Transmigrasi Sexy Mafia

Transmigrasi Sexy Mafia
Chapter 41


__ADS_3

TAK


TAK


TAK


Florencia menuruni anak tangga. Kemeja putihnya berubah menjadi warna merah. Geovano menatap Florencia dengan tatapan rumit.


Saat berada tepat di depan Geovano yang mematung, Florencia menghentikan langkahnya. Wajahnya ia dekat kan dengan wajah Geovano kemudian berbisik di telinganya.


"Setelah semua yang kau lihat ini, apa kau masih berpikir jika aku istri mu, Nara yang lembut itu?" Florencia menyeringai.


"Ka-kau.."


Geovano tidak bisa melanjut kan ucapannya. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa? Terjadi pergulatan besar di dalam pikirannya. Di satu sisi ia menolak dengan sangat keras kenyataan ini tapi di sisi lain ia mulai mempercayainya.


"BOSS!"


Pekik salah satu anggota Valuenz yang tiba tiba saja datang menginterupsi.


"Ada apa?" tanya Florencia datar.


"Ada sekitar sepuluh mobil yang bergerak menuju ke sini Boss."


"Persiapkan diri kalian."


"Baik Boss," anggota Valuenz itu menunduk hormat dan berlalu pergi.


"Flo, apa kita perlu menambah pasukan?" tanya Axel.


"Tidak usah."


Axel menatap Florencia intens dan Florencia mengerti arti dari tatapan itu.


"The Devil."


Axel menyeringai mendengar ucapan Florencia itu.


"Jadi ini ulah The Devil? Bagaimana bisa mereka melakukan ini terhadap anak anak?" kesal Alexa.


Valuenz dan The Devil memang sama sama kelompok mafia tetapi kedua kelompok mafia itu mempunyai prinsip yang berbeda.


Valuenz ber-prinsip, mereka tidak akan pernah melukai siapa pun yang tidak bersalah dan mereka tidak akan merugikan pihak mana pun selagi pihak itu tidak mencari gara gara dengan Valuenz. Sedangkan The Devil mereka akan menghalalkan segara cara supaya tujuan mereka tercapai tanpa memikirkan dampaknya.


"Tamat riwayat mu Florencia! Boss sebentar lagi akan datang menghabisi nyawa mu."


Florencia terkekeh mendengar ancaman pria brengsek yang sudah tak berdaya itu. Di saat kondisinya yang sudah sekarat bisa bisanya ia mengancam Florencia.

__ADS_1


Sebelumnya Florencia sudah mengintrogasi pria brengsek itu dan dengan lantangnya ia mengatakan jika dirinya adalah tangan kanan dari bos The Devil.


DOR


Tanpa aba aba Florencia melesakan pelurunya tepat di jantung pria brengsek itu dan seketika itu juga ia menghembus kan napas terakhirnya.


Napas Geovano tercekat kala ia melihat sang istri menghabisi nyawa seseorang tepat di hadapannya. Geovano termundur beberapa langkah ke belakang. Jantungnya berdetak tak karuan.


Geovano masih sangat yakin jika yang ada di hadapannya itu adalah istrinya tapi kejadian barusan seolah menampar dirinya untuk menyadarkan ia supaya bisa menerima kenyataan jika yang ia anggap sebagai istrinya itu memang bukan istrinya.


Kini Geovano percaya tapi..


Jika orang yang selama ini bersamanya itu bukan istrinya, lantas siapa orang yang sebenarnya ia cintai? Nara atau Florencia?


Kilasan kilasan kejadian antara dirinya dengan Nara dan dirinya dengan Florencia berputar secara bergantian seperti sebuah film di kepalanya.


'Mas Vano tunggu sebentar, ini aku udah siapin bekal makanan untuk mas,' kata Nara seraya berlari kecil membawa paper bag berisikan rantang makanan di sana.


'Kau akan pergi sekarang? Apa aku harus mengantar mu? Sepertinya tidak, kau pasti tidak menyukainya. Baiklah, selamat jalan suami ku. Kita akan bertemu lagi nanti, setelah enam bulan,' kata Florencia dan berlalu pergi.


'Mas capek ya, mau aku pijitin?' Nara menatap suaminya itu penuh cinta.


'Jangan menyuruh ku! Aku bukan pelayan mu!'desis Florencia menatap Geovano penuh permusuhan.


DOR


DOR


"Tangkap!"


Florencia melempar pistol pada Geovano, walau terkejut tapi Geovano berhasil menangkap pistol itu.


"Gunakan senjata itu untuk melindungi diri mu dan juga Alexa. Aku menitip kan Alexa pada mu. Jaga dia, jangan sampai terluka atau kau akan terima akibatnya."


Florencia melihat ke arah Alexa. "Al, kau diam di sini."


Setelah mengatakan semua itu Florencia keluar dari bangunan itu menyusul Axel yang sudah keluar terlebih dahulu.


Geovano menatap pistol yang ada di tangannya. Apa lagi ini?


Geovano masih syok dengan kejadian mengerikan yang di lakukan Florencia tadi dan seolah satu kejadian belum cukup, kini kejadian mengerikan lainnya akan segara ia saksikan.


"Geovano.. Jangan hanya menatap senjata itu, cepat gunakanlah atau kau akan habis di tangan Florencia!" sarkas Alexa.


Geovano mengalihkan pandangannya ke arah Alexa yang berada di sebelah kanannya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Alexa yang sudah di todong pistol oleh The Devil yang sebelumnya hanya pingsan itu.


"Turunkan senjata mu!"

__ADS_1


Geovano menurut apa kata orang itu. Ia dengan perlahan berjongkok kemudian meletakan pistolnya begitu saja di lantai.


Alexa memutar bola matanya malas. "Ck! Kau ini lemah sekali! Hanya dengan sekali gertakan kau langsung menurutinya."


"Dalam itungan tiga, kau tundukan kepala mu," titah Geovano masih dalam posisi berjongkok seraya menatap Alexa.


"Hah? Apa maksud mu?" tanya Alexa bingung.


"Ck! Bodoh! Sudah ikuti saja!"


"Diam!" sentak orang yang menodong Alexa.


"Kau yang diam bodoh! Kau mau merusak gendang telinga ku!" sentak Alexa kesal.


"Diam atau ku tembak kau sekarang juga," desisnya tajam.


"I-iya," cicit Alexa.


Jika di lihat dari luar mungkin Alexa terlihat biasa saja ketika ia di todong oleh senjata tapi jika boleh Alexa jujur sebenarnya ia sangat takut.


Di Valuenz hanya Alexa lah satu satunya anggota yang tidak pandai dalam hal bela diri maupun mahir dalam menggunakan senjata.


Alexa masuk Valuenz karena ia ingin membantu sahabat dan adiknya itu untuk mengalah kan musuh musuh mereka. Bukan dengan cara menghabisi musuh menggunakan senjata maupun tenaganya tetapi mengalah kan musuh dengan ke-genuisannya.


Tidak ada Hacker yang jauh lebih hebat dari Alexa bahkan para musuh sempat beberapa kali mencoba menculik Alexa untuk memanfaat kan kelebihannya itu. Tapi itu tidak lah mudah mereka harus melewati Axel sang sniper dan tentunya Florencia sang dewi kematian.


"Ck! Tadi kau menyebut diri ku bodoh hanya dengan sekali gertakan saja tapi sekarang lihatlah diri mu. Bukankah kita sama saja?" Geovano melihat orang yang menodong Alexa itu sedikit lengah dan inilah waktunya..


"TIGA.."


"HAH?"


"BODOH! CEPATLAH TUNDUKAN KEPALA MU!"


DOR


Setelah Alexa menunduk kan kepalanya, Geovano langsung mengambil pistol yang sebelumnya ia letak kan di lantai. Setelah pistol itu ada di tangannya Geovano langsung menarik pelatuknya. Satu peluru mendarat dengan tepat di kepala orang yang menodong Alexa. Orang itu langsung tewas.


Alexa menghela napasnya lega kemudian ia menatap nyalang Geovano. "Dasar gila! Apa kau akan membunuh ku hah?"


"Bukannya berterimakasih kau malah mengatai ku gila."


"Kau memang gila! Benar kata Flo, kau memang sangat menyebalkan!! Aish.. Jantung ku rasanya mau copot!! Bagaimana jika kau salah sasaran? Aku tidak ingin mati muda! Aku belum menikah!" cerocos Alexa meluapkan kekesalannya.


"Kau meragukan kemampuan menembak ku? Aku bahkan bisa menembak tepat sasaran dengan mata tertutup."


Haa ... Haa ... Haa ...

__ADS_1


Tawa Alexa pecah saat ia mendengar pengakuan Geovano yang menurutnya itu adalah sebuah kebohongan belaka. Alexa yakin yang tadi itu hanya kebetulan saja. Tanpa ia tau jika sebenarnya menembak itu adalah salah satu hobby Geovano bukan hanya Geovano, Harun pun memiliki hobby yang sama. Tak banyak orang yang tau jika ayah dan anak itu mahir dalam menggunakan senjata.


__ADS_2