
"Aku takut.. "Ucap Aaera
"Aku akan melakukannya dengan perlahan..
"Aku tak percaya dengan pria kejam dan dingin seperti mu, "Sahutnya ketus
"Akan ku buktikan. "Tuan Dom dengan perlahan menanggalkan pakaian Aaera, dengan perasaan memburu ia langsung menjambah tubuh polos istrinya, mungkin ini yg kedua kali untuk dirinya dan juga Aaera, namun kali ini terasa begitu berbeda.
"Tolong jangan, aku takut " Ujar Aaera pelan, tubuhnya bergetar hebat antara takut dan menginginkan yg lebih, mulutnya menolak untuk melakukan, namun tubuhnya menginginkan..
"Ini memang akan terasa sakit, tapi, hanya sebentar, setelahnya akan terasa--
"Jangan pegang kesitu! itu sangat geli, "Potong Aaera memprotes tangan tuan Dom yg sudah merambat kebawah..
Dom tersenyum samar, lucu juga pikirnya, istrinya ini benar-benar sangat polos.. "Bukankah kau yg mengiyakan keinginan Kiera untuk memiliki adik! tapi kenapa kau sekarang melarangku hanya untuk menyentuh itu. "Goda tuan Dom di tengah-tengah aktivitas tangannya yg sudah tak bisa dikendalikan.
"Itu kau yg mengatakan akan membuat anak, bukan aku. "Sahut Aaera tak terima.
"Tapi kau mengiyakan. "jawab tuan Dom tak mau kalah..
"Ishh.. kau itu tidak bisakah mengalah sedikit saja. "Protes Aaera kesal.
"Baiklah, kita sama-sama menginginkannya, ayo kita buat sekarang "Balas tuan Dom langsung menerjang tubuh istrinya:.
Aaera menggidikan tubuhnya takala hembusan napas tuan Dom mengenai telinga dan leher jenjanggnya.
Setelah merasa Aaera sudah siap tuan Dom pun langsung memulai permainan yg sudah beberapa hari ini ia tahan..
"Tu-tuan-
"Panggil namaku. " perintah tuan Dom dengan berbisik.
*
*
*
Pukul delapan pagi Aaera masih tertidur dengan pulasnya, tuan Dom tersenyum, ia kembali mengingat kejadian semalam, yg katanya tidak mau, namun seperti tidak memiliki kepuasaan. "Ternyata kau bisa seliar itu. "Gumamnya.
"Papi... mami. "panggil Kiera menggedor-gedor pintu kamar milik tuan Dom dan Aaera.
Tuan Dom langsung menyingkapkan selimutnya lalu menggunakan celana yg berserakan dimana-mana akibat permainan semalam. ia rapihkan selimut yg menutupi tubuh polos istrinya.
"Hai gadis kecil papi, selamat pagi.. kau sudah bangun. "Sapa tuan Dom setelah membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Dimana mami? kenapa mami belum keluar dari kamar jam segini? biasanya mami sudah menyiapkan sarapan di jam segini. "tanya Kiera khawatir.
"Oh itu, mamimu sedang tidak enak badan, kau tunggulah di ruang tv, papi dan mami akan menyusulmu sebentar lagi. "jawab tuan Dom.
"Mami sakit? sakit apa? aku ingin melihatnya, "Ujar Kiera khawatir ia pun hendak masuk kedalam kamar kedua orang tuanya, namun dengan sigap tuan Dom langsung menahan tubuh Kiera, lalu langsung menggendong tubuh mungil putrinya dan membawanya ke ruang yg dimana tempat ia dan keluarganya untuk berkumpul.
"Papi, aku ingin melihat mami, "Protes Kiera meronta meminta turun.
"Sebentar lagi, ok. mamimu baru saja tertidur.
"Baru tidur ? "ulang Kiera bingung ia memicingkan matanya seraya mencerna ucapan papinya. "Kenapa mami baru tidur? apa mami sakitnya begitu parah?
"Mamimu hanya lelah.. "jawab tuan Dom santai.
Kembali gadis kecil itu memicingkan matanya, "Papi sebenarnya mami sakit apa? "tanyanya penasaran, "Tadi kau bilang mami sedang tidak enak badan, kemudian kau bilang baru tidur, lalu sekarang kau bilang mami kelelahan, sebenarnya mami kenapa? "Cecar Kiera khawatir kepada maminya.
Tuan Dom tersenyum, ternyata tingkat kekhawatiran putrinya terhadap ibunya sungguh besar, dan ia juga sengaja memutar-mutar saat bicara dengan putrinya, itu ia lakukan agar putrinya terus bertanya dan bicara, "Papi dan mami sedang proses memberikanmu adik. "Jawab tuan Dom berbisik tepat di telinga putrinya.
"Benarkah? "tanya Kiera berbinar.. "Tapi kenapa membuat adik bayi membuat mami sampai tidak tidur? "lanjutnya bertanya dengan polos.
"Eum- i-itu- "Tuan Dom menjeda ucapannya, ia terlihat berpikir, penjelasan seperti apa yg tempat untuk di jelaskan pada putrinya itu "Oh itu, kau bisa mempertanyakannya nanti pada mamimu. "Jawab tuan Dom, ia tersenyum licik membayangkan wajah bodoh istrinya nanti saat menjawab pertanyaan Kiera.
"Kenapa harus bertanya kepada mami? kenapa tidak papi saja yg menjelaskannya padaku! "tanya Kiera sangat penasaran, seperti biasa ia tidak akan berhenti bertanya jika belum mendapat jawaban yg memuaskan.
"Itu karena, kau dan mamimu sama-sama wanita. "Jawab tuan Dom sekenanya.
Tuan Dom menarik napasnya dengan berat, ternyata bicara dengan putrinya harus memiliki banyak persiapan. "Karena bicara sesama wanita akan terasa nyaman. "Jawabnya kembali sekenanya.
"Tidak masuk akal, "jawab Kiera tidak percaya akan jawab papinya.
"Kak, kakak. "panggil Adley terlihat khawatir.
"Paman. "Sahut Kiera senang dengan kedatangan pamannya.
"Syukurlah Adley datang, jika tidak.. aku tidak tahu pertanyaan seperti apa lagi yg akan Kiera lontarkan untukku. "Gumam tuan Dom lega.
"Ada apa Dley, kenapa kau terlihat khawatir ? "tanya tuan Dom setelah melihat dengan jelas rawut wajah adik iparnya yg terlihat cemas.
"Tuan, dimana kakak? ada hal penting yg ingin saya bicarakan dengan kakak. "jawab Adley tak sabaran.
"Mami masih tidur, kata papi mami kelelahan setelah semalam membuat adik bayi. "Sahut Kiera polos.
Tuan Dom meneguk ludahnya dengan susah, kemudian tersenyum masam, "Oh shit, kenapa Kiera mengatakan hal yg tadi aku ucapkan. "Keluh tuan Dom sedikit canggung.
Adley tersenyum sungkan setelah mendengar apa yg di sampaikan keponakannya. "Oh, jika begitu, biarkan mamimu tidur, biarkan dia istirahat. "jawab Adley tersenyum kaku.
__ADS_1
"Apakah membuat adik sangat lelah? "kembali pertanyaan polos keluar dari mulut gadis kecil itu.
Adley menatap tuan Dom, ia terlihat meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan keponakannya yg tak biasa.
Tuan Dom hanya membalas dengan senyuman laku ia berkata "Kiera, mengobrolah bersama pamanmu, papi akan membangunkan mamimu. "Ujar tuan Dom memilih pergi untuk menghindari pertanyaan putrinya yg dewasa sebelum waktunya itu.
"Ya, "Jawab Kiera, "Orang dewasa memang aneh, "Komentar Kiera bergumam namun masih dapat di dengar oleh papinya dan juga Adley.
"Apa kau akan secepatnya memiliki adik? "tanya Adley setelah melihat tuan Dom masuk kedalam kamarnya, ternyata Adley penasaran dengan apa yg Kiera katakan tadi, ingin bertanya yg lebih namun ia takut dan sungkan pada kakak iparnya.
"Ya, Papi dan mami mengatakan akan segera memberikanku adik bayi. tapi mereka tidak menjanjikan adik bayi laki-laki atau perempuan, kemaren aku meminta adik bayi dua, laki-laki dan perempuan, namun mami mengatakan jika mami hanya dapat memberi satu adik bayi, dan jika menginkan adik bayi yg lain mesti menunggu lagi, mami bilang adik bayi hanya dapat di buat satu-satu tidak dapat di buat segaligus. "Celoteh Kiera menceritakan apa yg maminya katakan kemaren
Adley tersenyum, ia membayangkan betapa konyolnya kakaknya itu saat menjelaskan periahal apa yg ia dengar dari keponakannya saat ini, "Aku yakin, sewaktu kakak menjelaskan semua ini, wajahnya pucat di bareng helaan napas, hahaha, tapi jika benar yg di katakan Kiera, aku senang mendengarnya, akhirnya kakak dapat bahagia dan memutuskan untuk memberikan adik untuk Kiera, aku yakin di balik sikap dingin dan arogant tuan Dom, dia memiliki hati yg baik dan penyayang, aku dapat melihat itu ketika Samuel mencoba menculik Kiera, tuan Dom terlihat khawatir kepada Kiera, dan dia juga dapat mendengarkan apa yg di katakan kakak, karena yg aku tahu, jika tuan Dom sudah berkhendak maka semuanya akan terjadi, tapi waktu itu tuan Dom memilih mendengarkan kak Aae dibandingkan membunuh Samuel. "Ucap Adley dalam hati.
"Paman, ada apa? "tanya Kiera bingung melihat pamannya diam dengan tatapannya menuju pintu kamar milik papi dan maminya.
Dan seketika bayangannya pun lenyap saat suara keras milik keponakannya berdengung keras di telinga kirinya. "Eh.. hehe maaf... paman sedang memikirkan wajah adikmu nanti, kira-kira akan mirip siapa ya? "dalih Adley
"Tentu akan mirip denganku, "Sahut Kiera bangga dengan dirinya sendiri.
"Tapi paman berharap adikmu mirip dengan paman, "goda Adley.
"No, paman, aku tidak mau memiliki adik yg lebih tua dariku, lagi pula paman tidak imut, aku tidak mau memiliki adik yg wajahnya mirip paman. "Tolak keras Kiera.
"Hahaha, "Adley tertawa keras saat melihat penolakan keras keponakannya.. "Kau itu, lagi pula mana mungkin adikmu mirip dengan paman, memang yg membuat paman "Balas Adley tertawa senang telah membuat keponakannya kesal, ia senang dapat melihat keponakan cerewetnya kembali ceria dan banyak bicara.
Kiera memiliki sifat kedua orang tuanya, banyak bicara seperti maminya, Pintar dan suka menilai orang lain seperti papinya. namun Kiera tetap anak yg selalu mengerti dan dapat menghidupkan suasana.
"Hei, apa yg kalian tertawakan? kalian tertawa sangat keras hingga terdengar kedalam kamarku. "Komentar Aaera saat setelah keluar dari kamarnya.
"Kak, "Adley langsung memeluk kakaknya. "bagaimana keadaanmu? "tanya Adley.
"Aku baik.
"Paman khawatir dengan mami, karena mami kelelahan setelah membuat adik bayi. "Celetuk Kiera polos mengadu.
"Hah.."Wajah Aaera seketika memerah, malu.. ia sangat malu, bagaimana mungkin Kiera tahu jika dirinya dan tuan Dom melakukan itu tadi malam. "Kie, apa yg kau bicarakan! "Tegur Aaera membekap mulut putrinya.
"Eumm-eumm. "Kiera mencoba melepaskan tangan maminya yg membekap mulutnya.
"Aae, apa yg kau lakukan? "dengan khawatir tuan Dom langsung menghampiri Kiera dan Aaera, setelah itu menyingkirkan tangan Aaera yg membekap mulut putrinya. "Apa kau gila! kau bisa membunuhnya. "Komentar tuan tak suka.
"Lagian dia bicara hal yg -- "Aaera menjeda ucapannya, kemudian menatap kesal kepada suaminya. " Oh sekarang aku tahu, kau pasti yg sudah mengatakan pada Kiera jika semalam kita sudah mencicil membuat adik buat Kiera, "Ucapnya keluar begitu saja.
Adley tersenyum melihat dan mendengar kepolosan kakaknya, berbanding balik dengan tuan Dom yg menahan malu saat istrinya berkata dengan santainya semalam telah mencicil membuat adik untuk Kiera, wajahnya memerah takala pandangannya bertabrakan dengan Adley, ia mengeguk salvianya berulang-ulang.
__ADS_1
"Ayolah Aaera, aku tau kau itu bodoh, tapi bisakah hal intim tidak kau umbar dihadapan Adley dan putrimu sendiri. "Ucap tuan Dom dalam hati, rasanya ia ingin menarik istrinya dan membuat pelajaran berharga untuk istri bodohnya itu, agar istrinya mengerti mana yg harus di bicarakan dan mana yg harus dia simpan.
Aaera menatap bergantian suami dan adiknya, ia terlihat heran karena diantara tiga orang dihadapannya tidak ada yg bicara, namun setelah beberapa detik kemudian ia baru teringat dengan apa yg ia katakan tadi, dengan senyuman bodohnya Aaera menyengir, "Dley, maksudku- "Ujarnya hendak berdalih.