Tuan Dom

Tuan Dom
Hanya kematian yg pantas


__ADS_3

Tuan Dom menarik napas kemudian bicara. "Adley saat ini-- "tuan Dom nampak bingung harus bicara apa.


"Ada apa dengan Adley? " Aaera bertanya takala melihat raut wajah suaminya yg terlihat bingung, ia bertanya dengan mata yg berkaca-kaca.


"Ayahmu membawa Adley, "jawab tuan Dom singkat.


"Hah, "Aaera menutup mulutnya tak percaya, "Tidak, tidak mungkin, beberapa saat tadi Adley dari sini, dia pasti berbohong, iya dia pasti berbohong, Adley pasti baik-baik saja, aku akan menghubunginya, "Ujar Aaera panik dengan lelehan air mata yg terus mengalir.


"Aae, "Tuan Dom menarik tubuh Aaera dan memasukannya kedalam pelukannya. "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, ayahmu tidak akan menyakiti Adley, kamu tidak perlu khawatir. "Ujar tuan Dom mencoba menenangkan Aaera.


"Kalian tidak mengenal dia, dia adalah pria brengsek yg tak memiliki hati, tapi kenapa dia menangkap Adley? sedangkan dia sudah mendapatkan uang dari Adley, "Ucap Aaera menangis di pelukan tuan Dom.


"Sstt..aku akan menemuinya sekarang, diam dan jaga Kiera, ingat jangan melakukan hal bodoh, jangan pernah keluar dari Manson, aku akan pergi menjemput Adley, dengarkan aku baik-baik. "Tuan Dom merengkuh kedua pundak Aaera lalu menatapnya. "Ingat pesanku, apapun yg terjadi, jangan tinggalkan manson. "lanjutnya mengulang perkataannya.


Aaera mengangguk patuh dengan uraiyan air mata, "Tolong berjanjilah untuk membawa Adley kembali, "Pinta Aaera dengan tatapan permohonan.


"Hmm, aku berjanji. "jawab tuan Dom.


"Tuan Dom, bolehkah aku ikut dengan anda. "Ujar Samuel menawarkan diri.


"Tetaplah disini, tolong temani Aaera dan Kiera, dan satu lagi, jangan mengambil keuntungan dari kesempatan yg ku berikan, "Ucap tuan Dom datar.


"Hm, baiklah. "jawab Samuel singkat.


*


*


*


Setelah mendapat lokasi dimana markas ayah Aaera berada, tuan Dom langsung pergi mendatangi tempat tersebut, ia akan menemui ayah Aaera yg saat ini telah menjadi ayah mertuanya itu. ia akan bicara baik-baik terlebih dahulu dengan ayah mertuanya itu, setelah melihat keadaan Adley, baru ia akan melakukan sesuatu.


Suara tepuk tangan menggema di ruangan luas yg menjadi tempat dimana ayah Aaera berkumpul bersama anak buahnya. "Tuan Dom, orang yg sangat berpengaruh di kota ini, dan sekarang menjadi menantuku, kejutan yg luar biasa. "Ucapnya tersenyum santai menghampiri menantunya.


Tuan Dom nampak melihat ayah mertuanya itu dengan tenang, dan tak lama ia menyunggingkan senyum takala perhatiannya mengarah dimana ayah mertuanya sedang duduk dengan kaki di balut dengan perban, ia semakin menyunggingkan senyum lebarnya saat mata indahnya menatap kursi roda yg saat ini sedang diduduki oleh ayah mertuanya itu. "Sepertinya untuk berdiri pun kau tak mampuh. "Cibir tuan Dom tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Ya, dan karena ini kau harus membayarnya. "


"Apa kau tidak takut aku akan mematahkan kaki sebelah kananmu yg masih berpungsi itu, "Ujar tuan Dom tersenyum samar.


Ayah Aaera yg tersenyum tersenyum msam. "Kau terlihat begitu tenang walau saat ini kau terkepung di tempatku, "


Tuan Dom mengedikan bahunya, ia terlihat tenang dan santai. "Harus kau tahu, kota ini adalah kota kekuasaanku, tidak ada yg aku takutkan di kota kekuasanku sendiri, mungkin kata-kata takut lebih pantas untukmu, sebaiknya kau simpan kata itu untuk mu sendiri. "jawabnya tenang.


"Dimana Adley ? "lanjut tuan Dom bertanya.


"Kau akan bertemu dengannya setelah kau memberikan sertifikat lahan perbatasan yg ku minta,


"Menurutku Adley tidak seberharga itu, lahan itu ber harga sangat fantastic, apa mungkin aku harus menukar lahan berharga hanya dengan orang lemah yg hanya bukan siapa-siapa menurutku.


"Hah, jika Adley bukan siapa-siapa bagi kau dan juga Aaera, untuk apa kau repot-repot datang kesini? Adley adalah adik yg berharga untuk Aaera, bahkan jika Aaera harus memilih kematian antara adley dan dirinya Aaera akan berpasrah diri menerima kematiannya.


"Cukup basa basinya, mana sertifikat itu,? "lanjut ayah Aaera yg sudah mulai bosan berbasa basi, ia lekas meminta sertifikat yg akan menjadi pertukaran untuk Adley.


"Kau begitu tidak tahu diri, bagaimana bisa putramu sendiri kau jadikan bahan pertukaran. "Ujar Dom mulai marah.


"Bermimpi lah hingga kau mati, karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkannya. "gumam tuan Dom tersenyum samar.


"Kau ingin sertifikat itu! baiklah.. bawa Adley kehadapanku, setelah itu akan ku berikan sertifikat itu. "jawab tuan Dom mencoba tenang saat bernegosiasi.


Tanpa menunggu lama ayah Aaera menepukan tangannya sebanyak dua kali, lalu dua anak buahnya datang dengan menggotong Adley yg tak sadarkan diri. Tuan Dom yg melihat keadaan Adley hendak menghampirinya, namun sebelum ia melangkahkan ia mengurungkan niatnya, "Aku tidak boleh gegabah menghadapi manusia licik seperti dia, menghadapi manusia sepertinya harus dengan pikiran tenang. "gumam tuan Dom.


"Byuuurr. "Satu ember air di guyurkan ketubuh Adley oleh ayahnya sendiri.


"Uhukk-uhuk.. "Adley terbatuk saat tersadar dari pingsannya, ia nampak melarikan pandangannya keseluruh ruangan, ia nampak terkejut saat matanya menangkap tuan Dom ada dihadapannya. "Tuan. "Gumamnya pelan.


"Kau bisa membawa sampah itu pergi dari sini, tapi setelah kau menyerahkan sertifikat itu. "Ujar ayah Aaera santai.


"Brengsek. "Ucap Adley marah. "Kau jadikan aku pertukaran untuk kepentingan dirimu sendiri, "Lanjut Adley berdiri hendak menghampiri ayahnya, namun sebelum sampai anak buah ayahnya menendang keras kakinya hingga ia kembali tersungkur.


"Hah, dasar lemah tidak berguna. "Ujar ayahnya mencibir.

__ADS_1


Tuan Dom yg menyaksikan hal demikian menggempakan tangannya, pantas istrinya tadi begitu cemas dan takut mendengar Adley ditangkap oleh ayahnya sendiri, ternyata pria yg ber status ayah ini, begitu brengsek.


Ia mengedipkan matanya memberi isyarat kepada anak buanya untuk segera melakukan rencana yg telah mereka susun.


Dengan gerakan cepat tuan Dom dan anak buahnya menebak satu persatu anak buah ayah Aaera, dan hanya dalam waktu beberapa menit saja seluruh anak buah ayah Aaera terkapar lemah, tuan Dom beserta anak buahnya tak menembak mati anak-anak buah ayah Aaera, anak buah tuan Dom hanya menembak bagian bahu dan tangan saja, itu semua atas perintah tuan Dom. semenjak kejadian penembakan yg ia lakukan kepada Samuel, Aaera meminta dirinya agar tak membunuh lagi, dan tuan Dom mengikuti apa yg diminta oleh Aaera.


"Hanya tersisa dirimu, "Ucap tuan Dom pada ayah mertuanya mendekat.


Ayah Aaera nampak santai, kemudian dengan gerakan cepatnya memutar kursi roda, lalu menarik Adley, ayah Aaera mengarahkan sembilah pisau tepat di leher Adley. "Jika aku tidak bisa mendapatkan sertifikat dan harus mati, maka aku akan mengajak putraku untuk mati bersamaku, karena dengan itu, kau juga tidak akan lepas dari kebencian Aaera, Aaera akan membencimu, karena kau tidak bisa menyelamatkan adik kesayangannya. jadi bersiaplah untuk kehilangan Aaera, seperti aku kehilang nyawaku, dan di waktu bersamaan aku akan tertawa melihat kesedihan mu di neraka sana. "Ejek ayah Aaera tersenyum puas melihat ekpresi wajah tuan Dom yg terlihat menegang.


Tangan tuan Dom merambat ke arah pinggangnya, dengan perlahan ia mengambil benda yg terselip di pinggangnya, dengan cepat benda itu meluncur tepat di bagian tangan yg sedang menggenggam pisau yg sedang di arahkan kepada Adley.


"Aaahhh. "Suara jeritan terdengar menggema, takala sebuah pisau menusuk tepat di tangan kanan ayah Aaera.


Adley langsung melarikan diri saat ayahnya lengah. Namun beberapa saat kemudian Adley kembali mendekat, dadanya naik turun marah kesal bercampur menjadi satu, ingatan pada perkataan ayahnya tadi kembali berputar di kepalanya. "Brengsek " satu pukulan mendarat indah di wajah tua ayahnya.


"Kau manusia laknat, bahkan demi ke egoisan dan keserakahanmu, kau jadikan aku sebagai pertukaran, bahkan dengan rasa tak ber prikemanusiaanmu kau hendak menyakiti kakakku, brengsek, brengsek. "Adley memukul wajah ayahnya secara membabi buta. ayahnya terlihat lemas matanya sayup-sayup hendak tertutup, hidung, mulut, serta pelipis mengeluarkan darah akibat pukulan yg diberikan oleh Adley, setelah Adley puas memukul wajah beserta tubuh ayahnya ia terkulai di lantai, ia menangis, bagaimana bisa ia memiliki seorang ayah seperti ayahnya ini.


Adley kembali bangun ia memandang marah wajah ayahnya, bayangan ayahnya yg selalu memukul ibunya, bayangan ayahnya yg selalu memperlakukan buruk kakaknya dan dirinya dulu, bayangan itu kembali berputar, . bahkan diwaktu usia kakaknya lima belas tahun kala itu ayahnya hendak menjual kakanya hanya untuk berjudi, "Terlalu banyak luka yg kau berikan pada ibu, kakak dan diriku, kau harus mati, dengan kau mati semua rasa sakit yg ibu rasakan akan terbayar. "Ujar Adley menggempalkan tangannya hendak kembali meninju wajah ayahnya. gempalan tangannya tertahan di udara, ia teringat akan kakaknya yg dulu banyak menderita karena perbuatan ayahnya.


"Kau lebih pantas mati di tangan kakak, hanya kematian yg pantas untukmu, aku akan membawa kakak dan menyuruhnya untuk menembak kepalamu. "Lanjut Adley berjalan menuju luar, kemudia mengemudikan mobilnya dengan kencang.


Setelah kepergian Adley, tuan Dom mendekat kepada ayah mertuanya itu, "Kau berurusan dengan orang yg salah, jujur, jika bukan karena Aaera, sudah ku pecahkan kepalamu "Ujar tuan Dom.


Ayah Aaera hanya dapat memandang menantunya dengan tatapan sayu, tatapannya yg tajam, ucapannya yg sombong tadi berganti dengan ketidak berdayaan.


"Mana dirimu yg sombong dan angkuh tadi? tadi kau begitu sombong mengatkan jika kau adalah pemimpin disini, "Cibir tuan Dom di tengah tak berdaya ayah mertuanya.


*


*


*


Setelah lima puluh menit, Adley kembali lagi beserta Aaera, Aaera nampak takut saat melihat rintihan puluhan orang yg sedang terkulai lemas di lantai dengan berbagai luka tembakan . ia menatap bingung adiknya, untuk apa adiknya membawa dirinya ke tempat mengerikan seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2