Transmigrasi Sexy Mafia

Transmigrasi Sexy Mafia
Chapter 24


__ADS_3

FLASH BACK ON


"Kak Nara nginep aja malam ini di sini," pinta Laura.


"Tidak bisa Laura, aku harus segera pulang, aku harus memasak, mas Vano sebentar lagi akan pulang," kata Nara.


"Ck! Biarkan saja kak Vano kelaparan. Aku heran sama kak Nara, kenapa sih sabar banget ngadepin kak Vano yang nyebelin itu?" kesal Laura.


Nara tersenyum. "Karena aku sangat mencintai kakak mu yang nyebelin itu dan suatu saat nanti aku yakin dia juga akan mencintai ku."


"Aku sama sekali gak ngerti apa yang ada di pikiran kak Nara? Tapi kalau aku jadi kak Nara, aku akan pergi ninggalin kak Vano dan cari suami lain yang tentunya jauh lebih baik dari kak Vano," sungut Laura.


Nara hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan adik iparnya itu.


"Papa di mana? Aku mau pamit," Nara mengedarkan pandangannya mencari papa mertuanya.


"Papa mungkin ada di kamarnya," jawab Laura.


Laura melangkah kan kakinya menaiki tangga menuju kamar Harun yang ada di lantai dua.


**


"Kau sudah menghilangkan semua buktinya?" tanya Mona.


"Iya ma, mama tenang aja Vano tidak akan mengetahui tentang penggelapan dana yang aku lakukan, sekali pun dia mengetahuinya dia tidak akan bisa berbuat apa pun karena tidak ada bukti," jawab Bastian.


"Bagaimana dengan sekertaris mu?"


"Mama tidak usah khawatir dia juga terlibat dan jika dia macam macam dia yang akan terkena masalah bukan kita."


Ibu dan anak itu tersenyum penuh kemenangan sementara itu tanpa mereka ketahui ada orang yang berdiri di depan pintu kamar mendengar semua yang mereka bicarakan karena pintu kamar yang tidak tertutup dengan rapat.


Ya.. Orang itu adalah Nara, saat melewati kamar Bastian, Nara tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Awalnya Nara ingin mengabaikannya tapi saat ia mendengar nama suaminya di sebut, Nara penasaran lalu melangkahkan kakinya lebih dekat ke arah pintu kemudian Nara mengeluarkan ponselnya lalu merekam semua pembicaraan antara ibu dan anak itu.


"Aku harus memberitahu mas Vano tentang semua ini," Nara menggenggam erat ponselnya.


Setelah berpamitan Nara langsung pulang di antar pak Danu.


**


"Di mana kamu mas? Kenapa jam segini belum juga pulang?"


Nara melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.


Entah sudah berapa kali Nara menghubungi Geovano tapi tak pernah di angkat. Nara terlihat sangat gelisah sampai akhirnya ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk.


Garis senyum terlihat di wajah Nara kala ia melihat nama si pengirim yang ternyata adalah suaminya. Nara membaca pesan itu.


'Aku meeting di luar kota'


Simple memang tapi pesan yang di kirim Geovano itu berhasil membuat Nara sangat bahagia. Nara merasa dengan Geovano mengirim pesan padanya, suaminya itu masih menganggapnya sebagai istri.


Masalah penggelapan dana perusahaan, Nara akan memberitahu Geovano saat suaminya itu sudah pulang nanti.


Keesokan harinya..


Nara baru saja sampai di restoran. Lima belas menit sudah Ia menunggu Laura.


Ting..


Nada pesan terdengar dari ponsel Nara kemudian ia langsung membacanya.


'Kak Nara maaf, kelas ku sedikit terlambat, aku akan segera datang'

__ADS_1


"Aku akan pesan makanan sekarang supaya saat Laura datang nanti makanannya sudah ada," gumam Nara seraya mengambil buku menu.


Nara mengedarkan pandangannya mencari waiter tapi bukan waiter yang netranya lihat melainkan dua sejoli yang tengah bermesraan dan sialnya dia sangat mengenali ke dua orang itu.


"Bastian? Callista?"


Nara merogoh ponsel di dalam hand bagnya kemudian mem-video kan kemesraan Bastian dan Callista kemudian pergi dari sana.


"Sayang itu Nara, sepertinya dia melihat kita," panik Callista yang melihat Nara keluar dari restoran itu.


"Kita kejar dia," kata Bastian.


Bastian dan Callista mengejar Nara yang sudah pergi terlebih dahulu menggunakan taxi.


"Sial!" umpat Callista karena mobil mereka terjebak lampu merah sedangkan taxi yang di tumpangi Nara sudah tidak terlihat.


"Sayang, sekarang gimana? Kita kehilangan jejak wanita gendut itu," sambungnya lagi.


"Kau tenang saja, aku tahu kemana dia akan pergi," Bastian tersenyum miring.


Sementara itu Laura yang baru saja sampai di restoran merasa bingung karena ia tidak melihat Nara di sana. Laura merasa sangat khawatir karena ia sudah mencoba beberapa kali untuk menghubungi Nara tapi nomornya tidak aktif. Entah apa yang terjadi dengan kakak iparnya itu?


**


"Bi Yati, mas Vano sudah pulang?" tanya Nara yang baru saja sampai di mansion dengan napas yang terengah engah.


"Tuan Vano sudah ada di bandara nyonya baru saja pak Didi pergi untuk menjemput tuan," jawab Yati.


Yati memperhatikan wajah Nara yang terlihat jelas ada kekhawatiran di sana. "Nyonya ada apa? Kenapa nyonya terlihat sangat khawatir?"


Jelas saja Nara khawatir karena ia tadi sempat melihat mobil Bastian mengikuti taxi yang di tumpanginya.


"Aku baik baik aja bi, aku akan istirahat di kamar tapi saat mas Vano pulang nanti langsung kasih tahu aku ya bi."


Nara melangkah kan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


Tak lama setelah Nara pergi ke kamarnya, Bastian datang bersama Callista.


"Bi, di mana Nara?" tanya Bastian.


"Nyonya ada di kamarnya tu-"


Belum selesai Yati mengucap kan kalimatnya, Bastian dan Callista sudah pergi menuju kamar Nara.


"Ada apa ini? Kenapa perasaan ku menjadi tidak enak?" gumam Yati.


Yati mengenyahkan pikirannya itu dan kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


Brak..


Bastian membuka pintu kamar Nara dengan sangat keras hingga membuat Nara terlonjak kaget. Bastian dan Callista masuk ke kamar Nara. Bastian mengunci pintu.


"Kalian mau apa?" tanya Nara. "Pergi!" sentaknya.


Bastian dan Callista tersenyum miring.


Nara mencoba untuk menghubungi Geovano tapi sial ponselnya di rebut paksa oleh Bastian dan laki laki itu langsung melempar ponsel itu ke lantai lalu menginjaknya.


"Aww.."


Pekik Nara kala Bastian mencengkram tangannya.


"Lupakan apa yang sudah kau lihat tadi," desis Bastian.

__ADS_1


"Tidak, aku akan memberitahu mas Vano tentang perselingkuhan kalian. Lepas!!" teriak Nara.


Prang..


Terdengar suara gelas yang terjatuh di depan kamar Florencia. Bastian dan Callista saling menatap.


Nara menghempas kan tangan Bastian dengan tenaganya lalu mendorong laki laki itu hingga terjatuh di lantai. Nara melangkah kan kakinya menuju balkon kamarnya.


"Brengsek! Berani kau mendorong ku? Nara, aku tidak akan melepaskan mu."


"Kau urus Nara, aku yang akan memeriksa ke luar," kata Callista dan berlalu pergi.


Bastian bangkit dan langsung menyusul Nara ke balkon. Kilatan amarah terlihat jelas di matanya.


"Jangan mendekat!!" sentak Nara.


Bastian terus saja melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nara dan Nara terus saja berjalan mundur tanpa ia sadari ia sudah berada di ujung balkon. Nara kehilangan keseimbangannya dan..


Aaaaaa..


Bruk..


Nara terjun bebas dari balkon. Napas Bastian tercekat untuk beberapa detik. Bastian berlari untuk melihat keadaan Nara.


Bastian membulatkan matanya saat ia melihat Nara di bawah sana dalam posisi terlentang dan darah yang mengalir deras dari kepalanya.


Sementara itu Callista yang berada di luar kamar Nara terkejut kala ia mendengar teriakan Nara. Bukan hanya Callista yang terkejut, Yati juga terkejut.


Ya.. Orang yang menjatuhkan gelas di depan kamar Nara adalah Yati. Yati pergi ke kamar Nara membawa kan minuman untuk Bastian dan Callista tapi saat Yati akan mengetuk pintu, ia tersentak oleh teriakan Nara dan menjatuhkan nampan berisikan dua jus di tangannya.


Callista dan Yati berlari menuju balkon.


"Nyonya!!!" teriak histeris Yati saat ia melihat majikannya itu sudah tak berdaya di bawah sana.


Callista menutup mulutnya seraya menatap curiga Bastian.


"Aku tidak melakukan apa pun, dia terjatuh sendiri," bela Bastian.


**


Nara sudah di bawa oleh ambulance ke rumah sakit sedangkan Yati kini tengah berdiri ketakutan di hadapan Bastian dan juga Callista.


"Jika kau ingin selamat? Tutup mulut mu itu!" ancam Bastian.


"Tidak, aku akan memberitahu tuan Geovano tentang semua ini," kata Yati di sela sela isaknya.


"Baiklah jika itu pilihan mu tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada anak mu."


"Tidak saya mohon tuan, jangan sakiti anak saya," lirih Yati.


"Saya tidak akan menyakiti anak mu hanya saat kau menutup mulut mu itu. Kau harus ingat aku dan Callista tidak pernah datang ke sini dan Nara jatuh dari balkon itu karena ulahnya sendiri. Kau mengerti?"


"I-iya tuan, saya mengerti."


"Jangan berani macam macam nyawa anak mu sendiri yang jadi taruhannya."


"Saya akan menutup mulut saya tuan."


"Good."


Bastian dan Callista pergi dari mansion itu meninggal kan Yati yang terisak di lantai.


"Maaf kan saya nyonya, maaf kan saya. Saya yakin nyonya akan selamat dan nyonya sendiri yang akan membongkar kejahatan mereka nanti."

__ADS_1


FLASH BACK OFF


__ADS_2