
Florencia menyeringai saat ia melihat Geovano yang sudah tertidur pulas di kamarnya.
"Nyonya bagaimana jika ketahuan?" tanya Yati khawatir.
"Tidak akan jika kau tidak memberitahunya. Dia akan tidur selama delapan jam, sebelum dia bangun saya pastikan saya sudah kembali."
"Nonya maaf jika saya lancang, tapi ini sudah malam nyonya akan pergi ke mana?"
"Ada pekerjaan yang harus saya kerjakan, kau tidurlah jangan menunggu saya pulang."
"Iya nyonya."
Saat makan malam tadi Florencia menyuruh Yati untuk mencampur kan obat tidur di minuman Geovano. Florencia terpaksa melakukan itu karena Geovano selalu saja mengawasinya.
**
Mansion Florencia..
"Flo kita sudah mendapat kan info tentang The Devil," kata Axel.
"Katakan."
"Kau ingat siapa nama ketua The Devil terdahulu yang sudah kau lenyap kan?"
"Jerry."
"Lebih tepatnya Jerry Costa, dia adik dari Jasper Costa."
Florencia tersenyum smirk. "Jadi mereka bersaudara?"
"Iya Flo, Jasper lah yang menghidup kan kembali The Devil. Dia sengaja mengalih kan perhatian kita dengan mencuri senjata kita di Italia tetapi tujuan dia sebenarnya adalah untuk melenyapkan papa. Dan sepertinya dia sudah mengetahui identitas mu yang baru Flo."
Florencia menatap Axel.
"Dia memiliki mata mata di mansion ini Flo. Mata mata itu sekarang ada di penjara bawah tanah," sambung Axel yang mengerti arti dari tatapan Florencia.
"Perketat panjagaan mansion ini."
"Iya Flo."
"Sekarang Kalian istirahatlah."
"Kau akan pulang?" tanya Alexa.
"Tidak, aku akan bersenang senang terlebih dahulu."
"Sebelum pergi dari sini jangan lupa bersih kan diri mu terlebih dahulu. Jika tidak, suami mu itu akan lebih mencurigai mu nanti," kata Alexa.
Florencia menatap tajam Alexa. "Dia bukan suami ku!"
Alexa menunjuk kan cengir kudanya. "Good night Flo."
Untuk menghindari amukan sang macan betian, Alexa langsung pergi ke kamarnya sedangkan Axel entah sejak kapan laki laki itu juga sudah pergi ke kamarnya.
Florencia melangkah kan kakinya menuju penjara bawah tanah.
Florencia menatap mata mata yang sudah tak berdaya itu datar kemudian ia mengeluarkan pisau lipatnya di saku celana bagian belakang.
"Akh.."
__ADS_1
Pekik mata mata iti saat Florencia menusuk ke dua matanya hingga darah mengalir di sana. Florencia juga mengiris kedua telinganya hingga putus kemudian membuangnya ke sembarang arah.
Mata mata itu masih hidup.
Belum puas Florencia kini memotong jari jarinya seakan ia tengah memotong sosis goreng menjadi bagian bagian kecil.
Mata mata itu sekarat.
Terakhir Florencia kembali menjalan kan perannya sebagai dokter bedah yang tengah melakukan operasi.
Mata mata itu tewas.
Setelah puas Florencia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Florencia melihat jam yang menunjuk kan pukul empat pagi kemudian ia pergi kembali ke mansion Geovano sebelum laki laki itu terbangun dan membuat keributan.
**
Keesokan paginya..
Geovano bangun dari tidurnya, ia mengeraskan rahangnya saat ia tidak melihat Florencia tidak ada di sampingnya. Geovano ingat, semalam ia tidur di kamar Florencia dan sebelum Geovano tidur ia sudah melihat Florencia tidur di sampingnya setelah itu ia tidak mengingat apa pun lagi dan kini kepalanya terasa sangat sakit.
"Apa yang terjadi dengan diri ku? Kenapa kepala ku terasa sangat sakit?" Geovano memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Aku harus mencari istri ku, kemana dia pergi pagi pagi begini?"
"Berenang.. Ya dia pasti sedang berenang. Aku akan menemuinya."
Geovano melangkah kan kakinya keluar dari kamar Florencia untuk kemudian pergi ke area kolam renang.
Di kolam renang..
"Dia tidak ada di sini? Kemana dia?"
"Bi Yati," teriak Geovano memanggil asisten rumah tangganya.
"Kau melihat nyonya?"
"Nyonya? Ma-maaf tuan, saya tidak melihat nyonya."
Geovano mengusap wajahnya kasar dan berlalu pergi.
Ceklek..
Geovano membuka pintu kamarnya kemudian garis lengkung terbit di bibirnya. Geovano tersenyum melihat Florencia yang tertidur pulas di kasur king size miliknya.
Florencia sampai di mansion Geovano pukul setengah lima pagi. Awalnya ia masuk ke kamarnya tapi karena tidak ingin tidur satu ranjang bareng Geovano, Florencia lebih memilih untuk tidur di kamar Geovano.
Geovano duduk di sisi ranjang. Ia menatap dalam wajah Florencia. Di selipkannya anak rambut yang menghalangi wajah cantik Florencia.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Florencia tanpa membuka matanya.
Sebenarnya saat Geovano membuka pintu kamar, Florencia sudah terbangun tapi kerena ia masih mengantuk Florencia kembali tidur. Dan saat Geovano menyentuh wajahnya, tidur Florencia kembali terusik.
"Kau sudah bangun?" tanya Geovano.
Florencia membuka matanya. "Ck! Pergilah! Kau mengganggu tidur ku saja."
Geovano tersenyum. "Maaf.. Kau kembalilah tidur, aku akan menyiapkan sarapan untuk mu," Geovano mengelus kepala Florencia dan berlalu pergi.
Florencia mengedik kan bahunya acuh kemudian kembali tidur.
__ADS_1
Dapur..
"Tuan sedang apa? Sini tuan biar saya saja," kaget Yati saat melihat Geovano yang tengah menyiapkan sarapan untuk Florencia, Geovano membuat salad.
"Tak apa, bibi kerjakan yang lain saja."
"Iya tuan," Yati mengulum senyumnya dan Geovano melihat itu.
"Kenapa?" tanya Geovano.
"Saya senang melihat tuan memperhatikan nyonya, nyonya pasti akan sangat senang."
"Benarkah?"
"Tentu saja tuan, karena nyonya sangat mencintai tuan."
"Tapi sayangnya dia melupakan cintanya itu. Jika saja dia tidak kehilangan ingatannya," Geovano menghela napasnya dalam.
"Ingatan nyonya mungkin hilang tuan tapi percayalah rasa cinta nyonya untuk tuan tidak akan pernah hilang. Nyonya akan kembali mengingat cintanya itu."
Geovano tersenyum getir. "Mungkin inilah hukuman untuk ku karena selalu saja menyakiti hatinya, di saat aku mulai mencintainya dia malah melupakan cintanya untuk ku."
"Kak Flo.."
Teriak Laura yang baru saja datang. Mendengar suara adiknya yang seperti suara petasan itu Geovano langsung menghampiri Laura yang sudah duduk manis di meja makan.
"Diamlah! Kau ini selalu saja berteriak," sentak Geovano.
Laura menunjuk kan cengir kudanya. "Maaf.. Oh iya kak, kak Flo mana?"
"Dia masih tidur."
Laura bangkit dari duduknya.
"Mau kemana kamu?" tanya Geovano.
"Ke kamar kak Flo," jawab Laura.
"Jangan.. Jangan ganggu dia, dia sangat lelah, biarkan saja dia tidur lebih lama," cegah Geovano.
"Lelah?" Laura mengulum senyumnya. "Kak Flo tidur di kamar kak Vano?"
"Hmm.."
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah. Emang kenpa?"
"Selama ini kan kak Vano melarang orang lain untuk masuk ke kamarnya kak Vano."
"Dia bukan orang lain, dia istri ku," tegas Geovano.
"Oh ya ampun.. Apa ini bener kak Vano, kakak ku?" tanya Laura menatap Geovano.
"Diamlah!" sentak Geovano.
"Ck! Kak Vano nyebelin! Aku akan menemui kak Flo saja," Laura berlalu pergi.
"Laura jangan ganggu kakak ipar mu.." teriak Geovano.
__ADS_1
"Aku akan mengganggunya.." teriak Laura.
"Laura!!!"