Untukku Dan Dia

Untukku Dan Dia
16


__ADS_3

Setelah tiga puluh menit menunggu, Virgo datang mengendari motor matic miliknya. Virgo tersenyum dan memakaikan jaketnya padaku.


"Lama ya?" Tanya Virgo lembut.


"Iya, lama. Aku sudah lapar," jawabku sendu.


"Dasar, kamu ini, perut saja yang di pikiri."


Ku ambil helm yang di sodorkan oleh Virgo dan menaiki boncengan motornya. Virgo menarik kedua tanganku dan melilitkan ke pinggangnya.


"Pegangan yang kenceng, atau gak nanti kamu bisa jatuh," ucap Virgo lembut.


"Iya," jawabku mengalah.


Ku gulum senyum dan menempelkan kepalaku di bahu Virgo. Ku hela nafas dengan sedikit lega, syukurlah Virgo, jika kamu masih sangat menginginkan diriku.


Tak jauh dari rumah sakit Ayah, Virgo memberhentikan motornya di warung nasi pinggir jalan. Ku tatap tulisan besar yang ada di pintu masuk warung ini.


"Virgo, ini?" Tanyaku bingung.


"Kamu bilang, kamu lapar kan? kita mampir kesini buat makan, tenang makanannya bersih kok." Virgo menarik tanganku untuk segera masuk.


Sudah ada beberapa orang teman Virgo yang menunggu di dalam. Dasar Virgo ini, saat kumpul dengan teman-temannya juga masih sempat bawa aku kesini.


"Hai, Tamy." Sapa mereka saat melihat Virgo membawaku kedalam.


"Hai," jawabku lembut.


Virgo menarik sebuah kursi untukku, ku gulum senyum dan duduk di jejeran meja panjang yang isinya lelaki semua.


"Sudah malam kok masih pakai seragam SMA, Tamy kamu kemana saja?" Tanya salah seorang teman sepermainan Virgo.


"Aku baru pulang dari rumah sakit," jawabku lembut.


"Siapa yang sakit?" Tanya kak Jerry penasaran.


"Bukan siapa yang sakit, tapi Ayahnya Tamy bekerja di rumah sakit," jawab Virgo ketus.


"Tamy, Ayah kamu Dokter?" Kali ini kak Donny yang bertanya.


"Iya."


"Kok aku gak tahu ya?"


"Terus kalau kamu tahu, kamu mau apa?" Tanya Virgo sengit.


"We ... Santai lah Bro. Aku hanya terkejut saja, gak perlu nge gas juga."


Sementara Virgo dan kak Donny bertengkar berdua. Ku alihkan pandanganku ke jejeran makanan yang tersedia diatas meja.


Tanpa sengaja mataku bertemu dengan kak Mike. Tak ku sadari, dari tadi kak Mike memandangiku terus tanpa menoleh sedikitpun.


Aku tak tahu makna apa di balik tatapan matanya itu, namun seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan lewat tatap matanya itu.


Apa kak Mike sudah tahu ya, perperangan antara aku dan Aura?

__ADS_1


Lantas, peduli apa? sebelum aku tahu Aura suka dengan Virgo, toh aku juga sudah lebih dulu pacaran dengan Virgo.


Semakin aku mencoba untuk tenang, semakin ngerih pandangan mata kak Mike menatapku. Jujur saja, aku tidak nyaman saat di pandangi begitu.


Ku hela nafas dan meletakan alat makanku. Ku perhatikan kak Mike yang menundukan pandangannya saat aku melihat kearahnya.


Baiklah, kalau kak Mike memang sudah tahu masalahnya. Mari kita perjelas, agar Aura tahu, siapa diantara kami yang hanya datang sebagai penganggu.


"Kak Jerry," panggilku lembut.


"Hem, iya."


"Aku mau nanya sesuatu boleh gak?"


"Tanya saja."


"Itu, kenapa dulu kak Jerry malah pilih aku di antara murid baru, untuk menyatakan cinta buat Virgo?"


"Uhuuuk." Seketika Virgo terbatuk dan hampir mengeluarkan isi di dalam mulutnya.


Dengan cepat tangan Virgo meraih gelas dan meneguk jus miliknya.


"Oh, itu, sebenarnya Virgo yang nyuruh." Jawab kak Jerry dengan sedikit menyeringai.


"Kenapa? maksud aku, kenapa bisa aku?"


"Itu, aku juga gak tahu, kamu tanya Virgo saja. Kenapa dia minta kamu untuk nyatain perasaannya ke dia." Kak Jerry tersenyum kuda dan menggaruk kulit kepalanya.


"Karena dari awal ketemu kamu, Virgo sudah fall-fall sama kamu." Kali ini kak Donny yang ikut menjawab.


"Kamu lupa ya, sama cowok yang bantuin kamu lompati pagar di hari pertama kamu masuk sekolah dulu."


Ku garuk sudut dahiku, mencoba mengingat kembali. Aku tak mengingat wajah dari lelaki yang di bilang kak Donny itu, bahkan aku juga gak ingat kapan aku melompati pagar sekolah.


"Hah, ingatanmu payah, Tamy. Padahal Virgo saat itu masih menjadi ketua osis, tapi demi nyelamati kamu, malah ngikuti kamu lompat pagar."


"Eh," ku alihkan pandanganku kearah Virgo.


Virgo hanya menggaruk kulit kepalanya dan bersiul tak jelas. Membuang pandangan matanya kesana-sini.


"Virgo!" panggilku sedikit menekan.


Virgo melepaskan senyumnya dan melirik kearahku.


"Apa?" Tanya Virgo lembut.


"Ih jahat." Ku cubit lengan tangan Virgo sedikit keras, kesal melihat tingkahnya yang seakan-akan tak mendengar ucapan kak Donny tadi.


"Balik, yuk. Nanti Ayahmu nyariin lagi." Tarik Virgo lembut.


Ku raih tasku dan menyelempangkannya di bahu.


"Duluan ya."


"Eh, Virgo jangan nyasar ya, nanti lu bisa di suntik mati sama Bapaknya Tamy." Ledek kak Donny.

__ADS_1


Virgo memalingkan kepalanya dan mengejek kak Donny yang masih duduk di tempat semula.


Virgo merangkul bahuku dengan lembut dan berjalan santai menuju parkiran motor.


"Mau mampir ke suatu tempat dulu gak?" Tanya Virgo sambil memakaikan helm di kepalaku.


"Hem, boleh. Tapi gak lama kan?"


"Enggak, kamu kirim pesan saja dulu ke Ayah kamu. Lagian besok sabtu, pulang telat sedikit gak apa-apa kan?"


"Iya." Jawabku mengalah.


Virgo melajukan motornya dengan kecepatan sedang, menembus jalanan malam yang mulai padat kendaraan. Virgo memberhentikan laju motornya di taman pusat kota, menikmati semilir angin dengan hiasan lampu dari air mancur di tengah taman.


Ku hela nafas dan ku pandangi air di dalam kolam. Ku sentuh permukaan air itu, dan sedikit tersenyum.


"Tamy."


"Hem."


"Kancing jaketnya sampai keatas, nanti dipikir orang, aku nyulik anak SMA lagi."


Aku tersenyum simpul dan menarik kancing jaket itu sampai keatas. Berjalan mendekati Virgo dan duduk tepat di sebelah Virgo. Ku tatap wajah Virgo dari jarak yang lumayan dekat.


"Virgo."


"Iya."


"Aku kok gak ingat ya, kapan aku lompati pagar bareng kamu?"


"Aku sih gak heran."


"Virgo, aku serius!"


Virgo tersenyum simpul dan mengalihkan pandangannya kearahku.


"Jadi mau bagaimana? kalau gak ingat yasudah," jawab Virgo datar.


Ku manyunkan bibirku dan menjatuhkan kepalaku di bahu Virgo. Sesekali aku melepaskan nafasku sambil menatap kosong ke air pancur tengah taman.


"Virgo, aku minta maaf jika selama ini terkesan acuh padamu. Andai kamu tahu, aku tidak pernah mengacuhkanmu. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana memperlakukanmu dengan lembut."


"Sudahlah, Tamy. Aku tahu karakter kamu, kamu orang yang terus terang dan juga ceria. Aku tidak mempersalahkan masa lalu denganmu."


"Virgo," panggilku lembut.


"Hem."


"Apa kamu menyanyangiku?" Tanyaku sambil menatap lekat kewajah Virgo.


"Bukan hanya sayang, Tamy. Tapi aku cinta, aku peduli, dan aku sangat suka padamu."


"Virgo, bagaimana jika ada wanita lain yang menginginkanmu?" Tanyaku lembut.


"Siapa yang begitu bodoh? bisa suka sama aku yang jelas-jelas sudah memiliki kamu?"

__ADS_1


"Bagaimana jika aku bilang wanita itu adalah Aura."


__ADS_2