa mengikhlaskan kematian orang tuanya. Aku ingin melihat Flo kembali bahagia dalam hidupnya. Aku merindukan senyumnya, kapan coba terakhir kita melihat Flo tersenyum bahagia?"
"Sehari sebelum kematian orang tuanya."
"Iya, saat itu kita bermain di taman sambil memakan ice cream. Aku dan Flo menjahili mu sampai kau menangis dan kau mengadu pada papa."
Alexa terkekeh mengingat kejadian itu. Saat itu Axel menangis karena Florencia dan Alexa dengan sengaja mendorong Axel hingga terjatuh begitu juga ice cream yang ada di tangannya juga ikut terjatuh. Axel sangat marah dan langsung berlari pulang ke mansion dengan air mata yang bercucuran. Setelah sampai Axel langsung mengadu pada Matteo.
"Dasar cengeng," ejek Alexa menahan tawanya.
"Kau mengejek ku?" Axel menatap Alexa tajam.
"Itu kenyataan Axel. Haa.. Haa.." Alexa tidak bisa menahan tawanya lagi kemudian ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya untuk menghindari amukan Axel.
"Alexa!!!"
__ADS_1
Dada Axel naik turun menahan amarah. "Untung saudara jika bukan sudah ku tembak mati kau Alexa."
**
Kamar Florencia..
"Sedang apa kau di kamar ku?" tanya Florencia.
Florencia baru saja selesai mandi dan saat ia keluar dari kamar mandi, Florencia melihat Geovano yang sudah duduk seraya bersandar di kepala tempat tidur dengan santainya.
Geovano tidak menjawab pertanyaan dari Florencia ia malah meminta Florencia duduk di sebelahnya dengan menepuk bagian tempat tidur yang kosong di sebelahnya.
Tak ingin berdebat Florencia menurut dan langsung duduk di sebelah Geovano.
"Bagaimana dengan Laura? Apa dia masih marah?" tanya Geovano.
"Hmm.."
"Kamu itu kalau di tanya jawabnya yang benar, jangan cuma hmm doang."
Florencia mendengus. "Iya Laura masih marah tapi kau tenang saja aku sudah memberi dia pengertian."
Geovano tersenyum. "Terimakasih."
"Iya."
Geovano menetap Florencia lekat.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Florencia yang risih dengan tatapan Geovano.
Geovano dan Florencia saling tatap.
"Cantik," puji Geovano seraya tersenyum.
Florencia memaling kan wajahnya. "Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, pergilah."
"Apa benar ciuman kita saat di club waktu itu adalah ciuman pertama mu?"
Pertanyaan yang di lontar kan Geovano itu berhasil membuat jantung Florencia berdetak tak karuan. Florencia kira Geovano sudah melupakan perkataan Alexa karena masalah Laura tapi Florencia salah. Sekarang apa yang harus ia katakan?
"Pergilah!!" usir Florencia dan langsung masuk ke dalam selimut untuk menutupi wajahnya yang terasa sangat panas dan sudah bisa di pasti kan wajahnya kini memerah seperti kepiting rebus. Florencia tidur dengan posisi membelakangi Geovano.
Bukan Geovano namanya jika ia menuruti perkataan Florencia. Bukannya pergi Geovano malah ikut masuk ke dalam selimut kemudian memeluk Florencia dari belakang.
Di perlakukan seperti itu badan Florencia menegang dan itu bisa Geovano rasakan.
"Tenang saja aku tidak akan macam macam, aku hanya ingin memeluk mu saja," bisik Geovano tepat di telinga Florencia.
Darah Florencia berdesir kala kulitnya merasa kan hembusan napas Geovano. Jantungnya berdetak semakin tak karuan. Florencia berusaha untuk melepas kan dirinya tapi entah kenapa rasanya tenaga Florencia menghilang begitu saja.
"Jangan banyak gerak nanti dia bangun, tidurlah."
Cup
Geovano mengecup pucuk kepala Florencia.
Kecupan Geovano itu mengalir kan aliran seperti aliran listrik pada tubuh Florencia yang semakin menegang. Florencia merutuki dirinya sendiri, kenapa ia hanya diam saja di perlakukan seperti itu oleh Geovano?
__ADS_1
Pikirannya menolak tapi tubuhnya bereaksi lain. Nyaman itu yang Florencia rasakan saat Geovano memeluknya. Dan setelah itu Florencia tidak mengingat apa pun lagi karena entah sejak kapan ia mulai tertidur dengan damai dalam pelukan Geovano.