
Florencia, Geovano, Axel, Alexa dan Valuenz sudah berada di depan sebuah bangunan tua yang ada di hutan pinggiran kota.
"Valuenz!!!" teriak Florencia.
"Valuenz here." teriak anggota Valuenz lainnya serempak.
"Selesaikan.. Kita fokuskan menyelamat kan sandera terlebih dahulu dan ingat jangan gunakan senjata kalian sandera masih anak anak."
Para anggota Valuenz yang jumlahnya sekitar lima puluh orang itu pun masuk ke dalam bangunan tua di susul Florencia, Alexa dan Axel.
Geovano mengernyit kan dahinya. "Valuenz?" Geovano ikut menyusul mereka.
BUGH
BUGH
BUGH
Baku hantam tak bisa di hindari lagi saat Valuenz sudah masuk ke dalam bangunan itu. Hanya dalam itungan menit saja Valuenz bisa mengalah kan para sindikat yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang itu. Sedangkan Florencia, Alexa, Alex dan Geovano hanya jadi penonton saja.
"Axel ikut aku," titah Florencia lalu melangkah kan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua bangunan tua itu sedangkan Axel tanpa menjawab ia langsung saja mengikuti Florencia.
"Kau mau ke mana?" tanya Geovano berteriak karena Florencia sudah pergi.
"Sudahlah kita tunggu saja di sini, anggap saja kau sedang menonton film action," cegah Alexa saat Geovano akan menyusul Florencia.
Sementara itu Florencia dan Axel sudah berada di depan salah satu pintu ruangan yang tergembok.
DOR
Tanpa aba aba Axel langsung menembak gembok itu.
"Axel apa yang kau lakukan? Sudah aku katakan tadi jangan menggunakan senjata!" peringatan Florencia.
"Iya maaf Flo, hanya ini cara tercepat untuk bisa membuka gembok ini."
Florencia membuka pintu besi itu dan saat pintu itu terbuka Florencia dan Axel langsung di suguhi puluhan anak kecil yang tengah menangis ketakutan.
__ADS_1
Florencia mengedar kan pandangannya mencari Putri tapi ia tidak bisa menemukannya. "Axel, Putri tidak ada di sini."
Florencia mendekat ke salah satu anak perempuan yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Florencia berjongkok untuk mensejajar kan dirinya dengan anak itu.
"Pergi! Jangan bawa Anna, Anna takut.. Hiks.. Hiks.. Bunda Anna takut."
Ya, anak perempuan yang di dekati Florencia itu adalah Anna. Anak kecil yang coba Putri selamat kan tetapi malah berujung ia juga ikut di culik. Florencia mengenali anak itu karena itu ia mendekati anak itu untuk menanyakan di mana keberadaan Putri.
Florencia menepuk nepuk pelan bahu Anna. "Tenanglah.. Jangan takut, saya tidak akan melukai mu."
Axel memutar bola matanya malas melihat cara Florencia menenangkan anak kecil itu. Ck! Kaku sekali! Apa itu cara untuk menenangkan anak kecil? Dan tentu saja jawabannya adalah tidak.
"Saya ingin bertanya pada mu. Di mana anak yang di culik bersama mu? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Florencia.
Axel menggeleng geleng kan kepalanya pelan. "Flo, kau bertanya pada anak kecil seperti kau bertanya pada musuh mu saja. Tidak ada lembut lembutnya."
Florencia menatap tajam Axel.
"Flo, jangan menatap ku seperti itu. Lihatlah, mereka takut pada mu."
"Maksud tante, kak Putri," cicit Anna yang sudah mulai tenang. Untung saja Anna anak yang pintar, ia mengerti pertanyaan yang di lontar kan Florencia padanya.
"Tadi kak Putri di bawa keluar sama om jahat, tante."
"Sial.. Axel kau bawa anak anak ini ke luar, bawa mereka ke rumah sakit. Aku akan mencari Putri," Florencia mengepal kan tangannya menahan amarah.
"Berhati hatilah."
"Hmm.."
Florencia keluar dari ruangan itu kemudian ia memeriksa ruangan ruangan yang ada di sana satu per satu. Florencia tidak sendiri ada dua anggota Valuenz yang ikut dengannya.
Saat tiba di salah satu ruangan terdengar suara teriakan minta tolong dari dalam sana. Tanpa basa basi dua anggota Valuenz langsung mendobrak pintu kayu itu.
Florencia masuk ke dalam ruangan itu dan ia langsung membulat kan matanya sempurna kala ia melihat di atas ranjang ada Putri yang setengah telanjang dan di atas tubuhnya ada seorang pria paruh baya yang tengah mencumbu bagian atas tubuhnya. Sepertinya pria itu adalah pimpinan sindikat penjualan organ dalam manusia.
Sesaat kemudian Florencia menghela napasnya lega karena ia datang sebelum hal yang lebih buruk terjadi pada Putri. Pria Brengsek itu belum merenggut kesucian Putri terlihat dari pakaian bawah Putri yang masih berada di tempatnya. Pria itu juga masih mengenakan pakaiannya lengkap.
__ADS_1
Jika Florencia datang terlambat sedikit saja sudah bisa di pastikan Putri akan kehilangan kesuciannya. Entah apa yang terjadi dengan pria itu? Sepertinya hawa nafsu sudah menguasai dirinya. Ia tidak memperdulikan keributan di luar sana dan malah sibuk memuaskan hasratnya.
BUGH
Florencia menendang tubuh pria itu hingga terjungkal.
"Nyonya Flo," lirih Putri sebelum kesadarannya menghilang.
"Putri!!" Florencia menghampiri Putri.
Di tubuh dan wajah Putri terdapat banyak luka dan lebam yang ia dapat kan karena pemberonta kan yang ia lakukan.
"Bawa Putri ke rumah sakit," titah Florencia.
"Baik boss," kedua anggota Valuenz itu membawa Putri ke luar ruangan itu untuk kemudian di bawanya ke rumah sakit.
Kini hanya tinggal Florencia dan pria brengsek itu di ruangan. Pria itu menatap lapar Florencia. Florencia menyeringai kemudian ia duduk di tepi ranjang dan setelah itu hanya ia, tuhan dan pria itu yang tahu apa yang terjadi di sana selanjutnya.
Sementara itu Axel sudah memberi perintah pada Valuenz untuk membawa semua anak anak itu kerumah sakit begitu juga dengan Putri. Para sindikat itu pun sudah tak berdaya, ada yang pingsan bahkan ada juga yang tewas.
Axel menghampiri Alexa dan Geovano yang tengah duduk di bangku besi panjang. Axel duduk di sebelah Alexa.
"Bagaimana para korban?" tanya Alexa.
"Mereka semua sudah di bawa ke rumah sakit," jelas Axel.
"Dimana istri saya?" tanya Geovano menatap tajam Axel.
Bukannya menjawab pertanyaan Geovano, Axel malah terkekeh dan hanya Alexa yang mengerti arti di balik kekehan Axel itu.
"Tenanglah.. Flo baik baik saja, dia akan segera kembali," kata Alexa.
Geovano bangkit dari duduknya. "Bagaimana saya bisa tenang di saat istri saya dalam bahaya? Cukup! Kesabaran saya sudah habis, sejak tadi kau menahan saya di sini. Sekarang saya akan menyusul istri saya."
Memang, sejak tadi Alexa melarang Geovano untuk menyusul Florencia. Alexa mengatakan pada Geovano jika ia menyusul Florencia, Florencia akan marah karena itu Geovano hanya bisa menunggu Florencia. Ia tidak ingin jika istrinya itu marah padanya.
Geovano melangkah kan kakinya menaiki tangga namun, baru saja kaki Geovano memijak anak tangga ke dua ia di kagetkan dengan adanya seorang pria yang terjatuh berguling guling di tangga. Untung saja Geovano sempat menghindar jika tidak ia akan tertabrak pria yang terjatuh itu.
__ADS_1
Wajah Geovano seketika menegang kala ia melihat kondisi pria yang terjatuh itu. Pria itu tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya dan yang lebih parahnya lagi juniornya sudah tidak ada di tempatnya lagi dan banyak darah yang keluar dari sana. Sangat mengenaskan tapi pria itu masih bernapas.
"Oh god.. Flo, apa yang kau lakukan?" tanya Alexa sembari menggeleng gelengkan kepalanya.