
Setelah Florencia mengaku jika dirinya bukan Nara, istri dari Geovano, Alexa menarik tangan Florencia lalu membawanya ke dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan Flo?" tanya Alexa.
"Aku hanya mengatakan kebenaran."
"Tapi.."
"Ini sudah waktunya," potong Florencia.
"Apa maksud mu?"
"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku sudah menghilang kan sumber kekayaan Jasper. Perusahaannya sudah bangkrut. Kini aku ingin menghadapi Jasper dengan identitas asli ku."
"Dan aku juga sudah menepati janji ku pada Nara. Aku sudah membalas semua orang yang ada di balik kematian dan rasa sakit Nara. Hanya satu hal lagi yang belum aku lakukan dan aku akan segera menyelesaikannya," batin Florencia.
"Bagaimana kau akan meyakinkan Geovano jika kau bukan istrinya? Kau lihat sendiri kan tadi? Dia tidak mempercayai mu!" tanya Alexa.
"Mau percaya atau tidak itu bukan urusan ku. Tidak ada yang bisa mencegah ku kembali ke kehidupan ku yang sebenarnya."
Sementara itu di ruang tamu Matteo sedang berbicara dengan Geovano, Axel juga ada di sana.
"Kau sudah tau tentang Florencia?" tanya Matteo.
"Dia bukan Florencia dia Nara, istri ku! Kalian berhentilah memanggil istri ku dengan sebutan Florencia!" sentak Geovano.
"Geovano turunkan nada suara mu!" sarkas Axel. Ia sangat tidak suka jika ada yang bersikap tidak sopan pada sang papa.
"Axel tahan emosi mu," peringat Matteo menatap Axel.
"Maaf pa."
Matteo menatap Geovano yang juga sedang menatapnya. Matteo mencoba untuk menjelaskan keadaan Florencia pada Geovano.
"Saya mengerti perasaan mu, ini memang sangat tidak masuk akal, di luar nalar kita sebagai manusia. Awalnya saya juga tidak percaya. Saya menganggap jika Florencia sudah tiada," Matteo kembali mengingat kejadian saat Florencia datang menemuinya dengan tubuh barunya untuk pertama kali.
"Saat itu Florencia datang menemui ku dengan raga yang berbeda. Terkejut? Tidak percaya? Tentu saja iya, bukan hanya saya saja yang tidak percaya Axel dan Alexa pun demikian, tapi saat itu Florencia berhasil meyakinkan kita jika dia adalah Florencia dan akhirnya kita percaya karena kita sangat mengenal Florencia. Biar pun jiwa dia berada di dalam raga orang lain, kita bisa mengenalinya."
"Saya rasa setelah Florencia keluar dari rumah sakit saat itu, kau pasti merasa jika istri mu berubah, sifat dan sikapnya pasti sangat berbeda dari sebelumnya."
"Bagaimana bisa dia berubah secepat ini? Saya yakin pertanyaan itu ada di benak mu saat itu tapi kau tidak bisa menemukan jawabannya."
__ADS_1
"Dan sekarang kau sudah menemukan jawaban itu, itu semua karena dia bukan Nara, istri mu. Jika kau sangat mengenal istri mu akan dengan sangat mudahnya kau mengetahui bahwa orang yang kau anggap istri mu itu bukan istri mu yang sebenarnya."
"Raga yang kau lihat itu memang raga istri mu tapi jiwa yang menempati raga itu bukan jiwa istri mu melainkan jiwa Florencia yang bertransmigrasi ke dalam raga istri mu."
"Percaya atau tidak kau harus tetap percaya karena itu kenyataannya. Istri mu, Nara sudah tiada dan kau harus terima itu."
Jelas Matteo panjang lebar berharap Geovano bisa percaya.
"Sudah cukup! Jangan melewati batas mu! Istri ku masih hidup! Bagaimana bisa kau mengatakan istri ku sudah tiada di saat dia ada bersama ku!" sarkas Geovano menatap tajam Matteo.
"Geovano!!"
Bukan.. Suara itu bukan suara Axel tetapi suara Florencia yang tengah menuruni tangga bersama Alexa.
Seperti halnya Axel tadi, Florencia juga sangat tidak suka jika ada orang yang bersikap tidak sopan pada Matteo.
Florencia berdiri di hadapan Geovano sembari menatapnya tajam. "Sebaiknya kau pergi dari sini! Aku sudah memberitahu kebenarannya pada mu dan jika kau tidak mempercayainya itu urusan mu! Aku sama sekali tidak perduli!"
Geovano menatap balik Florencia tak kalah tajamnya. "Aku akan pergi jika kau ikut bersama mu."
"Kau.."
Ucapan Florencia terpotong saat salah satu anggota Valuenz datang.
"Oh god.. Apa yang aku pikirkan benar?" tanya Alexa.
"Iya nona, anak anak yang di culik itu di eksekusi untuk kemudian organnya di ambil untuk di jual. Mereka komplotan sindikat penjualan organ dalam manusia."
"Siapkan anggota, kita bergerak sekarang," titah Florencia.
"Baik boss," anggota Valuenz itu menunduk hormat dan berlalu pergi.
Saat Florencia akan pergi, Geovano mencekal tangannya. "Kau tidak boleh pergi, itu sangat berbahaya."
Matteo menepuk pundak Geovano. "Govano biarkan Florencia pergi, anak anak itu sangat membutuhkannya. Percayalah.. Dia akan kembali dalam keadaan selamat."
"Aku ikut bersama mu," putus Geovano akhirnya.
Florencia memutar bola matanya malas. "Ck! Terserah!"
Florencia, Geovano, Axel, Alexa dan Valuenz pergi untuk menyelamatkan Putri sedangkan Matteo menunggu di mansion di temani beberapa bodyguard di sana.
__ADS_1
Saat Geovano akan pergi, Matteo membisikan sesuatu pada Geovano. "Jangan terkejut! Itu adalah kehidupan Florencia yang sebenarnya."
Jujur.. Geovano tidak mengerti maksud dari ucapan Matteo itu. Geovano ikut bersama Florencia hanya untuk menjaga sang istri. Ia tidak ingin istrinya itu terluka barang sedikit pun.
**
Suara tangisan anak kecil menggema di ruangan yang pengap nan gelap itu. Jumlah anak anak itu sekitar dua puluh dua orang. Mereka berteriak memohon untuk di lepaskan. Keadaan mereka sangat memprihatinkan. Badan yang gemetar karena ketakutan. Mata yang sembab karena menangis sepanjang hari.
Di antara banyaknya anak kecil itu ada satu remaja yang berusaha untuk menenangkan semua anak kecil itu. Walau jauh di lubuk hatinya, ia juga merasakan ketakutan dan kesedihan yang sama tetapi ia berusaha tegar supaya ia bisa menyelematkan dirinya dan juga yang lainnya.
"Kak maafkan aku, gara gara kakak nyelamatin aku, kakak juga malah ikut di culik," lirih anak yang berusia enam tahun itu. Dia adalah Anna.
Saat di perjalan setelah pulang dari rumah temannya, Putri melihat Anna yang menangis dan di sana juga terlihat ada dua orang yang mengenakan topeng berusaha untuk memasukannya ke dalam mobil.
Putri tidak tega melihat anak itu menangis. Dengan modal tekad dan nekat Putri memberanikan dirinya untuk menyelamatkan anak itu tapi naas bukannya berhasil Putri juga malah ikut di culik bersama Anna.
"Ini bukan salah kamu, Anna. Yang penting sekarang kita harus mencari cara supaya kita semua bisa kabur dari tempat ini," kata Putri menenangkan Anna seraya memeluknya.
"Tapi bagaimana caranya ka? Di sini tidak ada jalan untuk keluar. Tidak ada jendela dan pintunya juga terkuci."
"Berdoa.. Kita bisa berdoa pada tuhan supaya tuhan mengirimkan malaikat yang bisa membantu kita keluar dari sini."
Anna mengangguk kan kepalanya lalu berdoa dalam hatinya begitu juga dengan yang lainnya.
Terdengar suara rantai gembok yang terbuka setelah itu secara perlahan pintu itu terbuka menampilkan dua orang yang mengenakan topeng masuk ke ruangan pengap nan gelap itu.
Kedua orang itu dengan tidak manusiawinya membawa seorang anak laki laki yang usianya sekitar delapan tahun. Anak laki laki terus memberontak dan berteriak bahkan sampai menggigit salah satu orang yang mengenakan topeng itu hingga tangannya berdarah.
"Akh! Bocah sialan!"
PLAK
Kepala anak laki laki itu tertoleh ke samping saat tangan besar nan kasar itu mendarat mulus di pipi chubbynya.
Anak laki laki itu seketika menangis dan berteriak memanggil manggil ibunya. Anak anak yang lainnya pun ikut menangis dan setelah kejadian itu mereka menjadi semakin takut.
"Diam!! Jika kalian tidak ingin bernasib sama seperti bocah sialan ini, hentikanlah tangisan kalian atau aku akan menghukum kalian semua dengan cara yang lebih menyakitkan."
Mendengar ancaman dari orang bertopeng itu semua anak anak membekap mulutnya untuk meredam isakan tangisnya. Mereka ketakutan sangat ketakutan.
Dua orang bertopeng itu kemudian keluar dengan anak laki laki tadi dan kembali mengunci ruangan itu.
__ADS_1
Tak lama setelah itu terdengar suara teriakan kesakitan yang sudah bisa di pastikan keluar dari anak laki laki yang di bawa tadi. Entah apa yang terjadi padanya? Tidak ada yang tahu selain tuhan dan para penculik itu.