
Saat tengah malam Florencia mendatangi kamar Yati yang hampir saja tertidur. Florencia meminta Yati untuk menceritakan semua yang ia ketahui kemudian Yati mulai bercerita.
"Hanya itu saja yang saya ketahui nyonya. Malam di saat nyonya terjatuh dari balkon, tuan Bastian dan nona Callista datang dan mereka terlihat sangat marah pada nyonya," jelas Yati.
"Hmm.. Baiklah."
Ponsel Florencia tiba tiba berdering kemudian ia langsung menekan ikon hijau dan tak lama terdengar suara dari sebrang sana.
" ... "
"Apa?"
" ... "
"Aku akan segera ke sana."
Florencia menutup panggilan teleponnya sepihak dan berlalu pergi meninggalkan Yati yang penasaran. Ingin sekali Yati bertanya 'Ada apa nyonya? Nyonya akan pergi ke mana malam malam begini?' tapi tidak bisa.
**
Mansion Florencia..
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Florencia marah.
"Ada yang ingin bermain dengan kita Flo, kita harus pergi ke markas kita di Roma," kata Axel.
"Kita pergi sekarang."
"Ayo Flo, uncle juga ikut," kata Matteo.
"Tidak, uncle di sini saja," cegah Florencia.
"Tapi Flo,"
"Flo benar pa, papa di sini saja. Kesehatan papa tidak memungkinkan untuk papa pergi," kata Alexa.
"Baiklah. Axel, jaga Flo dan Alexa. Kalian harus berhati hati, jangan sampai terluka."
"Of course pa," kata Axel.
Malam itu juga Florencia, Alexa dan Axel juga beberapa anggota Valuenz lainnya pergi ke Italia dengan privat jet milik Florencia.
Anggota Valuenz yang berada di Italia mengabari jika mobil box yang berisikan senjata penyelundupan beserta amunisinya di curi oleh kelompok mafia lain yang memang merupakan musuh bubuyutan Florencia di dunia underground.
Satu tahun lalu tepat sebelum pergi ke Indonesia Florencia berhasil mengalah kan kelompok mafia yang bernama 'The Devil' bahkan Florencia berhasil menghabisi ketuanya.
__ADS_1
Tetapi entah apa yang terjadi, sekarang kelompok mafia itu kembali dan dengan sengaja membangunkan sang 'Dewi kematian' yang tengah tertidur.
**
Roma, Italia
Belasan jam perjalanan udara dan kini Florencia bersama Valuenz telah sampai di Italia. Privat jet yang di tumpang Florencia mendarat mulus di landasan pribadi milik Florencia yang berada di bagian belakang halaman mansionnya.
Florencia, Alexa dan Axel turun dari privat jet itu dengan di sambut oleh ratusan anggota Valuenz yang menunduk hormat pada mereka.
Florencia berjalan di barisan paling depan sedangkan Alexa dan Axel berjalan di belakang samping kanan dan kirinya. Mereka berjalan bak seorang model yang tengah fashion show. Wajah dan body mereka tak kalah saing dengan para model paris fashion week. Coba ingat kan lagi jika mereka itu adalah mafia bukan model.
Florencia memasuki mansion megah bergaya eropa itu lalu ia duduk di sofa single dengan sorot mata yang sangat tajam menatap seorang anggota Valuenz yang berdiri tepat di hadapannya.
Oh ya.. Semua anggota Valuenz telah mengetahui jika wajah sang ketua Valuenz telah berubah. Sebelumnya Axel sudah memberitahu mereka dan mengatakan jika Florencia melakukan operasi plastik di bagian wajahnya. Ck! Konyol memang.. Tapi hanya itu alasan yang terlintas di benak Axel. Tidak mungkinkan Axel memberitahu hal yang sebenarnya, jika Florencia bertransmigrasi ke tubuh orang lain. Bukannya percaya bisa bisa mereka malah akan menganggap Axel gila.
"Jelaskan!" seru Florencia dingin tapi percayalah satu kata itu berhasil membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
"The Devil. Mereka telah kembali dan sepertinya mereka memiliki tuan yang baru, mereka jauh lebih kuat sekarang," jelas salah satu anggota Valuenz yang bernama Zack salah satu orang kepercayaan Florencia selain Alexa dan Axel.
"Di mana markas mereka?"
"Markas mereka berada di sebuah pulau terpencil yang ada di Milan boss."
Zack memberikan iPad pada Florencia yang menunjukkan titik merah yang menandakan lokasi di mana markas The Devil berada. Titik merah itu berasal dari anggota Valuenz yang di sandera.
"Siapkan pasukan, kita bergerak sekarang."
"Baik boss."
**
Duar..
Suara yang memekakan telinga terdengar dari granat yang baru saja Florencia lempar dari atas helikopter tepat di depan markas The Devil.
Lima helikopter mendarat sedangkan tiga helikopter lainnya melepaskan hujanan peluru pada anggota The Devil yang mencoba untuk menghentikan Valuenz.
Axel menekan sebuah alat di telinganya yang menghubungkan antara dirinya dengan Florencia. Semua anggota Valuenz juga saling terhubung dengan alat itu.
"Flo bersenang senanglah." kata Axel dengan smirknya yang berada di dalam helikopter seraya menembaki musuh dengab senapan MG-42. Karena siang hari, dengan sangat mudahnya Axel bisa membidik semua musuh yang ada di bawah.
"Hmm.."
Brak..
__ADS_1
Bukan Florencia yang mendobrak pintu melainkan anak buahnya.
Florencia berjalan memasuki markas The Devil tanpa takut ada peluru yang menembus jantungnya.
Florencia mengeluarkan pistol deagle dari saku jaket kulitnya kemudian dengan santainya ia menembaki musuh yang menghalangi jalannya.
"Flo bersenang senanglah, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dengan cepat," kata Alexa.
Alexa dengan santainya duduk di sebuah kursi kayu panjang kemudian mengeluarkan laptopnya dan mulai melakukan pekerjaannya. Ada dua anggota Valuenz yang menjaga Alexa.
Jika ada yang bertanya apakah Alexa itu jago bela diri atau ahli dalam menggunakan senjata tentu saja jawabannya adalah tidak. Lantas pekerjaan apa yang Alexa maksud?
Alexa memang tidak jago bela diri dia juga tidak ahli dalam menggunakan senjata tetapi Alexa ahli dalam hal merakit sebuah bom dan kini Alexa tengah mengerjakan pekerjaannya itu, men-setting bom untuk kemudian akan ia ledakan saat semua anggota Valuenz meninggalkan pulau itu.
Florencia menatap Alexa, ia mengingat ucapan Axel tadi. "Kalian memang kembar." gumamnya.
Dor..
Florencia menembak musuh yang ada di sebelah kanannya tanpa melihat. Florencia bisa merasakan keberadaannya.
"Perfect," puji Alexa yang melihat aksi Florencia.
Florencia mengeluarkan smirknya.
"Boss, pemimpin mereka tidak ada di sini," lapor Zack yang sudah menyisir seluruh area markas itu.
"Bagaimana dengan sandera dan senapan yang di curi?"
"Sandera tewas sedangkan senapan yang mereka curi ada di ruang bawah tanah."
"Bereskan."
"Baik boss."
Zack di bantu beberapa orang lainnya membawa 17 box berisi senapan dari ruang bawah tanah untuk kemudian di angkut menggunakan kapal yang sudah di siapkan.
Florencia tersenyum menyeringai saat menatap semua musuh telah terkapar di lantai, tidak banyak mungkin hanya sekitar lima puluh orang lebih. Di tambah adanya genangan darah di mana mana yang membuat jiwa devilnya bertambah liar.
Florencia sangat menyukai bau darah.
Sementara itu tanpa Florencia sadari ada satu orang musuh yang ternyata masih hidup. Orang itu berusaha untuk meraih pistol yang tergeletak tidak jauh darinya. Saat pistol itu ia dapatkan tanpa aba aba di arahkannya pistol itu tepat ke arah Florencia yang berdiri membelakanginya.
Dor
Akh
__ADS_1
Flo