Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
10


__ADS_3

"Maksudnya?" tanyaku tak senang.


Aura hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Bukan apa-apa." jawabnya lembut.


"Apa kamu dan Virgo pernah pacaran sebelumnya?" tanyaku dengan menajamkan mataku.


"Tidak, aku dan kak Virgo tidak pernah terikat hubungan seperti itu."


"Jadi maksudmu itu apa?" tanyaku sengit.


"Hey, kalian lagi bahas apa?" tanya Virgo yang tiba-tiba kembali.


Ku hela nafas dan mengambil roti yang di bawa oleh Virgo, memakannya dengan kasar. Kesal dengan ucapan wanita ini yang semakin membuat aku penasaran.


"Tamy kamu kenapa?" tanya Virgo lembut.


"Aku lapar, lama sekali bisnya aku ingin makan enak dirumah." jawabku ketus


Virgo hanya melepaskan senyumnya dan merangkul bahuku dengan manja.


"Dasar perut karet, makannya kalau gak banyak gak nendang ya?" tanya Virgo meledek.


"Kamu yang aku tendang, mau?" ku hempaskan tangan Virgo dari bahuku.


"Ha ha ha, tendang ke dalam hatimu aku mau."


Tak ku pedulikan lagi celotehan Virgo, hatiku keburu panas mendengar ucapan Aura. Entah apa maksudnya, jika ia ingin mengompori aku, selamat ia berhasil membuat aku panas.


Tak lama bis yang kami tunggu datang. Dengan cepat aku menaiki bis itu, sementara Virgo memapah tubuh Aura yang lebih tinggi dariku.


Dasar lemah, suka sekali meminta belas kasihan hanya untuk hal seperti itu.


Virgo mendudukan Aura di sebelahku, seketika mataku mebulat sempurna. Memandang wajah pucat Aura yang sedikit menyeringai.


"Kenapa harus duduk di sebelah aku?" tanyaku sengit.


"Kenapa? gak boleh?" tanya Virgo yang duduk tepat di belakang kami.


"Enggak, aku gak mau. Banyak kursi kosong, kenapa gak cari tempat lain?" tanyaku ketus.


"Tamy, biar aku bisa jaga kalian berdua sekaligus." jawab Virgo lembut.


"Aku gak perlu di jagain, aku bisa jaga diri sendiri. Gak lemah seperti dia." ucapku sambil bangkit dan pindah kursi ke sisi jendela yang lainnya.


Ku silangkan kedua tanganku di dada, memandang keluar jendela dengan sedikit kesal.


Virgo menghela nafasnya, melihat aku yang pindah ke jejeran seberang bis.


"Kak, sepertinya Tamy gak suka sama aku ya." ucap lembut wanita itu.


"Tamy memang begitu, jangan di masukin ke hati ya." balas Virgo lembut.


"Kalau mau masukin ke hati juga gak masalah." balasku sengit.

__ADS_1


"Tamy." panggil Virgo lembut.


Kembali ku silangkan tanganku di dada, muak sekali berada dalam satu bis dengan wanita itu.


"Kamu kenapa sih, Sayang?" tanya Virgo kembali, ia duduk di sebelahku dan mengelus pucuk kepalaku lembut.


Ku hempaskan tangan Virgo dan kembali menatap keluar jendela.


"Kamu jangan seperti itu sama Aura, dia lagi sakit, kasian dia ..."


"Aku tak perlu kasihan sama orang yang selalu menggunakan kelemahananya untuk memohon iba orang lain." putusku langsung.


Ku alihkan pandangan mataku dan menatap ke arah Aura.


"Tamy jangan ngomong seperti itu."


"Virgo, kamu harus tahu, banyak orang yang memiliki sakit lebih berat dari dia. Tapi mereka tidak mau terlihat lemah, apalagi hanya mengiba kasihan pada orang lain."


"Tamy, kenapa kamu bicara sekasar itu sama aku? memang aku salah apa sama kamu?" tanya Aura sendu.


"Tamy, kenapa sekarang kamu kasar sekali? apa salah Aura sama kamu?" tanya Virgo padaku.


Ku palingkan wajahku kearah luar jendela. Salah dia, karena dia menghidupkan api dalam hatiku.


Pintar sekali dia menggunakan ekspresi lemahnya itu. Semakin benci saja aku dengannya.


"Tamy, kamu gak seperti ini sebelumnya, kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Aku hanya gak suka sama Aura, memang aku butuh alasan untuk itu?" tanyaku sengit.


"Sudahlah, aku gak betah terlalu lama berada di satu bis dengannya. Kamu antar saja dia, aku bisa pulang sendiri." aku langsung berlari keluar saat bis berhenti di halte selanjutnya.


"Tamy, Tamy, tunggu!" tahan Virgo yang ikut keluar.


"Kamu tadi dengar sendiri kan, Mike yang minta aku antar Aura, bukan aku yang mau. Please, jangan marah terus sama aku."


"Aku gak marah, pergilah." ku dorong kembali badan Virgo ke bibir pintu bis.


Ku stop sebuah ojek yang melintas di depanku, dan dengan cepat pergi meninggalkan Virgo dan Aura.


Ku hela nafas saat berada di boncengan motor ojek. Ku lihat pantulan bayangan Virgo dari kaca spion ojek ini. Maaf, Virgo, aku gak sanggup melakukan sandiwara seperti Aura.


Karena waktuku gak cukup banyak jika hanya untuk bersandiwara dengannya. Aku gak bisa terus-terusan di dekatmu dan menjadi semakin di benci olehmu karena terlalu kasar padanya.


Ku tutup pintu kamar dengan sedikit membanting dan naik keatas kasur. Membenamkan wajahku diatas bantal, aku hanya ingin menumpahkan semuanya.


Menumpahkan seluruh kekesalan dan juga kesedihan yang berusaha aku tahan beberapa hari ini.


***


Ku masuki gerbang sekolah dengan berjalan sedikit malas. Aku rasanya gak ingin kesekolah karena kedua mataku sembab, menangis semalaman karena wanita itu.


Ku hela nafas lelah dan duduk di kursi koridor. Tak lama Aura muncul dari balik gerbang berjalan dengan lemas.


"Halah, dia lagi." ucapku malas.

__ADS_1


Ku palingkan wajahku kesisi lain, tak lama berselang Aura kembali jatuh pingsan.


Aku berlari mendekati Aura, ku pangku kepala Aura dan menepuk lembut pipinya.


"Aura, Aura. Ayo bangun!" ucapku panik.


"Aura, Dek." panggil Kak Mike yang baru datang dan langsung masuk ke kerumunan orang-orang.


"Tamy, Aura kenapa?" tanya kak Mike bingung.


"Aku gak tahu kak, tadi dia langsung pingsan saat baru datang."


"Tunggu sebentar, aku panggil taksi untuk bawa Aura kerumah sakit."


Ku elus dahi Aura beberapa kali dan menepuk lembut pipinya. Aku memang benci dia, tapi bukan berarti aku tak memiliki hati nurani juga.


Tak lama kak Mike kembali dan menggotong Aura ke dalam taksi, pergi dengan cepat saat Aura sudah masuk kedalam taksi.


"Tamy ada apa?" tanya Kak Jerry yang baru datang.


"Aura pingsan kak."


"Lagi?"


"Iya."


"Seharusnya dia gak perlu kesekolah kalau gak kuat, iyakan."


Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Berjalan bersisian dengan kak Jerry.


"Kamu sama Virgo bagaimana?" tanya Kak Jerry kembali.


"Bagaimana apanya? ya seperti itulah." ucapku mengelak.


"Begitu apanya? terakhir aku


lihat kamu marah sama dia, kenapa?" tanya kak Jerry menggoda.


"Kenapa apanya? gak apa-apa kok."


"Ah yang benar?" tanya kak Jerry tak percaya.


"Benar, kalau gitu aku duluan ya kak." putusku langsung.


Saat ingin berlari aku menabrak seorang teman, tak sengaja tasku jatuh dan sebagian isinya berhamburan keluar.


"Tamy, kamu gak apa-apa?" tanya kak Jerry yang ikut membantu membereskan isi tasku.


"Iya, gak apa-apa, Kak." ku masukan dengan cepat beberapa alat make up dan juga peralatan yang lainnya.


Tangan kak Jerry berhenti saat ia meraih lempengan obat dari dalam tasku.


"Tamy, ini apa?" tanya kak Jerry sambil mengangkat lempengan obat itu.


Sejenak ku pejamkan mataku dan menarik nafasku dengan berat.

__ADS_1


'Mati aku kalau kak Jerry tahu, itu ...'


__ADS_2