
"Flo, kau baik baik saja?" tanya Alexa.
"Hmm."
"Geovano ada bersama mu?"
"Iya."
Mendengar itu Laura dan Kenand menghela napasnya lega.
"Jaga diri mu Flo."
"Hmm."
Setelah mengatakan itu Florencia langsung memutus sambungan mereka dan itu membuat Alexa menghela napasnya sabar.
Alexa melihat ke arah Laura. "Laura, sebaiknya kamu istirahat sekarang. Kakak dan kakak ipar mu akan baik baik saja."
Laura mengangguk kan kepalanya.
"Ayo aku akan mengantar mu ke kamar tamu."
Laura menggeleng kan kepalanya.
Alexa mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya "Kenapa?".
"Aku mau tidur sama kak Al aja, boleh?" tanya Laura ragu.
"Ya udah ayo."
Alexa dan Laura menaiki tangga menuju kamar Alexa yang ada di lantai dua untuk selanjutnya mereka akan beristirahat untuk menyambut hari esok.
Setelah kedua gadis itu pergi Axel melihat ke arah Kenand dengan tatapan datarnya. "Kau tidak akan pergi?" tanyanya kemudian.
"Mmm.. Boleh aku juga menginap di sini?" tanya Kenand sedikit takut dengan tatapan Axel. "Ini sudah larut malam," cicitnya kemudian.
Larut malam? Itu sebenarnya hanya alasan Kenand saja. Padahal jam masih menunjuk kan pukul sebelas malam. Kenand sudah sangat lelah setelah seharian bekerja, rasanya ingin segera membaring kan tubuh kekarnya itu di atas ranjang yang empuk dan nyaman saja, ia terlalu malas jika harus mengendarai mobil lagi untuk pulang ke apartemennya.
"Itu kamar tamunya," Axel menunjuk kamar dekat tangga yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu.
"Terimakasih."
Setelah mengucap kan terimakasih Kenand langsung saja melangkah kan kakinya menuju kamar yang sebelumnya di tunjuk oleh Axel tadi.
Tak lama setelah itu Axel juga hendak pergi ke kamarnya tapi terhenti saat salah satu bodyguard datang menghampirinya.
"Maaf tuan," bodyguard itu menunduk kan kepalanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Axel dingin.
"Di luar ada seseorang yang ingin bertemu dengan tuan Matteo, tuan."
"Siapa?"
"Mario."
"Bawa dia ke sini."
"Baik tuan."
Bodyguard itu menunduk kan kepalanya lalu pergi dan tak lama ia kembali bersama Mario dan satu lagi ada seorang pria paruh baya yang berjalan di belakang Mario, entah siapa pria paruh baya itu?
"Untuk apa kau ingin menemui papa?" tanya Axel menatap tajam Mario setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya."
"Bicarakan saja dengan ku."
"Tidak bisa, ini hal yang sangat penting. Aku harus bicara secara langsung dengan om Matteo. Aku tau kau tidak mempercayai ku tapi percayalah aku melakukan semua ini demi kebaikan semua orang. Masalah Florencia, kau tidak usah khawatir, dia akan baik baik saja."
Axel memberi kode pada bodyguard untuk memanggil Matteo dan tak lama bodyguard itu datang bersama Matteo. Matteo duduk di sebelah putranya.
Matteo mengernyit kan dahinya saat ia melihat pria paruh baya yang datang bersama Mario tadi. Matteo mengenali pria itu bahkan sangat mengenalinya.
"Saya akan mengungkap kan rahasia besar yang selama ini di sembunyi kan oleh Jasper," kata pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu mulai menceritakan tentang rahasia Jasper yang di ketahuinya. Matteo dan Axel mendengar kan perkataan pria paruh baya itu dengan serius. Setelah pria paruh baya itu selesai bercerita Matteo dan Axel menatap Mario dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Mereka sulit untuk mempercayai ucapan pria paruh baya itu tapi pria paruh baya itu menunjuk kan bukti yang membuat mereka akhirnya percaya.
Matteo menatap Mario dengan tatapan rumit. "Jadi kau.." Matteo bahkan tidak sanggup untuk melanjut kan ucapannya karena ia masih sangat tekejut setelah mendengar kebenaran itu.
Mario tau apa yang akan di ucapkan Matteo itu dan ia hanya mengangguk kan kepalanya saja sebagai jawaban.
"JASPER KAU MEMANG BUKAN MANUSIA! BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKAN HAL KEJI SEPERI ITU?" geram Matteo tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Papa, apa semua ini benar?" tanya Axel yang masih belum bisa mempercayainya dan Matteo hanya mengangguk kan kepalanya saja sebagai jawaban.
"Tuan Matteo sebenarnya saya juga sudah mengatakan rahasia ini pada tuan dan nyonya besar (orang tua Florencia) saya merasa sangat bersalah telah menyembunyikan rahasia sebesar itu. Saya melakukan semua itu juga karena terpaksa. Tuan Jasper mengancam saya, dia akan mencelakai keluarga saya jika saya tidak menuruti perintahnya," jelas pria paruh baya itu.
Matteo membulat kan matanya sempurna. "Jadi, tuan dan nyonya besar sudah mengetahuinya?"
"Iya tuan."
"Kapan kau memberitahu tuan dan nyonya besar tentang rahasia itu?" tanya Matteo.
"Sepuluh tahun yang lalu tuan, saat saya masih tinggal di Italia. Dan saya baru tau sekarang, jika tuan dan nyonya besar sudah tiada."
__ADS_1
"Oh god.. Saya mengerti sekarang. Alasan di balik kematian orang tua Florencia, itu karena mereka sudah mengetahui tentang rahasia ini."
"JASPER KAU TIDAK PANTAS DI SEBUT SEBAGAI SEORANG MANUSIA. KAU BAHKAN LEBIH BIADAB DARI IBLIS YANG ADA DI MUKA BUMI INI," Matteo mengusap wajahnya kasar.
"Maafkan uncle Flo, harusnya malam itu uncle ikut bersama orang tua mu," lirih Matteo.
Axel menepuk pundak sang papa untuk memberinya kekuatan kemudian ia melihat ke arah Mario. "Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanyanya kemudian.
"Aku akan mengakhiri balas dendam ini tapi aku butuh bantuan kalian semua."
"Katakan saja, apa yang harus aku lakukan?"
"Besok kalian datanglah ke tempat di mana Florencia di sekap, aku akan memberitahu rencana ku selanjutnya di sana."
"Baiklah."
Setelah itu Mario dan pria paruh baya yang bersamanya tadi pergi dari mansion Florencia sedangkan Axel dan Matteo pergi ke kamarnya masing masing untuk beristirahat menyambut hari esok yang akan menjadi hari bersejarah untuk Florencia. Kebenaran akan terungkap esok hari dan misi balas dendam Florencia juga akan segera berakhir.
Semoga saja.
**
Sementara itu di sisi lain di waktu yang sama Florencia dan Geovano masih berada di ruangan kotor itu. Florencia baru saja menceritakan semua kebenarannya pada Geovano.
Florencia dan Geovano duduk bersebelahan di lantai dingin itu seraya bersandar di dinding.
Florencia menutup matanya. Pikirannya terus saja bertanya apa maksud dari ucapan Mario?
Florencia memijat pelipisnya yang berdenyut kemudian ia menghela napasnya dalam. Kegiatan Florencia itu tak lepas dari penglihatan Geovano.
"Apa yang sedang kau pikir kan?" tanya Geovano memecah keheningan di antara mereka.
"Tidak ada."
Florencia tersentak dan langsung membuka matanya saat Geovano tiba tiba saja menggenggam tangannya erat.
"Apa yang kau lakukan? Lepas!" sentak Florencia.
"Diamlah, kita sedang di awasi."
Geovano melepas kan gemggamannya tapi setelah itu ia malah merangkul pundak Florencia dan menuntun kepala Florencia untuk bersandar di pundaknya kemudian ia juga menumpuk kan kepalanya di atas kepala Florencia.
"Tidurlah."
Mata Florencia semakin lama semakin berat dan akhirnya ia masuk ke alam mimpinya. Sekali lagi Florencia tidur dalam pelukan Geovano dan ia merasakan kenyamanan itu lagi.
Geovano mengecup penuh perasaan kepala Florencia. "Terimakasih, kau sudah melindungi keluarga ku. Aku mencintai mu."
__ADS_1